Purbaya Tambah Rp100 T Buat Subsidi BBM, Defisit APBN Diramal 2,9%

4 hours ago 7

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku telah menyiapkan anggaran tambahan subsidi BBM untuk PT Pertamina (Persero). Tujuannya demi menghadapi potensi harga minyak dunia yang masih bergejolak, dengan harga jual di dalam negeri yang tak mengalami perubahan.

Sebagaimana diketahui, harga minyak mentah dunia saat ini masih terus bergerak di kisaran atas US$ 100 per barel, jauh di atas asumsi APBN 2026 US$ 70 per barel. Namun, kemarin pemerintah memastikan tak akan ada perubahan harga jual BBM di dalam negeri hingga saat ini.

Purbaya mengatakan, anggaran tambahan yang disiapkan itu di kisaran Rp 90 triliun sampai dengan Rp 100 triliun sampai akhir 2026. Anggaran subsidi BBM itu di luar pagu nilai subsidi dan kompensasi energi yang dalam APBN 2026 senilai Rp 381,3 triliun.

"Rp 90 triliun sampai Rp 100 triliun lah, itu subsidi, kompensasi lain lagi kan hitungannya," kata Purbaya saat ditemui di Wisma Danantara, Jakarta, Rabu (1/4/2026).

Angka ini pun kata dia membuat pemerintah kini telah memperhitungkan defisit APBN 2026 akan terkerek dari target 2,68% menjadi 2,9% dari produk domestik bruto (PDB). Mempertimbangkan asumsi harga minyak mentah dunia sampai akhir 2026 sebesar US$ 100 per barel.

"Kita mindset dengan asumsi harga minyak tinggi terus dan rata-rata US$ 100 sepanjang tahun. Kita lakukan kebijakan sehingga defisitnya terkendali di 2,9%," paparnya.

Meski begitu, Purbaya menegaskan, untuk sementara ini, harga BBM yang saat ini masih ditahan belum akan menguras anggaran subsidi dan kompensasi energi dalam APBN 2026.

Ia mengatakan, untuk sementara ini, harga BBM yang tak mengalami perubahan itu sepenuhnya ditanggung oleh PT Pertamina (Persero). "Sementara sepertinya Pertamina, sementara ya," kata Purbaya.

Purbaya menjelaskan, likuiditas Pertamina kini ruangnya lebih longgar untuk menghadapi tekanan harga minyak, karena pemerintah telah makin cepat membayar tunggakan pembayaran subsidi maupun kompensasi.

"Dia mampu karena sekarang pembayaran dari pemerintah kan lancar, dan kompensasi kita bayar tiap bulan 70% terus menerus," ungkap Purbaya. "Jadi keuangan Pertamina amat baik, untuk absorb itu untuk jangka waktu pendek enggak masalah," tegasnya.

(arj/arj)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |