Jakarta, CNBC Indonesia - Asosiasi Industri Minuman Ringan (ASRIM) meminta pemerintah mengambil langkah strategis dalam menjaga keberlangsungan industri minuman kemasan di Tanah Air. Pasalnya, pelemahan nilai tukar rupiah yang mencapai Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) membawa dampak signifikan terhadap bahan baku produksi.
Ketua Umum Asosiasi Industri Minuman Ringan (ASRIM), Triyono Prijosoesilo menjelaskan, tren pelemahan rupiah diproyeksikan akan berdampak pada peningkatan sekitar 10%-30% Cost of Goods Sold (COGS) industri, termasuk dengan estimasi kenaikan BBM, bahan baku (terutama impor), dan sebagainya. Mengingat, terdapat pelemahan kurs yang kurang lebih sekitar 90% dari awal tahun.
"Tentunya kembali ini sesuatu ranah pemerintah adalah bagaimana pemerintah bisa menjaga, jangan sampai kurs ini menjadi penurunan terlalu dalam. Karena itu akan berpengaruh kepada bahan baku," ungkap Triyono di sela acara konferensi pers Masa Depan Industri Minuman Kemasan Indonesia 2026 : Inovasi, Pertumbuhan dan Inovasi di Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Triyono menambahkan, potensi kenaikan harga minuman siap saji dalam kemasan cukup terbuka di tengah pelemahan rupiah, meski hal itu bersifat relatif. Sebab, selisih kurs saat ini semakin lebar dibandingkan dengan tahun sebelumnya dan pelaku usaha juga makin terbebani oleh peningkatan biaya produksi.
"Relatif lah, tergantung seberapa dalam ini penurunan kursusnya kan. Saat ini kalau menurut kami ya sekitar 10%-an masih bisa ditahan lah. Tapi berapa lama nahannya?," ucap dia.
ASRIM berharap nilai tukar rupiah bisa dijaga sehingga industri minuman siap saji dalam kemasan bisa melakukan perencanaan dengan lebih baik lagi. Sebab, fluktuasi nilai tukar pada dasarnya akan mengganggu perencanaan industri minuman siap saji nasional. Apalagi, beberapa bahan baku masih perlu impor.
Untuk itu, ASRIM menginginkan adanya kolaborasi yang lebih aktif dengan pemerintah guna menjaga agar iklim industri dan investasi. Dia juga memperkirakan akhir tahun nanti berpotensi menjadi momen kebangkitan industri minuman siap saji nasional lantaran bertepatan dengan periode natal dan tahun baru.
Bersamaan dengan itu, industri minuman kemasan juga menghadapi hambatan keberlanjutan usaha berupa rencana cukai MBDK, logistik dan energi, Front of Pack Labelling (FOPL), hingga potensi beban biaya tambahan. Bila dirinci, apabila cukai MBDK diberlakukan, maka terdapat risiko tambahan beban pajak di tengah penurunan volume penjualan yang sudah terjadi.
Dari sisi logistik dan energi, biaya distribusi antarpulau yang masih tinggi bakal menekan keterjangkauan produk minuman kemasan ke konsumen akhir. Berikutnya, kebijakan FOPL atau pemberian label nutrisi pada kemasan untuk mengendalikan konsumsi Gula, Garam, Lemak (GGL) dapat mempengaruhi kemampuan inovasi dari para pelaku usaha.
Sejalan dengan itu, Sekretaris Jenderal ASRIM, Tri Junanto Wicaksono membenarkan pelemahan rupiah ini secara langsung akan meningkatkan biaya produksi. Pasalnya, industri ini masih memiliki ketergantungan terhadap bahan baku dan kemasan impor.
"Sehingga bahan baku kita juga akan naik, biaya produksi COGM (cost of good manufactured) kita juga pasti akan naik gitu. Jadi pasti mempengaruhi dengan biaya operasional perusahaan juga," imbuh dia.
Melihat kondisi tersebut, para pelaku usaha minuman siap saji nasional berupaya mengurangi ketergantungan pada impor dengan memanfaatkan sumber lokal. Akan tetapi, pada faktanya bahan baku yang berasal dari dalam negeri masih belum bisa memenuhi kebutuhan industri secara keseluruhan. Mengingat, terdapat standarisasi tertentu yang perlu dipenuhi oleh pelaku usaha.
Pria yang juga menjabat sebagai Director of Corporate Affairs & Legal at PT Amerta Indah Otsuka tersebut menjelaskan, saat ini para pelaku usaha terus melakukan efisiensi terhadap biaya produksi sembari mengembangkan sumber lokal yang sesuai dengan standar perusahaan.
Meski demikian, Tri Junanto optimistis pertumbuhan industri minuman siap saji pada tahun ini tetap terbuka. Namun, kembali lagi pelaku industri juga tetap membutuhkan dukungan pemerintah dalam memberikan kebijakan-kebijakan yang berkesinambungan.
"Karena saat ini kita baru saja recovery, ya mohon untuk kebijakan-kebijakan seperti labeling dan juga cukai itu juga untuk sementara ditahan dulu dan harap bisa membantu kita untuk recover dulu," terangnya.
Dengan demikian, para pelaku industri minuman siap saji bakal terus beradaptasi melalui efisiensi internal, diversifikasi portfolio, serta berinvestasi pada inovasi produk, termasuk menghadirkan varian produk rendah gula. Hal ini dilakukan demi menjaga keterjangkauan produk terhadap konsumen, sekaligus memastikan roda ekonomi industri makanan dan minuman nasional tetap berputar.
(wur/wur)
Addsource on Google
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5501953/original/051963100_1770963638-collage-1770963016593.png)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5504391/original/040889300_1771234034-WhatsApp_Image_2026-02-16_at_16.07.54__1_.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5503685/original/018522300_1771207869-IMG_5126_1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5494769/original/017852300_1770340983-IMG_4607_1_.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5495267/original/070964000_1770362176-collage-1770361735577.png)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5496238/original/049857200_1770516142-SnapInsta.to_628251077_18560930053012162_3184567118963434244_n.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5517799/original/038484000_1772439698-IMG_5502_1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5503831/original/023595600_1771213974-collage-1771213135093.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5509795/original/044438600_1771758038-SnapInsta.to_639517660_18514687228077855_7982472988900909272_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5504902/original/070313200_1771311556-collage-1771310149668.png)