Mata Uang Asia Kebakaran: Rupiah Paling Sengsara, Negara Ini Selamat

3 hours ago 6

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

23 April 2026 10:25

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas mata uang negara-negara Asia bergerak di zona pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi ini, Kamis (23/4/2026). Tekanan terjadi seiring dolar AS masih bertahan kuat di tengah eskalasi tensi AS-Iran yang kembali memanas dan membuat harga minyak kembali menembus US$100 per barel.

Merujuk data Refinitiv, per pukul 09.40 WIB, dari sepuluh mata uang Asia yang dipantau, hanya dua mata uang yang menguat dan tujuh lainnya melemah terhadap greenback.

Pelemahan terdalam terjadi pada rupiah yang terkoreksi tajam hingga 0,82% ke level Rp17.310/US$.

Posisi ini membuat rupiah kembali menembus level psikologis baru di Rp17.300/US$, sekaligus menjadi level intraday terlemah rupiah sepanjang masa di pasar spot.

Tekanan pada rupiah sudah terlihat sejak awal perdagangan, ketika rupiah dibuka melemah 0,23% di level Rp17.210/US$. Namun, seiring berjalannya perdagangan, pelemahan kian dalam.

Di Asia, tekanan besar juga dialami peso Filipina yang melemah 0,62% ke PHP 60,46/US$, disusul baht Thailand yang turun 0,43% ke THB 32,36/US$.

Won Korea Selatan melemah 0,21% ke KRW1.481,5/US$, sementara ringgit Malaysia turun 0,25% ke MYR 3,96/US$. Adapun dolar Taiwan melemah 0,15% ke TWD 31,51/US$, sedangkan dolar Singapura turun 0,07% ke SGD 1,276/US$. Yuan China juga melemah tipis 0,02% ke CNY 6,828/US$.

Sementara itu, dua mata uang yang masih mampu menguat adalah dong Vietnam yang naik 0,08% ke VND 26.300/US$ dan yen Jepang yang menguat tipis 0,01% ke JPY 159,46/US$.

Sejalan dengan itu, indeks dolar AS (DXY) pada waktu yang sama berada di level 98,636 atau menguat tipis 0,05%.

Meski pergerakannya relatif terbatas pagi ini, pasar mencermati bahwa dalam dua hari perdagangan terakhir DXY ditutup menguat, menandakan dolar AS masih mendapat dukungan.

Dukungan dolar AS datang dari meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap perang yang belum menunjukkan kemajuan berarti.

Ketegangan kembali naik setelah Iran dilaporkan menyita dua kapal di Selat Hormuz, di saat jalur strategis tersebut masih efektif tertutup dan blokade angkatan laut AS tetap berlangsung. Kondisi ini membuat harga minyak kembali naik ke atas US$100 per barel dan menekan sentimen risiko.

Di tengah situasi ini, pasar juga mulai menilai tekanan inflasi akibat lonjakan energi bisa bertahan lebih lama, sehingga ruang pemangkasan suku bunga AS kian sempit.

Sejumlah proyeksi bahkan memperkirakan Bank Sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) akan menunggu lebih lama sebelum memangkas suku bunga tahun ini, mengingat shock energi kembali memanaskan inflasi.

Kondisi tersebut pada akhirnya membuat dolar AS kembali dilirik sebagai aset aman, sehingga ruang penguatan mata uang Asia termasuk rupiah semakin kecil pada perdagangan pagi ini.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Photo View |