BRI di Tahun Pertama Hery Gunardi: CASA Ngebut, Profitabilitas Tebal

6 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia — Tepat setahun setelah dipimpin Hery Gunardi, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk semakin bertaji. Kombinasi mesin pertumbuhan yang berjalan semakin optimal membuat bank berhasil menjaga keseimbangan antara kehati-hatian dan ekspansi. 

Kombinasi tersebut mencerminkan pendekatan yang lebih terukur dalam mendorong pertumbuhan, sejalan dengan fokus manajemen pada bisnis yang berkelanjutan di tengah dinamika ekonomi global.

Sepanjang kuartal I-2026, BRI mampu mencatatkan pertumbuhan kredit yang solid, ditopang penguatan dana murah (CASA) serta perbaikan struktur biaya dana. Alhasil profitabilitas bank pun semakin tebal. 

Sebagai informasi, BRI memasuki fase kepemimpinan baru yang menjadi titik awal akselerasi transformasi perseroan pada awal 2025. Dalam hal ini, Hery Gunardi resmi diangkat sebagai direktur utama BRI melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 24 Maret 2025.

Dengan rekam jejak lebih dari 34 tahun di industri perbankan nasional, Hery dikenal sebagai bankir multidimensi yang terlibat langsung dalam berbagai agenda strategis. Mulai dari pendirian Bank Mandiri, (1998-1999), hingga menjadi pengambil keputusan penting di bank plat merah tersebut.

Adapun Hery mengatakan bahwa keberhasilan membawa kinerja BRI tumbuh dalam setahun terakhir tidak lepas dari strategi transformasi yang dijalankan secara disiplin dan fokus pada dana murah.

"Di tengah dinamika yang menantang, BRI mampu menjaga pertumbuhan sehat melalui transformasi yang serius dan penuh kehati-hatian," ujarnya dalam paparan kinerja kuartal I-2026, Kamis (30/1/2026).

Hingga akhir Maret 2026, total DPK BRI mencapai Rp1.555 triliun atau tumbuh 9,4% secara tahunan (yoy). Pertumbuhan ini ditopang oleh kinerja dana murah (CASA) yang semakin dominan.

CASA BRI tercatat sebesar Rp1.058,6 triliun, tumbuh 13,2% yoy. Peningkatan ini mencerminkan keberhasilan perseroan dalam memperkuat basis dana murah, yang menjadi kunci efisiensi biaya dana di tengah kompetisi likuiditas industri perbankan.

Direktur Network & Retail Funding Aquarius Rudiantoro menjelaskan kanal digital menjadi salah satu pendorong utama akumulasi dana murah.

Pengguna super app BRImo telah mencapai 47,8 juta atau tumbuh 18,6%, dengan volume transaksi tembus Rp2.042,2 triliun atau naik 29,4% yoy. Di sisi lain, transaksi berbasis QRIS juga melonjak 76% dengan volume transaksi mencapai ribuan triliun rupiah.

Selain itu, hingga kuartal I-2026, jumlah agen BRILink telah melampaui 1,18 juta agen yang tersebar di lebih dari 66 ribu desa, menjangkau sekitar 80% wilayah Indonesia.

Dari jaringan ini, volume transaksi mencapai Rp420 triliun, dengan rata-rata saldo CASA harian agen sekitar Rp30 triliun.

Di sisi lain, penguatan CASA juga ditopang oleh pendekatan berbasis ekosistem UMKM. Melalui platform LinkUMKM, BRI telah menjangkau lebih dari 15,5 juta pelaku usaha, didukung program Desa BRILiaN yang telah membina sekitar 5.000 desa serta Klasterku Hidupku dengan lebih dari 43 ribu kelompok usaha.

Pendekatan ini tidak hanya mendorong penyaluran kredit, tetapi juga mengikat arus kas pelaku usaha agar tetap berada dalam ekosistem BRI.

BRI juga memperkuat fondasi ultra mikro melalui holding UMi yang telah menjangkau lebih dari 34,2 juta nasabah, dengan total rekening simpanan mencapai 166,3 juta. Dari ekosistem ini, tercatat sekitar 1,2 juta debitur berhasil naik kelas.

