Jakarta, CNBC Indonesia - Beauties, apa salah satu komponen penting dalam kecerdasan emosional? Yap, kemampuan mengatur emosi. Dalam kasus orang dengan Emotional Intelligence (EQ) rendah, mereka cenderung kesulitan memahami dan mengendalikan emosinya.
Hal-hal terkecil terkadang mampu memicu amarah mereka yang dapat berlangsung beberapa menit, bahkan berjam-jam. Kalau dilihat dalam kehidupan sehari-hari secara nyata, kebiasaan seperti apakah yang mampu mengidentifikasi bahwa orang itu memiliki EQ rendah?
Berikut ini 3 ciri-ciri orang dengan EQ rendah yang bisa Beauties pahami.
1. Mudah Menghakimi Orang
Orang dengan EQ rendah kerap menunjukkan sikap impulsifnya, terburu-buru dalam bertindak atau mengambil kesimpulan. Mereka cenderung untuk bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu. Contohnya? Mudah menghakimi orang lain.
Mereka tidak memiliki pemahaman yang baik tentang cara membaca emosi orang lain atau emosinya sendiri. Menurut Inc, orang yang mudah menghakimi cenderung membentuk kesan negatif tentang seseorang sebelum menilai konteks situasi dan emosi awal untuk mengetahui kebenaran dan keakuratannya.
Kebiasaan seperti ini jika tidak dibenahi lambat laun akan mempengaruhi sebuah hubungan, baik hubungan secara personal maupun profesional.
2. Tidak Mau Dinilai Salah, Selalu Harus Benar
Ciri-ciri EQ rendah yang bisa dilihat dari seseorang adalah bagaimana dia menerima sebuah kritikan. Apakah terbuka dengan kritikan dan masukan yang ada atau sebaliknya? Menukil Verywell Mind, orang dengan EQ rendah seringkali memperdebatkan sesuatu sampai mentok sambil menolak untuk mendengarkan pendapat orang lain.
Bahkan jika Beauties memberinya bukti bahwa dia salah, dia akan membantah bahwa fakta itu tidak benar. Pada dasarnya seseorang harus mampu mengatasi kritik. Tidak semua kritikan itu buruk. Justru itu bisa menjadi jembatan untuk benar-benar tumbuh di masa depan.
3. Sering Mengucapkan Kalimat Tidak Berempati
Beauties, orang dengan EQ rendah suka mengucapkan kalimat tidak berempati, seperti "Aku tidak peduli bagaimana perasaanmu," atau "Saya tidak akan berubah. Inilah saya."
Kalimat pertama tersebut mengabaikan perasaan orang lain secara terang-terangan. Hal ini menunjukkan kurangnya empati terhadap orang lain terutama ketika mereka sedang mengalami masa sulit hanya akan memperburuk sebuah hubungan.
Sementara itu, kalimat kedua, kecerdasan emosional juga dikaitkan dengan kemampuan untuk berubah seiring waktu saat belajar dan berkembang. Orang dengan EQ rendah seringkali lebih kaku dan akan menolak upaya untuk berubah dan berkembang, melansir CNBC Make It. Keyakinan yang kuat itu penting, tetapi keterbukaan terhadap kemungkinan baru juga penting. Jadi, setop kebiasaan mengatakan, "Aku tidak akan berubah. Inilah saya."
Itulah tiga kebiasaan orang dengan kecerdasan emosional rendah yang sering kita jumpai. Teruslah belajar mengelola dan memahami emosi orang lain dan diri sendiri. Banyak hal buruk yang telah terjadi karena kemampuan EQ yang rendah.
Artikel selengkapnya >>> Klik di sini
(miq/miq)
Addsource on Google

































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5469088/original/050162300_1768056820-photo-grid_-_2026-01-10T214641.503.jpg)











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5468304/original/037132200_1767946563-SnapInsta.to_610749735_18549996940061415_8535549228643964214_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5470160/original/093473700_1768198487-Web_Photo_Editor__7_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5457851/original/077752400_1767061479-IMG_2967_1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5471422/original/000633700_1768286512-IMG_3417_1_.jpeg)
