Jakarta, CNBC Indonesia - Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran kembali membuat pasar keuangan global waspada, tak terkecuali Indonesia.
Sebagai emerging market, pasar saham domestik dihadapkan pada peningkatan risiko arus modal keluar seiring memburuknya sentimen global.
Tekanan umumnya paling cepat terasa pada saham dengan kepemilikan asing tinggi, tingkat utang besar, serta sensitivitas kuat terhadap perubahan likuiditas global.
Dalam situasi risk off, investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko dan mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman, seperti emas, obligasi, dan pasr uang.
Perubahan sentimen tersebut biasanya tercermin dari meningkatnya volatilitas di pasar saham dan pelemahan nilai tukar di negara berkembang.
Ketika investor global mulai menyesuaikan portofolio, saham-saham dengan likuiditas tinggi dan bobot besar dalam indeks menjadi pilihan utama untuk dilepas karena paling efisien dari sisi transaksi. Berikut beberapa sektor saham yang menurut kami rawan terjadi outflow karena perang:
Sektor Perbankan Big Caps
Saham bank big caps merupakan tulang punggung IHSG sekaligus menjadi core holding investor asing.
Dalam situasi risk off, manajer investasi global cenderung memangkas eksposur di emerging markets dan mengalihkan dana ke aset aman seperti dolar AS atau obligasi pemerintah AS.
Beberapa saham perbankan big caps di Indonesia yang potensi kena dampaknya di antaranya ada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI).
Namun, perlu jadi catatan, kami melihat risiko koreksi akibat perang ini harusnya akan berdampak sementara, karena ini lebih ke tekanan eksternal, bukan semata karena fundamental.
Jika, nantinya market melihat koreksi ini membuka valuasi lebih menarik dan potensial dividen meningkat, maka prospek saham-saham itu diburu juga akan kembali lagi dan menarik untuk dimanfaatkan sebagai saham investing jangka panjang.
Saham Bluechip Lain dengan Investor Asing Banyak
Di luar itu, saham blue chip dengan eksposur asing tinggi cenderung menjadi sumber likuiditas ketika volatilitas global meningkat.
Emiten berkapitalisasi besar dan likuid sering kali menjadi pilihan pertama untuk dilepas saat investor global mengurangi risiko.
Fenomena ini membuat saham unggulan rentan mengalami tekanan jangka pendek meskipun kinerja operasionalnya relatif stabil. Pergerakan harga lebih banyak dipengaruhi arus dana ketimbang perubahan fundamental.
Beberapa saham di Indonesia yang paling banyak dikuasai asing seperti, PT Bank Danamon Tbk (BDMN), PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA), PT Bank BTPN Tbk (BTPN), PT H.M Sampoerna Tbk (HMSP), PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP), PT Astra International Tbk (ASII), dan lain-lain.
Sektor Penerbangan
Berikutnya ada sektor penerbangan yang turut menjadi perhatian, terutama karena sensitivitasnya terhadap harga energi. Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan biaya avtur dan menekan margin.
Namun dinamika di sektor ini tidak selalu hitam putih. Dalam beberapa kasus, maskapai dapat meneruskan kenaikan biaya melalui fuel surcharge atau penyesuaian harga tiket, terutama jika permintaan perjalanan tetap kuat dan kapasitas penerbangan terbatas.
Karena itu, respons pasar terhadap saham penerbangan sangat bergantung pada durasi dan skala lonjakan harga minyak.
Jika kenaikan bersifat sementara, dampaknya bisa dinilai terbatas. Sebaliknya, jika berlangsung lama dan signifikan, tekanan terhadap profitabilitas akan lebih nyata.
Saat ini, sektor penerbangan mengalami tekanan signifikan, karena aksi balas dendam Iran mengincar pangkalan militer AS yang tersebar di berbagai negara di Timur Tengah.
Dari Dubai, Arab Saudi, hingga Qatar, eskalasi serangan yang meluas di kawasan Teluk membuat sejumlah bandara sempat membatasi operasional dan maskapai melakukan pembatalan maupun pengalihan rute penerbangan.
Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh penumpang transit internasional, tetapi juga oleh jamaah Indonesia yang hendak berangkat umroh dan terpaksa menunda atau membatalkan perjalanan karena alasan keselamatan dan ketidakpastian jadwal.
Sejumlah agen perjalanan melaporkan lonjakan permintaan reschedule, sementara maskapai melakukan penyesuaian rute untuk menghindari wilayah udara yang dinilai berisiko.
Gangguan ini berpotensi menekan arus perjalanan internasional dalam jangka pendek serta meningkatkan biaya operasional maskapai akibat perubahan rute yang lebih panjang dan kenaikan premi asuransi penerbangan.
Di sisi lain, saham penerbangan di Indonesia tak terlepas dari jeratan tingkat utang yang tinggi. Beberapa saham penerbangan di Indonesia antara lain ada PT Air Asia Indonesia Tbk (CMPP) dan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA).
Saham dengan tingkat utang tinggi
Selain itu, kelompok yang patut dicermati adalah emiten dengan tingkat utang tinggi, terutama yang memiliki kewajiban dalam denominasi dolar AS.
Ketika konflik mendorong penguatan dolar dan kenaikan premi risiko global, beban pembayaran bunga dan pokok utang berpotensi meningkat.
Risiko nilai tukar dapat memperlebar tekanan pada laporan keuangan, sementara biaya refinancing menjadi lebih mahal. D
Dalam kondisi ketidakpastian tinggi, pasar biasanya lebih selektif dan cenderung menghindari perusahaan dengan leverage besar serta arus kas yang rapuh.
Beberapa saham di Indonesia yang punya utang denominasi AS tinggi antara lain PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) beserta anak usahanya PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), lalu ada emiten properti PT Modernland Realty Tbk (MDLN) dan PT Alam Sutera Tbk (ASRI).
Adapun berikut rincian deretan saham yang potensial kena dampak jangka panjang dari huru-hara perang saat ini:
(mae/mae)
Addsource on Google

















































