Dolar AS Ditendang di Mana-Mana: Won, Yen - Rupiah Berjaya

4 hours ago 7

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

08 April 2026 10:10

Jakarta, CNBC Indonesia - Hampir seluruh mata uang negara-negara Asia bergerak menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi ini, Rabu (8/4/2026). Seiring melemahnya indeks dolar AS (DXY) di tengah kabar meredanya tensi perang di Timur Tengah.

Merujuk data Refinitiv, per pukul 09.15 WIB, dari sebelas mata uang Asia yang dipantau, sepuluh mata uang menguat dan hanya satu mata uang melemah terhadap greenback.

Penguatan paling besar dipimpin won Korea Selatan yang naik 1,22% ke posisi KRW 1.478,4/US$. Baht Thailand menyusul menguat 1,2% ke level THB 32,07/US$, sementara peso Filipina menguat 1,14% ke PHP 59,51/US$.

Penguatan juga terlihat pada ringgit Malaysia yang naik 0,97% ke MYR 3,98/US$. Yen Jepang menguat 0,79% ke JPY 158,33/US$, diikuti dolar Singapura yang naik 0,57% ke SGD 1,27/US$.

Tak kalah juga, rupiah terpantau berhasil menguat hingga 0,56% ke posisi Rp16.995/US$ atau kembali turun dibawah level psikologisnya di Rp17.000/US$. Kondisi ini diharapkan mampu bertahan hingga penutupan perdagangan hari ini.

Selanjutnya, rupee India menguat 0,48% ke INR 92,39/US$, yuan China naik 0,36% ke CNY 6,83/US$, dan dolar Taiwan menguat 0,33% ke TWD 31,78/US$.

Sementara itu, satu-satunya mata uang yang masih berada di zona merah adalah dong Vietnam yang gagal bergerak positif dengan melemah 0,1% ke level VND26.331/US$.

Arah pergerakan ini selaras dengan pelemahan indeks dolar AS (DXY) yang pada waktu yang sama turun 0,95% ke level 98,914. Pelemahan dolar AS juga membuat DXY menyentuh level terendah dalam dua pekan terakhir, seiring membaiknya sentimen risiko global.

Dari sisi eksternal, dolar AS tertekan setelah Presiden AS Donald Trump menunda ancamannya untuk menyerang infrastruktur sipil Iran selama dua pekan. Trump menyebut langkah tersebut sebagai "double-sided ceasefire", dengan syarat Iran membuka kembali Selat Hormuz. Trump juga mengatakan AS telah menerima proposal 10 poin dari Iran yang dinilainya bisa menjadi dasar negosiasi.

Dalam perkembangan lainnya, Iran dilaporkan sepakat membuka kembali jalur strategis tersebut selama dua pekan asalkan seluruh serangan dihentikan. Israel juga disebut telah menyetujui gencatan senjata tersebut. Kombinasi kabar ini meredakan kekhawatiran pasar atas risiko gangguan pasokan energi global.

Pada akhirnya, meredanya tensi geopolitik tersebut mengurangi permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven, sehingga membuka ruang bagi mayoritas mata uang Asia untuk menguat pada perdagangan pagi ini.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
Photo View |