Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kini tengah mengalami tekanan, hingga menembus level atas Rp 16.910/US$ saat pembukaan perdagangan pagi ini, Rabu (4/3/2026).
Pelemahan terhadap kurs rupiah pada hari ini sekitar 0,36% dari penutupan perdagangan kemarin yang bertengger di level Rp 16.850/US$. Secara nominal, mata uang garuda ambruk Rp 60/US$ pada pagi ini.
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengungkapkan, setiap pelemahan terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, memiliki efek langsung terhadap tekanan defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).
Ia mengatakan, pelemahan Rp 100 terhadap dolar AS berdampak sekitar Rp 0,8 triliun terhadap defisit. Ini sebagaimana kondisi ketika setiap kenaikan US$ 1 pada Indonesian Crude Price (ICP) berpotensi menambah defisit sekitar Rp 6,8 triliun dan kenaikan yield 0,1% surat utang pemerintah berpotensi menambah beban sekitar Rp 1,9 triliun ke APBN.
Meski begitu, Juda Agung menekankan, berdasarkan simulasi Kementerian Keuangan, dengan skenario yang cukup logis terkait tekanan kurs, harga minyak, hingga kenaikan imbal hasil surat berharga negara (SBN), defisit APBN pada tahun ini masih akan dikisaran 3%, tak melampaui batas aman dalam UU Keuangan Negara.
"Stress-test yang kami lakukan pada skenario yang cukup plausible itu menunjukkan bahwa defisit masih terjaga di bawah 3%, debt over GDP juga masih terjaga," ujar Juda Agung dalam forum Indonesia Economic Forum 2026 yang digelar di Jakarta, dikutip Rabu (4/3/2026).
Sebagai informasi, tekanan terhadap kurs pada pagi ini langsung membuat Deputy Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti buka suara. Ia menekankan, BI akan terus hadir di pasar dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar untuk mencegah dampak dari meluasnya konflik Timur Tengah.
Destry mengatakan intervensi yang tegas dan konsisten akan terus BI lakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian SBN di pasar sekunder.
"Pelemahan rupiah masih aligned dgn regional, secara MTD melemah 0,51%, relatif lebih baik dibandingkan regional. Cadangan devisa tetap terjaga di level US$ 154,6 milyar akhir Januari 2026 dan arus masuk modal asing di pasar keuangan domestik selama tahun 2026 tercatat sejumlah Rp 25,7 triliun," kata Destry, dalam pernyataan resmi, Rabu (4/3/2026).
Pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini masih banyak dipengaruhi oleh sentimen eksternal, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Situasi ini membuat ketidakpastian di pasar global meningkat tajam dan mendorong pelaku pasar cenderung menghindari aset berisiko.
Di tengah kondisi tersebut, dolar AS kembali menguat karena masih dipandang sebagai aset safe haven. Minat investor terhadap dolar pun meningkat seiring pasar global bergerak ke mode risk-off.
(arj/haa)
Addsource on Google

















































