5 Jam "Berdarah" di Bursa! IHSG Hancur hingga Cetak Rekor Terburuk

9 hours ago 4

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

03 June 2026 17:45

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hancur lebur pada hari ini, Rabu (3/6/2026). Dalam 5,5 jam perdagangan hari ini, IHSG mengalami guncangan hebat hingga membukukan sejumlah catatan buruk.

Data pergerakan pasar menunjukkan bahwa indeks acuan bursa domestik ini sebelumnya sempat bertengger di titik tertinggi historisnya pada level 9.134,70 yang dicatatkan pada 20 Januari 2026.

Namun pada hari ini, IHSG terpantau ditutup turun sebesar 4,11% ke level 5.941,07 dari penutupan hari sebelumnya, bahkan di tengah sesi perdagangan kedua IHSG sempat menyentuh level 5.842,00 terendah sejak 31 Mei 2021 pada era Covid-19 ketika virus Covid Delta marak di Indonesia.

Penurunan dari titik puncak pada tanggal 20 Januari 2026 hingga posisi terendah saat ini merefleksikan tingkat koreksi ekstrim yang mencapai 34,96% hanya dalam rentang waktu perdagangan kurang dari enam bulan.

1. Market Cap Menguap Kencang

Pelemahan indeks yang begitu agresif ini berdampak sistemik terhadap valuasi agregat seluruh emiten di Bursa Efek Indonesia. Total kapitalisasi pasar tercatat mengalami penyusutan drastis dari sebelumnya berada di angka Rp16.632 triliun pada masa puncaknya pada 19 Januari 2026, kini merosot jatuh ke level Rp10.770 triliun pada hari ini.

Angka ini secara langsung mengonfirmasi bahwa terdapat dana sebesar Rp5.862 triliun valuasi pasar yang tergerus dan lenyap dalam periode waktu yang sangat singkat yakni kurang dari lima bulan.

Evaporasi valuasi dengan nominal yang sangat besar ini mencerminkan adanya penyesuaian profil risiko secara besar-besaran oleh para investor ritel maupun institusional, yang berujung pada tindakan pelepasan aset ekuitas secara masif demi memitigasi kerugian lebih lanjut.

2. Kinerja Terburuk Secara Global

Sepanjang tahun ini, IHSG sudah ambruk 30%. Pelemahan sebesar ini membuat IHSG menjadi iindeks terburuk sedunia. Indeks terburuk kedua India yakni (SENSEX) bahkan hanya melemah 12% sepanjang 2026.

Koreksi tajam yang dialami pasar saham domestik saat ini menciptakan sebuah anomali mendalam jika dikomparasikan dengan tren pasar ekuitas global. Bursa saham Wall Street, terutama S&P bahkan mencetak rekor berkali-kali tahun ini.

Di saat mayoritas indeks bursa saham di negara maju dan beberapa pasar berkembang lainnya sedang menikmati tren penguatan, bahkan hingga secara konsisten mencatatkan rekor tertinggi baru sepanjang masa, pasar modal Indonesia justru bergerak secara kontras menuju arah kejatuhan.

Diferensiasi arah pergerakan yang ekstrem ini secara resmi menempatkan bursa domestik sebagai indeks dengan kinerja terburuk di dunia pada periode berjalan.

Fenomena ini memberikan indikasi kuat bahwa tekanan jual di pasar modal Indonesia murni diakibatkan oleh memburuknya persepsi risiko spesifik di dalam negeri, bukan sekadar imbas dari sentimen makro global.

3. Penyebab IHSG

Pergerakan kontras dan tekanan jual yang luar biasa ini dipicu oleh kombinasi tiga sentimen fundamental di tingkat makroekonomi dan institusional domestik. Sentimen utama yang memberikan tekanan berat adalah beredarnya rumor terkait publikasi laporan pemeringkatan dari S&P Global Ratings.

Terdapat ekspektasi negatif di kalangan pelaku pasar bahwa laporan tersebut akan memuat penilaian yang kurang menguntungkan terhadap stabilitas perekonomian dan ruang fiskal Indonesia pada bulan Juni ini.

