Pabrikan Motor Listrik Putar Otak Demi Tetap Hidup Tanpa Insentif

3 hours ago 7

Jakarta, CNBC Indonesia - Hilangnya insentif motor listrik berpotensi mengubah peta persaingan industri. Sejumlah pabrikan yang sebelumnya masuk ke Indonesia karena daya tarik subsidi kini dituntut untuk lebih adaptif agar tetap bertahan di pasar domestik.

Ketua Umum Aismoli Budi Setiyadi mengakui, insentif memang sempat menjadi faktor pendorong masuknya pemain baru dan pembangunan fasilitas produksi. Namun, ia menilai fondasi industri tidak semata dibangun oleh subsidi.

"Pertumbuhan awal itu bukan hanya karena insentif, tapi juga karena Perpres 55 dan sinyal kuat pemerintah dalam mendukung industri kendaraan listrik," ujarnya kepada CNBC Indonesia, Senin (2/2/2026).

Kewajiban pemenuhan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sejak awal juga membuat industri yang masuk harus memiliki komitmen jangka panjang.

Menghadapi kondisi tanpa subsidi, Budi melihat para produsen mulai mengembangkan berbagai strategi alternatif untuk menjaga permintaan. Salah satunya dengan memperluas pasar business-to-business (B2B).

"B2B itu cukup bagus, terutama dengan perusahaan ojek. Itu salah satu terobosan yang mulai berjalan," katanya.

Selain itu, skema pembiayaan juga menjadi kunci. Beberapa merek mulai menawarkan model sewa baterai untuk menekan harga awal kendaraan, sementara yang lain mengembangkan pola penjualan rent-to-own agar lebih terjangkau bagi konsumen.

"Kalau seperti ini, kreativitas industri pasti akan keluar. Mereka akan mencari cara supaya tetap sustain dan produksi tetap jalan," ujar Budi.

Ia optimistis, investasi yang sudah terlanjur masuk ke Indonesia membuat para pelaku industri enggan mundur begitu saja. Justru, kondisi ini dinilai bisa mendorong industri menjadi lebih matang.

"Mau tidak mau industri belajar dewasa, tidak terus bergantung pada subsidi," tuturnya.

(dce)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |