Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
02 March 2026 14:15
Jakarta, CNBC Indonesia - Eskalasi konflik yang saat ini terjadi di kawasan Timur Tengah antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel turut memberikan dampak yang cukup terukur terhadap sektor energi global.
Potensi terjadinya gangguan distribusi pasokan minyak akibat ketegangan di jalur perairan strategis, seperti Selat Hormuz, membuat investor kembali menyesuaikan strategi portofolionya dengan menyoroti valuasi perusahaan-perusahaan minyak dan gas.
Harga minyak brent hari ini Senin (2/3/2026) pukul 1304 WIB melonjak 7,4% ke US$ 77,98 per barel.
Di tengah dinamika ketidakpastian keamanan regional tersebut, saham-saham perusahaan energi seringkali menjadi pilihan untuk lindung nilai (hedging) bagi investor. Secara fundamental, ekspektasi kenaikan harga komoditas minyak mentah akibat premi risiko geopolitik umumnya akan berdampak positif pada peningkatan kapitalisasi pasar (market cap) korporasi di sektor migas.
Berdasarkan data pasar terbaru, Saudi Aramco yang merupakan perusahaan minyak nasional milik Arab Saudi, masih menduduki posisi puncak sebagai entitas migas dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia.
Nilai pasarnya tercatat mencapai US$1,66 triliun. Menariknya, terlepas dari posisi puncak yang dipegang negara Timur Tengah, daftar 10 besar ini justru didominasi oleh korporasi asal Amerika Serikat dan China.
Berikut adalah tabel rincian 10 perusahaan migas dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia saat ini:
Dominasi AS dan China di Sektor Energi
Mengacu pada data di atas, peta kapitalisasi industri migas global saat ini sangat terkonsentrasi pada korporasi dari negara konsumen energi terbesar. Amerika Serikat diwakili oleh Exxon Mobil, Chevron, dan ConocoPhillips.
Di sisi lain, China menempatkan tiga perusahaan raksasanya, yakni PetroChina, CNOOC, dan Sinopec di dalam jajaran 10 besar dunia. Data ini menunjukkan bahwa stabilitas sektor energi global tidak hanya ditopang oleh negara-negara Teluk, tetapi juga oleh ketahanan korporasi dari negara-negara maju.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)
Addsource on Google

















