Spekulasi tersebut mendorong pemodal asing untuk merelokasi arus kas mereka dan melakukan aksi jual bersih pada instrumen berisiko tinggi.

Tekanan fundamental tersebut semakin diperberat oleh rilis resmi dari lembaga pemeringkat internasional lainnya, yaitu Moody's dan S&P. Lembaga tersebut memangkas peringkat Danantara Investment Management menjadi Baa2 dan BBB serta menyematkan prospek negatif terhadap institusi pengelola dana strategis tersebut.

Penurunan tingkat ini memunculkan keraguan yang meluas mengenai stabilitas aliran investasi jangka panjang. Melengkapi kedua katalis di atas, bursa saham juga dihadapkan pada tantangan depresiasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat yang terus berlanjut hingga menembus level Rp17.945.

Kondisi ini memicu kekhawatiran akan lonjakan nilai tukar sehingga meningkatkan kerugian investor-investor asing yang berinvestasi di Indonesia yaitu dari sisi capital loss dan juga resiko kurs Rupiah yang terus kian melemah hingga Rp 17.940/US$.

4. Valuasi Terpuruk ke Era Pandemi Varian Delta

Terperosoknya indeks ke level 5.850-an ini sekaligus menandai kembalinya valuasi pasar ke area krisis pada era pandemi COVID-19. Secara historis, level penutupan saat ini sepenuhnya ekuivalen dengan posisi indeks yang terjadi pada tanggal 31 Mei 2021 silam saat Indonesia dihantam gelombang Delta.

Pada masa tersebut, sentimen pasar global dan domestik sedang tertekan hebat oleh kepanikan gelombang infeksi COVID-19 varian Delta yang memicu pembatasan mobilitas secara ketat dan kelumpuhan aktivitas ekonomi.

Kembalinya laju indeks ke level tersebut menandakan bahwa performa pertumbuhan kapitalisasi pasar yang susah payah dibangun selama beberapa tahun terakhir telah terhapus, kembali ke titik yang sama dengan masa puncak ketidakpastian pandemi.

5. Koreksi Tajam Hari Ini, Terburuk dalam Sejarah?

Meskipun pelemahan saat ini tergolong sebagai siklus ekstrem, kejatuhan indeks dengan magnitudo dan kecepatan serupa pernah terjadi beberapa kali dalam sejarah bursa domestik.

Salah satu krisis paling mendalam tercatat pada masa awal pandemi COVID-19 di mana indeks menukik tajam 37,79% dari level 6.329,31 pada 27 Desember 2019 menuju 3.937,63 pada 24 Maret 2020.

Jauh sebelumnya, krisis finansial global memicu anjloknya indeks hingga 59,68% dari posisi 2.756,31 pada 28 Februari 2008 menjadi 1.111,39 pada 28 Oktober 2008.

Siklus koreksi yang agresif juga mewarnai dekade sebelumnya. Pada tahun 2002, indeks mengalami pelemahan 38,82% dari 551,61 pada pertengahan April menuju 337,48 di pertengahan Oktober.

Memasuki era milenium, pasar merekam penurunan sebesar 36,82% dari level 703,48 pada 17 Januari 2000 menuju 444,45 pada 2 Juni 2000. Catatan kelam lainnya terlihat saat krisis moneter Asia menggerus indeks sebesar 54,17% dari 740,83 pada awal Juli 1997 ke level 339,53 pada Desember 1997.

Bahkan, dinamika awal pasar modal juga mencatat penurunan sebesar 47,24% dari 423,15 pada 28 April 1991 menjadi 223,25 pada 11 November 1991.

Rangkaian rekam jejak ini membuktikan bahwa bursa saham memiliki probabilitas historis untuk mengalami koreksi dengan kedalaman melebihi 35% dalam waktu singkat apabila dihadapkan pada akumulasi sentimen negatif yang ekstrim.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Photo View |