Kala AI "Gulung" Lulusan Baru: Lowongan Berkurang-Gaji Kecil

2 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar kerja bagi lulusan universitas di Hong Kong memasuki fase terberat sejak 2021.

Melansir South China Morning Post, jumlah lowongan kerja baru untuk fresh graduate merosot tajam sepanjang 2025, sementara kenaikan gaji awal nyaris berhenti.

Tekanan ini datang bersamaan dengan pelemahan ekonomi dan perubahan struktur kebutuhan tenaga kerja akibat adopsi kecerdasan buatan.

Laporan Joint Institution Job Information System, sistem informasi lowongan kerja milik delapan universitas negeri Hong Kong, mencatatkan hanya 30.798 posisi tersedia sepanjang 2025.

Angka tersebut turun 55% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 68.728 lowongan. Penurunan terjadi terutama pada posisi entry-level yang selama ini menjadi jalur transisi utama dari bangku kuliah ke dunia kerja.

Tekanan tidak berhenti pada sisi kuantitas pekerjaan. Rata-rata gaji awal lulusan baru hanya tumbuh 0,5% secara tahunan.

Dengan biaya hidup Hong Kong yang tetap tinggi, pertumbuhan ini berarti stagnasi pendapatan riil bagi angkatan kerja muda. Kondisi tersebut mempersempit ruang adaptasi finansial di fase awal karier.

Employment Outlook KPMG Hong Kong 2025 menjelaskan mekanisme di balik pelemahan ini.

Lebih dari separuh perusahaan menyatakan tidak berencana menambah jumlah tenaga kerja sepanjang 2025. Rekrutmen lulusan baru menjadi kelompok yang paling banyak dikurangi karena dianggap membutuhkan investasi pelatihan besar dan waktu panjang sebelum mencapai produktivitas optimal.

Survei yang sama mencatat mayoritas perusahaan hanya merencanakan kenaikan gaji di bawah 2% pada 2025. Fresh graduate berada di lapisan terbawah dalam struktur kenaikan upah tersebut. Fokus penyesuaian gaji dialihkan ke tenaga kerja berpengalaman dan peran berbasis teknologi, seiring kebutuhan kompetensi yang lebih spesifik.

Perubahan struktur tenaga kerja semakin dipercepat oleh adopsi kecerdasan buatan.

Lebih dari separuh perusahaan responden KPMG menyebut AI sudah berdampak langsung pada kebutuhan tenaga kerja. Fungsi administrasi, keuangan dasar, dan analisis operasional menjadi area paling terdampak, yang selama ini banyak diisi oleh pekerja junior dan lulusan baru.

Di sisi lain, strategi perekrutan perusahaan juga bergeser. KPMG mencatat peningkatan penggunaan tenaga kontrak dan proyek jangka pendek sebagai respons terhadap ketidakpastian ekonomi. Model ini memberi fleksibilitas biaya, namun mempersempit peluang lulusan baru untuk masuk ke pekerjaan penuh waktu dengan jalur karier yang jelas.

Konsekuensi dari pola ini berpotensi bersifat jangka menengah. KPMG menemukan peningkatan proporsi lulusan yang bertahan di pekerjaan sementara lebih dari satu tahun setelah lulus. Tanpa pengalaman kerja awal yang memadai, pembentukan keterampilan profesional melambat dan mobilitas karier menjadi terbatas.

Bagi Hong Kong, tekanan pada pasar kerja lulusan baru menjadi sinyal penting bagi dunia pendidikan dan pembuat kebijakan. Tanpa penyesuaian kurikulum, penguatan kemitraan industri, dan integrasi keterampilan digital yang lebih dalam, pasar kerja berisiko menciptakan kesenjangan generasi di fase awal usia produktif.

CNBC Indonesia Research

(emb/luc)

Read Entire Article
Photo View |