Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah China resmi melarang penggunaan software OpenClaw dalam lingkungan lembaga pemerintah dan BUMN setempat. Hal ini diungkap laporan Bloomberg News, berdasarkan informasi beberapa sumber yang familiar dengan isu tersebut.
Dalam beberapa hari terakhir, lembaga-lembaga pemerintah dan BUMN, termasuk bank-bank besar di China telah menerima pemberitahuan berupa peringatan untuk tidak menginstal software OpenClaw di perangkat kantor dengan alasan keamanan nasional.
Sebagai informasi, OpenClaw adalah agen kecerdasan buatan (AI) yang didirikan Peter Steinberger, pengusaha berkebangsaan Austria. Pada 14 Februari 2026, Steinberger mengumumkan bergabung ke OpenAI untuk membawa agen-agen AI canggih untuk semua orang.
Dalam pengumuman itu, ia mengatakan OpenClaw akan tetap menjadi perusahaan independen.
OpenClaw menjadi viral lantaran menyediakan AI berbasis open-source yang dirancang untuk menjalankan tugas nyata, bukan hanya menjawab teks berdasarkan perintah atau prompt pengguna.
OpenClaw bisa digunakan untuk mengelola email, memesan tiket, mengatur jadwal, memantau pesan, hingga menjalankan tugas-tugas lainnya secara otomatis. Layanan ini menggunakan model bahasa besar (LLM) yang bisa diinstal secara mandiri karena sifatnya yang open-source alias terbuka.
Dengan kemampuannya yang canggih, OpenClaw secara efektif memungkinkan satu orang mengerjakan pekerjaan beberapa orang sekaligus. Karakternya ini memunculkan fenomena yang diistilahkan sebagai "perusahaan satu orang" (one-person companies).
Sebelumnya, pemerintah daerah di beberapa pusat teknologi dan manufaktur China telah mengumumkan langkah-langkah untuk membangun industri di sekitar OpenClaw, meskipun regulator memperingatkan risiko keamanan yang terkait dengan aksesnya ke data pribadi.
Setelah kemunculannya pada November 2025, OpenClaw sudah menjadi salah satu proyek dengan pertumbuhan tercepat dalam sejarah GitHub, platform pengembang berbasis AI yang paling banyak diadopsi di dunia.
Inovasi OpenClaw ini digadang-gadang menjadi alasan CEO OpenAI Sam Altman mempekerjakan Steinberger untuk membangun generasi agen AI berikutnya.
Popularitas OpenClaw paling pesat di China karena karakter negara tersebut yang cenderung lebih cepat dalam mengadopsi teknologi termutakhir. Raksasa teknologi Tencent bahkan menggelar sesi khusus OpenClaw di Shenzhen beberapa saat lalu yang mengundang antusiasme anak-anak, pensiunan, serta developer.
Pemerintah Daerah Dukung OpenClaw
Distrik Longgang di Shenzhen, yang tahun lalu mendirikan biro AI dan robotika pertama di China, merilis rancangan langkah-langkah konkrit pada awal Maret ini untuk membangun ekosistem AI yang berpusat pada OpenClaw dan mendukung "perusahaan satu orang". Mereka mengutip laporan pemerintah pusat baru-baru ini yang mendukung industri masa depan seperti robot humanoid.
Area pengembangan teknologi tinggi di Wuxi dan Hefei di bagian timur negara itu, bersama dengan sebuah kota di pusat manufaktur timur Suzhou, semuanya menerbitkan rancangan langkah-langkah serupa, yang berfokus pada OpenClaw dalam beberapa hari terakhir.
Popularitas OpenClaw dan "perusahaan satu orang" yang makin meningkat telah disorot dalam Kongres Rakyat Nasional (NPC).
Zhang Xiaohong, anggota delegasi NPC provinsi Jiangsu dan sekretaris partai Komunis Universitas Soochow, mengatakan kepada Reuters bahwa inisiatif di kampus seperti kompetisi untuk melihat mahasiswa mana yang dapat menciptakan "perusahaan satu orang" terbaik telah mempromosikan keterampilan AI praktis.
Namun, regulator dan media pemerintah menyoroti kekhawatiran keamanan seputar agen tersebut. Pemerintah pusat menggarisbawahi ketidaknyamanan Beijing yang sudah lama ada tentang risiko siber dan pelanggaran data.
Peraturan Wuxi menetapkan bahwa platform cloud yang menyediakan OpenClaw harus melarang akses ke direktori data sensitif dan harus mempertimbangkan untuk membuat pusat layanan kepatuhan AI yang berfokus pada isu-isu seperti transfer data lintas batas dan perlindungan kekayaan intelektual.
Di tengah antusiasme yang tinggi, keputusan pemerintah pusat yang melarang OpenClaw di lingkungan lembaga pemerintahan dan BUMN kembali menunjukkan konsistensi China yang cenderung mencurigai aplikasi-aplikasi buatan Barat, terutama dari segi privasi dan keamanan nasional.
(fab/fab)
Addsource on Google
















































