Dolar AS Tembus Rp18.000-Eksportir Panen Duit Cuma Mitos? Ini Jawabnya

1 hour ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Pelemahan rupiah di hadapan dolar AS masih terus berlanjut. Bahkan, kini sudah tembus Rp18.000 per dolar AS. Pada perdagangan hari ini, Kamis (4/6/2026), data Refinitiv menunjukkan, per pukul 11.30 WIB, rupiah melemah 0,56% ke level Rp18.040/US$.

Pelemahan ini semakin dalam dibandingkan posisi sebelumnya. Pada pukul 09.11 WIB, rupiah sudah lebih dulu menembus level psikologis Rp18.000/US$ dan berada di Rp18.015/US$ atau terdepresiasi 0,42%.

Di tengah lonjakan dolar AS tersebut, muncul anggapan industri berorientasi ekspor akan menikmati keuntungan lebih besar karena pendapatan mereka sebagian besar diterima dalam mata uang dolar. Namun pelaku industri menilai banyak pembeli dari luar negeri lebih berhati-hati dalam melakukan transaksi.

"Kondisi global saat ini juga membuat buyer luar negeri cenderung lebih hati-hati dalam melakukan pembelian. Jadi walaupun kurs dolar naik, belum tentu otomatis meningkatkan keuntungan industri secara signifikan. Bahkan bagi banyak pelaku usaha, kondisi ini justru meningkatkan ketidakpastian cash flow dan memperberat perencanaan produksi," kata Ketua Umum HIMKI (Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia) Abdul Sobur kepada CNBC Indonesia, Kamis (4/6/2026).

Ketahanan industri tidak hanya ditentukan oleh dolar AS.

Faktor yang lebih menentukan justru berada di dalam negeri, terutama terkait efisiensi dan daya saing industri secara keseluruhan. Ia menilai industri yang memiliki fondasi kuat akan lebih siap menghadapi tekanan eksternal, termasuk ketika gejolak nilai tukar terjadi secara ekstrem seperti saat ini.

"Kalau ekosistem industrinya sehat dan efisien, maka industri akan lebih tahan menghadapi gejolak global apa pun, termasuk fluktuasi dolar AS," kata Sobur.

Lebih lanjut, Sobur mencontohkan bagaimana kawasan industri di China mampu menjaga daya saing meski menghadapi berbagai dinamika ekonomi global. Kekuatan utama mereka tidak semata berasal dari teknologi maupun kapasitas produksi yang besar.

"Kalau kami melihat langsung ke kawasan industri di China seperti Shandong maupun Xiamen, yang paling terasa sebenarnya bukan hanya soal teknologi atau besarnya pabrik, tetapi bagaimana seluruh ekosistem industrinya bekerja sangat disiplin dan efisien dari hulu sampai hilir. Korelasi dengan ketahanan terhadap gejolak kurs itu sangat kuat," ujar Sobur.

Indonesia sendiri dinilai memiliki modal yang tidak kalah besar untuk bersaing di pasar global. Ketersediaan bahan baku, kreativitas pelaku industri, hingga besarnya pasar domestik menjadi kekuatan yang dapat menjadi fondasi pertumbuhan jangka panjang.

Namun demikian, sejumlah hambatan struktural masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu segera diselesaikan agar industri nasional mampu meningkatkan daya saing dan memperoleh manfaat maksimal dari peluang ekspor.

"Sementara Indonesia sesungguhnya memiliki keunggulan bahan baku, kreativitas, dan pasar yang besar. Tetapi kita masih menghadapi tantangan klasik berupa biaya logistik tinggi, fragmentasi kebijakan, produktivitas tenaga kerja yang belum optimal, serta ekosistem industri yang belum sepenuhnya terkonsolidasi," ujar Sobur.

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |