Jakarta, CNBC Indonesia - Samsung jadi raja ponsel pada kuartal I-2026. Pada saat bersamaan, industri smartphone global mengalami penurunan akibat kelangkaan memori yang terjadi sepanjang awal tahun ini.
Laporan firma riset IDC menyebutkan pangsa pasar Samsung pada periode tersebut mencapai 21,7% dengan pengiriman 62,8 juta unit. Peningkatan pengiriman dalam setahun mencapai 3,6% dari tahun sebelumnya.
Menurut laporan tersebut, capaian positif perusahaan akibat permintaan kuat dari Galaxy S26 Ultra terbaru. Peluncuran seri A juga membantu mengisi kesenjangan volume karena S26 yang datang lebih lambat dan mendorong pertumbuhan.
Di posisi kedua ada Apple dengan pangsa pasar 21,1% dan pengiriman 61,1 juta unit. Pertumbuhan perusahaan mencapai 3,3%.
Seri iPhone 17 mendorong kinerja kuat perusahaan, termasuk pertumbuhan signifikan di China lebih dari 30%. Meski begitu, gangguan pasokan dan pengurangan dukungan saluran di sejumlah pasar utama menghambat pertumbuhan.
Sementara tiga raksasa China yang masuk dalam lima besar mencatatkan pertumbuhan minus. Dari Xiaomi -19,1%, Oppo -9,9%, dan vivo -6,8%.
Xiaomi dilaporkan melakukan strategis pengurangan pengiriman model-model lama. Alasannya sebagai cara menghindari kenaikan harga besar-besaran.
Untuk Oppo, integrasi dengan Realme membuat kinerja yang lebih kuat di China dan membantu penurunan lebih besar secara global. Kinerja positif China dan mempertahankan posisi kepemimpinan di India, membuat vivo dapat memperkecil jarak dengan Oppo di global.
"Kuartal ini jadi tantangan untuk semua pemain smartphone karena harus menyeimbangkan antara profitabilitas dan pertumbuhan serta stabilisasi di pasar domestik versus ekspansi ke luar negeri di tengah keterbatasan pasokan dan tekanan harga," jelas associate director Consumer Devices IDC, Kiranjeet Kaur dalam keterangan resminya, dikutip Senin (20/4/2026).
"Apple dan Samsung diuntungkan dengan dominasi mereka di segmen premium di mana mereka menahan kenaikan harga, sementara Xiaomi, Oppo, dan vivo berupaya menggesser pangsa pasar ke segmen harga yang lebih tinggi," dia menambahkan.
Secara keseluruhan pengiriman smartphone global menurun 4,1% menjadi 289,7 juta unit pada kuartal I-2026. Penurunan ini menutup tren pertumbuhan yang terjadi selama 10 kuartal berturut-turut.
Direktur riset senior Perangkat Konsumen Seluruh Dunia IDC, Nabila Popal menjelaskan pasar smartphone masuk ke salah satu periode menantang didorong kendala pasokan memori. Masalah ini membuat adanya pengurangan pengiriman dan kenaikan biaya bahan baku dengan harga memori yang lebih tinggi.
Pada akhirnya memaksa adanya kenaikan harga oleh banyak merek ternama. Pada beberapa pasar negara berkembang, harga naik mencapai 40-50% dan membebani permintaan untuk wilayah yang sensitif dengan harga.
"Produsen peralatan asli (OEM) menanggapi dengan pengendalian biaya yang lebih ketat, pengurangan dukungan pemasaran dan saluran, serta peningkatan penggunaan strategi pengurangan spesifikasi, namun langkah itu juga membatasi pertumbuhan," jelasnya.
Di sisi lain, periode ini jadi waktu bagi vendor melakukan inovasi. Sebab perang di Timur Tengah juga menaikkan biaya beberapa hal dan akan menekan permintaan smartphone secara global.
"Tahun kalender ini jadi titik balik untuk vendor dapat berinovasi, karena meningkatnya biaya komponen, energi dan logistik akibat perang yang terjadi baru-baru ini di Timur Tengah, memperburuk risiko penurunan prospek pasar dan menekan permintaan smartphone global," kata Popal.
(dem/dem)
Addsource on Google































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5455267/original/021553200_1766643113-IMG_2828_1_.jpeg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5452570/original/017450600_1766406793-IMG_2730_1_.jpeg)








:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5452691/original/069041600_1766425778-photo-grid_-_2025-12-22T223121.275.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5453286/original/078229000_1766473900-SnapInsta.to_599701766_18550840858037738_1350486577532420596_n.jpg)





