Breaking! Harga Emas Ambruk ke Level US$ 4500, Terendah Sebulan!

3 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas ambruk ke level terendah hampir empat pekan di tengah kekhawatiran inflasi yang terus berlanjut.

Investor khawatir setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump disebut tidak puas dengan proposal terbaru Iran untuk mengakhiri perang. Investor juga menanti rapat kebijakan moneter Federal Reserve pekan ini.

Merujuk Refinitv, harga emas pada perdagangan Selasa (28/4/2026) ditutup di US$ 4594,51 per troy ons. Harganya ambruk 1,867%. Artinya, dalam dua hari harga emas sudah jatuh 2,4%.

Harga penutupan kemarin adalah yang terendah sejak 30 Maret 2026 atau hampir sebulan terakhir. Pelemahan juga membawa emas ke level US$ 4500 untuk pertama kalinnya sepanjang bulan ini.

Harga emas masih melemah pada hari ini. Pada Rabu (29/4/2026) pukul 06.29 WIB, harga emas melemah 0,06% ke US$ 4591,37 per troy ons.

Harga emas spot merosot 1,7% menjadi US$4.600,61 per ons, setelah sebelumnya menyentuh level terendah sejak 2 April. Sementara emas berjangka AS ditutup turun 1,8% ke US$4.608,40 per ons.

"Ini kembali memunculkan pesimisme terhadap proses perdamaian di Timur Tengah. Pemerintahan Trump menolak tawaran terbaru Iran, sehingga Selat Hormuz tetap tertutup," kata Wakil Presiden sekaligus Senior Strategist Zaner Metals, Peter Grant, kepada Reuters.

Menurutnya, kondisi tersebut mendorong harga minyak naik dan menghidupkan kembali kekhawatiran inflasi menjelang rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Selasa dan Rabu pekan ini, sehingga menekan emas ke level terendah empat pekan.

Harga minyak mentah kembali naik pada Selasa kemarin. West Texas Intermediate (WTI) melonjak lebih dari 3% dan ditutup di US$99,93 per barel, sementara Brent naik 2,8% ke US$111,26 per barel.

Seorang pejabat AS mengatakan Trump tidak puas dengan proposal terbaru Iran terkait penyelesaian perang. Hal ini meredupkan harapan berakhirnya konflik yang telah mengganggu pasokan energi, memicu inflasi, dan menewaskan ribuan orang.

Harga minyak naik karena upaya mengakhiri perang Iran menemui jalan buntu dan membuat Selat Hormuz sebagian besar masih tertutup, sehingga menekan pasokan dari Timur Tengah. Pada saat yang sama, Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan keluar dari OPEC dan OPEC+.

Lonjakan harga minyak mentah memperbesar tekanan inflasi dan meningkatkan kemungkinan suku bunga tetap tinggi.

Meski emas dikenal sebagai lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga mengurangi daya tarik emas karena tidak memberikan imbal hasil.

Investor memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga pada rapat Selasa dan Rabu waktu AS. Pasar juga menanti komentar Ketua The Fed Jerome Powell terkait arah kebijakan selanjutnya. Powell akan mengumumkan kebijakan pada Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia.

Selain The Fed, pasar juga menyoroti keputusan bank sentral lain pekan ini, termasuk Bank Sentral Eropa (ECB), Bank of England, dan Bank of Canada.

Sementara itu, China, konsumen emas terbesar dunia, mencatat impor bersih emas dari Hong Kong sebesar 47,866 ton metrik pada Maret, naik dari 46,249 ton pada Februari.

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Photo View |