Jakarta, CNBC Indonesia - Prediksi BMKG soal kemarau panjang akibat fenomena El Nino yang disebut-sebut bisa mencapai level "Godzilla" mulai ramai dibahas. Namun di sisi lain, sejumlah wilayah Indonesia masih sering diguyur hujan. Lalu, kenapa ini bisa terjadi?
Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan menjelaskan, kondisi tersebut masih tergolong wajar. Saat ini, Indonesia masih berada dalam masa peralihan musim atau pancaroba. Itu berarti pola cuaca belum stabil.
"Karena ini masih pancaroba, dan awal musim juga tidak seragam di semua wilayah Indonesia," ujar Sonni dalam keterangannya, dikutip Kamis (9/4/2026).
Ia bilang, hujan yang masih turun bukan berarti prediksi kemarau meleset. Indikasi menuju musim kering tetap terlihat, salah satunya dari kenaikan suhu muka laut di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur.
Kenaikan suhu ini menjadi sinyal awal berkembangnya fenomena El Nino yang berpotensi menekan curah hujan di Indonesia. Bahkan, berdasarkan proyeksi BMKG, musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung lebih panjang, sekitar enam bulan.
Tak hanya itu, awal musim kemarau juga diprediksi datang lebih cepat, terutama di wilayah Pulau Jawa yang biasanya memasuki musim kering pada Juli.
"Kenaikan suhu muka laut ini berdampak pada pengurangan pembentukan awan di Indonesia," jelasnya.
Bisa Lebih Ekstrem?
Sonni menjelaskan, El Nino dan La Nina merupakan fenomena interaksi laut dan atmosfer skala besar yang memengaruhi sirkulasi udara tropis, dikenal sebagai Sirkulasi Walker. Fenomena ini umumnya terjadi setiap 4-5 tahun.
Sementara itu, istilah "El Nino Godzilla" merujuk pada kondisi super El Nino, yakni ketika suhu muka laut di Pasifik meningkat jauh lebih tinggi dibandingkan El Nino biasa, bahkan bisa mencapai di atas 2,5 derajat Celcius. Fenomena ekstrem ini tercatat pernah terjadi pada 1982, 1997, dan 2015, yang memicu dampak global seperti kekeringan parah hingga kebakaran hutan.
Namun untuk saat ini, ia menilai kekuatan El Nino masih berada di level lemah hingga moderat. "Jujur saja, kekuatannya masih lemah ke moderat," katanya.
Dalam analisisnya, Sonni juga menyinggung kemungkinan kaitan antara El Nino kuat dengan aktivitas sunspot atau bintik matahari. Berdasarkan data historis, super El Nino kerap terjadi setelah puncak aktivitas sunspot.
Dengan puncak sunspot yang diperkirakan terjadi pada 2025, potensi El Nino kuat pada 2026 dinilai terbuka. Meski begitu, ia menekankan temuan ini masih membutuhkan kajian lebih lanjut.
Di tengah kondisi ini, masyarakat diminta tetap mengacu pada informasi resmi dan memahami cuaca yang terjadi saat ini merupakan bagian dari dinamika transisi musim yang kompleks.
(hsy/hsy)
[Gambas:Video CNBC]

















































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5452570/original/017450600_1766406793-IMG_2730_1_.jpeg)