Selain itu, inovasi produk seperti bullion dan tabungan emas turut memperkaya ekosistem, dengan total kepemilikan emas mencapai 22 ton di segmen ultra mikro.

Kombinasi digitalisasi, distribusi luas, dan integrasi ekosistem ini tidak hanya memperkuat struktur pendanaan, tetapi juga mendorong kinerja keuangan secara keseluruhan.

Adapun seiring dengan hal tersebut, biaya dana (cost of fund/CoF) BRI menunjukkan perbaikan signifikan, turun dari 3% menjadi 2,3% pada kuartal I-2026. Penurunan ini menegaskan efektivitas strategi CASA dalam menjaga struktur pendanaan tetap efisien.

Penguatan di sisi funding ini juga memberikan ruang bagi peningkatan profitabilitas. Net interest income (NII) BRI tercatat tumbuh 11,9% yoy menjadi Rp40,15 triliun.

Selain itu, efisiensi dan kualitas pendanaan turut berdampak pada rasio profitabilitas. Return on assets (ROA) meningkat dari 2,7% menjadi 2,8%, sementara return on equity (ROE) naik dari 17,1% menjadi 18,4%.

Pada akhirnya capaian tersebut tercermin pada kinerja bottom line perusahaan. BRI mengantongi laba bersih Rp 15,5 triliun sepanjang kuartal I-2026. Perolehan itu naik 13,74% yoy.

Kontribusi Besar Anak Usaha

Mesin bisnis BRI juga ditopang oleh kinerja ciamik anak usaha. Holding ultra mikro (UMi) kian memberikan kontribusi yang semakin nyata, tidak hanya dari sisi pembiayaan, tetapi juga profitabilitas dan ekspansi ekosistem.

Wakil Direktur Utama Viviana Dyah Ayu mengungkapkan, keberadaan holding UMi yang terdiri dari PT Pegadaian dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM), mendorong pertumbuhan yang terintegrasi dengan kualitas pembiayaan yang tetap terjaga.

"Secara keseluruhan, holding ultra mikro menunjukkan sinergi sebagai bagian dari transformasi BRIVolution Reignite, sekaligus menjadi sumber pertumbuhan baru (new sources of growth)," ujarnya.

Dari sisi kinerja, anak usaha dalam holding UMi mencatatkan lonjakan profitabilitas yang signifikan. Laba bersih Pegadaian tumbuh sekitar 244,3% menjadi Rp8,4 triliun, sementara PNM meningkat 34,8% dari Rp845 miliar menjadi Rp1,1 triliun pada tiga bulan pertama tahun ini.

Tak hanya laba, ekspansi nasabah dan penyaluran pembiayaan juga menunjukkan pertumbuhan impresif dengan kualitas kredit yang tetap terjaga.

Secara konsolidasi, kontribusi perusahaan anak terhadap laba BRI mencapai 28,49% hingga akhir kuartal I-2026.

Lebih jauh, sinergi dalam holding UMi juga memperkuat peran BRI sebagai motor inklusi keuangan nasional. Hingga kuartal I-2026, BRI telah menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp47,09 triliun, dengan sektor pertanian mendominasi sekitar 42%.

Selain itu, perseroan turut berpartisipasi dalam pembiayaan sekitar 3 juta rumah melalui penyaluran kredit subsidi, sekaligus memperluas akses pembiayaan bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

BRI juga aktif dalam berbagai program pemberdayaan ekonomi kerakyatan, termasuk pengembangan koperasi desa, bantuan sosial non-tunai, serta penguatan ekosistem ultra mikro.

Dari perspektif keberlanjutan, BRI terus mengarahkan portofolio ke pembiayaan yang berdampak sosial dan lingkungan. Hingga kuartal I-2026, porsi kredit berwawasan sosial mencapai 53% dari total portofolio, sementara pembiayaan berwawasan lingkungan mencapai Rp96,6 triliun.

Direktur Finance & Strategy Achmad Royadi mengatakan BRI masih memiliki ruang yang cukup untuk mendorong pertumbuhan kredit ke depan. Pasalnya rasio simpanan terhadap kredit (LDR) berada di posisi 87,22%.

"Masih ideal tidak terlalu ketat dan cukup untuk mendorong pertumbuhan kredit," katanya.

(mkh/mkh)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |