Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada hari ini mengalami tekanan cukup dalam, hingga menembus level atas Rp 17.300/US$.
Data Refinitiv, per pukul 09.32 WIB menunjukkan, mata uang Garuda melemah 0,79% ke level Rp17.305/US$. Level ini sekaligus menjadi posisi terlemah rupiah sepanjang masa yang baru secara intraday.
Tak hanya itu, pelemahan tersebut juga menandai rupiah telah menembus level psikologis baru di Rp17.300/US$. Padahal, saat pembukaan perdagangan pagi ini kurs rupiah sudah melemah 0,23% ke level Rp17.210/US$.
Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menjelaskan, ambrolnya kurs rupiah hari ini masih dipicu oleh sentimen negatif pelaku pasar keuangan terhadap dinamika konflik di Timur Tengah, serta harga komoditas minyak yang masih terus bergejolak.
Permasalahan ini kata dia ditambah dengan tingginya permintaan dolar di dalam negeri, akibat masuknya periode musiman pembayaran dividen. Karena itu, ia memperkirakan, kurs rupiah akan bergerak di rentang Rp 17.200-17.350/US$ sepanjang hari ini.
"Selain isu harga minyak dan kondisi di Timur Tengah, ada seasonal demand juga untuk pembayaran dividen," kata David kepada CNBC Indonesia, Kamis (23/4/2026).
Sementara itu, Kepala Ekonom dan Riset Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto menilai, pergerakan ini juga mencerminkan langkah BI yang melakukan upaya stabilisasi kurs secara terukur.
Menurutnya, BI kini mulai melakukan intervensi di pasar valuta asing atau valas secara lebih hati-hati untuk menjaga cadangan devisa (cadev) Indonesia tidak tergerus semakin dalam.
Sebagaimana diketahui, Bank Indonesia (BI) sebelumnya telah melaporkan cadangan devisa (cadev) Indonesia tersisa US$ 148,2 miliar pada Maret 2026, merosot sekitar US$ 3,7 miliar dibanding catatan bulan sebelumnya US$ 151,9 miliar.
Penurunan cadev itu disebabkan penggunaan untuk kebutuhan pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah.
"Saya rasa BI masih berusaha untuk melakukan stabilisasi secara terukur, enggak hanya melalui intervensi valas di pasar, kayaknya lebih berhati-hati supaya cadangan devisa juga tidak tergerus signifikan," paparnya.
(arj/haa)
Addsource on Google
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5455267/original/021553200_1766643113-IMG_2828_1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5456364/original/038814500_1766846753-IMG_2860_1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5469088/original/050162300_1768056820-photo-grid_-_2026-01-10T214641.503.jpg)











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5454520/original/098629800_1766561889-Screen_Shot_2025-12-24_at_14.12.39.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5456969/original/021534900_1766982759-photo-grid_-_2025-12-29T112228.091.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5468304/original/037132200_1767946563-SnapInsta.to_610749735_18549996940061415_8535549228643964214_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5457851/original/077752400_1767061479-IMG_2967_1_.jpeg)