Tiru Kesuksesan Jepang, Bulog Mau Sulap Beras Turun Mutu Jadi Tepung

3 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Bulog berencana mengembangkan hilirisasi beras dengan mengolah beras turun mutu menjadi tepung beras. Langkah ini dilakukan dengan mengadopsi praktik di Jepang, sekaligus untuk menekan ketergantungan impor tepung terigu di dalam negeri.

Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani mengungkapkan pihaknya telah menjajaki kerja sama tersebut dengan Jepang untuk mengembangkan pengolahan tersebut.

"Seperti kalau di Jepang. Kami laporkan, ini kami lagi akan kembangkan Pak, kemarin kami sudah silaturahmi ke Kedutaan Jepang, kami akan kembangkan hilirisasi beras," kata Rizal saat Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (2/4/2026).

Ia menjelaskan, Jepang menjadi referensi karena pemanfaatan tepung beras di negara tersebut sangat tinggi, terutama untuk produk makanan ringan.

"Kenapa? Indonesia ini kan mayoritas berasnya banyak, kemudian di Jepang itu hampir 70% cemilan-cemilan, snack-snack itu rata-rata dari tepung beras. Nah kita mau mengadopsi itu, sehingga apa? Untuk mengurangi impor kita terhadap tepung terigu," jelasnya.

Dalam waktu dekat, Bulog menargetkan program hilirisasi ini mulai dijalankan dengan memanfaatkan beras yang sudah tidak memenuhi standar konsumsi.

Stok beras pemerintah di gudang Bulog. (Dok. Kementan)Foto: Stok beras pemerintah di gudang Bulog. (Dok. Kementan)
Stok beras pemerintah di gudang Bulog. (Dok. Kementan)

"Nah ini yang kami lakukan. Nah dalam waktu dekat kita juga akan lakukan hilirisasi beras ini, sehingga beras-beras yang turun mutu bisa kita olah menjadi tepung beras. Ini akan kami kembangkan," ucap dia.

Sebelum diolah menjadi tepung, Bulog terlebih dahulu melakukan proses perbaikan kualitas beras melalui metode "rice to rice". Beras yang mengalami penurunan mutu akan ditarik dan diproses ulang agar kembali memenuhi standar.

"Kalau turun mutu itu aturannya, SOP-nya kami itu kami tarik dulu. Setelah kami tarik, kami olah kembali, rice to rice biar glowing lagi. Jadi biar glowing lagi, sebetulnya tampilan mukanya saja berasnya jadi agak kusam gitu, Bapak. Mungkin agak lama, jadi kita rice to rice lagi, bisa glowing lagi, Bapak. Dan itu nanti kami lab lagi, kalau masih dalam kondisi standar, itu bisa kami pasarkan lagi," jelas Rizal.

Namun, jika hasil pengolahan tidak lagi memenuhi standar beras konsumsi, maka beras tersebut akan dialihkan untuk kebutuhan lain, termasuk pakan ternak atau diolah menjadi tepung.

"Namun kalau sudah tidak layak sesuai dengan standar perberasan, itu baru nanti kita olah menjadi pakan ternak atau kami gunakan hilirisasi untuk menjadikan tepung," ujarnya.

Ia menyebut beras dengan kualitas yang sudah lama, justru memiliki nilai tambah untuk industri tepung beras, karena lebih mudah mengembang saat diolah menjadi makanan.

"Biasanya, kalau untuk tepung beras, pengolah-pengolah tepung beras itu lebih suka beras-beras yang sudah lama. Karena apa? Karena yang lama itu berasnya bisa ngembang kalau bikin kue ataupun yang sebagainya, seperti itu," kata dia.

Lebih lanjut, Bulog mencatat volume beras turun mutu relatif kecil dibandingkan total produksi nasional.

"Kemudian terkait yang turun mutu, sudah kami hitung kalkulasi di tahun 2025 itu hampir 65 ribu ton Pak," ungkapnya.

"Nah kalau dihitung 65 ribu ton dibandingkan dengan 44,37 juta ton, itu baru 0,15 persen Bapak. Jadi persentase antara yang turun mutu dengan yang masih bagus kualitasnya itu jauh sekali Bapak. Jadi masih ada 99,99 persen yang bagus," pungkas Rizal.

(tya/wur)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |