Jakarta, CNBC Indonesia - Perbincangan soal homeless media sedang ramai dibahas warganet. Ini terjadi usai Badan Komunikasi (Bakom) RI merilis sejumlah nama homeless media yang tergabung dalam Indonesia New Media Forum (INMF) sebagai mitra dalam ekosistem media digital nasional.
Kepala Bakom Muhammad Qodari menyebut para pelaku new media ini dulunya sering disebut dengan istilah homeless media. Para homeless media ini, akhirnya bertransformasi menjadi new media.
"New Media Forum ini wadah kolaborasi dari beberapa pelaku new media. Jadi dulu namanya dikenal dengan istilah homeless media, tapi teman-teman berusaha bertransformasi menjadi new media," katan Qodari saat konferensi pers di kantor Bakom, Jakarta Pusat.
Lantas, apa itu homeless media?
Dalam penelitian Remotivi, homeless media merujuk pada outlet berita yang awalnya hanya mendistribusikan informasi melalui media sosial, dengan sebagian besar berbasis di Instagram atau media sosial lainnya.
Berbeda dengan media konvensional, homeless media tidak bekerja dengan struktur editorial atau mekanisme koreksi yang jelas.
Riset Remotivi menyebut bahwa homeless media umumnya dijalankan secara informal, dengan hanya sedikit karyawan.
Mengutip dari Universitas Paramadina, karena tidak memiliki editorial, homeless media membawa sejumlah kontradiksi. Mereka bekerja tanpa verifikasi berlapis, tanpa kewajiban koreksi, dan tanpa akuntabilitas.
Misinformasi juga menjadi perhatian penting bagi audiens homeless media.
"Karena mereka memprioritaskan kecepatan penyampaian dan keterlibatan tinggi, mereka rentan untuk mengunggah ulang informasi yang salah," tulis penelitian Remotivi bertajuk Memahami Homeless Media, dikutip Jumat (8/5/2026).
Temuan penting lainnya dari penelitian Remotivi, USAID, dan Internews, para pelaku homeless media mendanai organisasi mereka melalui dukungan berbayar, seperti lewat promosi tempat-tempat lokal komersial, hotel, restoran, kafe, acara, dan sebagainya.
Berbeda dari media konvensional, kerentanan homeless media, yang tidak dilindungi oleh Undang-Undang Pers dan sering kurang memahami hukum, juga perlu diperhatikan.
Model bisnis homeless media dipelopori oleh beberapa entitas yang kemudian menjelma menjadi perusahaan besar. Berikut beberapa contohnya:
BuzzFeed
BuzzFeed adalah contoh paling legendaris dari suksesnya strategi homeless media.
- Pada awalnya, BuzzFeed tidak berusaha mendorong audiens untuk mengunjungi website mereka. Mereka fokus membuat konten daftar (listicle) dan kuis yang dirancang khusus untuk dibagikan secara langsung di Facebook dan Pinterest.
- BuzzFeed kemudian berkembang menjadi konglomerasi media global dengan divisi khusus seperti BuzzFeed News yang bekerja seperti media tradisional. Pada masa puncaknya, BuzzFeed sempat mencapai kapitalisasi pasar US$ 1,7 miliar di bursa saham NASDAQ.
LADBible Group
Bermarkas di Inggris, LADBible adalah salah satu perusahaan media sosial paling sukses.
- LADBible dimulai hanya sebagai Facebook Page pada tahun 2012 untuk mengunggah meme dan video lucu. Mereka tidak memiliki tim redaksi tradisional pada awalnya.
- Akun Facebook ini kemudian tumbuh menjadi LBG Media Group, yang kini memiliki beberapa merek besar (seperti UNILAD dan SPORTbible). Pada tahun 2021, perusahaan ini melantai di Bursa Efek London dengan nilai valuasi sekitar 360 juta pound
Brut
Brut adalah perusahaan media asal Prancis yang kini menjadi kiblat berita bagi Gen Z di seluruh dunia.
- Brut sengaja didirikan sebagai media tanpa website. Semua kontennya berupa video format persegi dengan teks (subtitel) yang dioptimalkan untuk Facebook, Instagram, dan TikTok.
- Brut berekspansi ke AS, India, dan seluruh Eropa. Mereka telah mengumpulkan pendanaan lebih dari US$ 150 juta dan kini menjadi media yang paling banyak ditonton di jejaring sosial di Eropa.
Kenapa model homeless media sukses secara global?
Berdasarkan beberapa sumber, berikut adalah perbedaan antara homeless media dan media tradisional:
|
Media Tradisional |
Homeless Media |
|
|
Cara menarik audiens |
Menarik pengguna ke website |
Mendistribusikan konten ke akun media sosial pengguna |
|
Monetisasi |
Banner |
Kerja sama dengan brand |
|
Strategi |
Mencari klik lewat media sosial dan medium lain |
Saksikan konten langsung di media sosial |
|
Hasil |
Trafik ke website |
Menciptakan konten yang viral di media sosial |
(dem/dem)
Addsource on Google
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5469088/original/050162300_1768056820-photo-grid_-_2026-01-10T214641.503.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5470160/original/093473700_1768198487-Web_Photo_Editor__7_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5477646/original/004491700_1768878450-IMG_3751_1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5471422/original/000633700_1768286512-IMG_3417_1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5468304/original/037132200_1767946563-SnapInsta.to_610749735_18549996940061415_8535549228643964214_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5470425/original/077219800_1768205094-IMG_3373_1_.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5486757/original/019141800_1769602655-collage-1769596211664.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5476556/original/026644100_1768790835-IMG_3690.jpeg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5481587/original/057603900_1769138835-IMG_4016_1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5491115/original/080022400_1770084821-SnapInsta.to_625152096_18554994268033381_7306742263003952834_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5477935/original/012060500_1768886325-SnapInsta.to_615725260_18500994511075453_3550084569127070338_n.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5487481/original/032833700_1769666688-Screenshot_2026-01-29_125613.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5482558/original/061677900_1769229471-IMG_4061_1_.jpeg)