Emas Minggir Dulu, Harga Perak Melesat Cetak Rekor Sepanjang Masa

22 hours ago 8

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga perak global sepanjang pekan ini terpantau cerah bergairah hingga menyentuh rekor tertinggi sepanjang masanya, di mana perak masih menjadi salah satu alternatif dari emas.

Merujuk Refinitiv, harga perak di perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (29/8/2025) ditutup di posisi US$ 39,67 per troy ons, melonjak 1,54% dari perdagangan sehari sebelumnya.

Sedangkan selama sepekan terakhir, harga perak melejit 2,18% secara point-to-point (ptp). Bahkan, harga perak menyentuh rekor tertinggi sepanjang masanya (all time high/ATH).

Kenaikan harga perak salah satunya tidak lepas dari faktor makro. Inflasi global yang belum benar-benar reda membuat investor kembali melirik aset lindung nilai (hedging).

Selain itu, reli ini juga terjadi karena investor terus bertaruh pada penurunan suku bunga pada pertemuan kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed) pada September mendatang, meskipun data inflasi AS beragam.

Indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) inti bulan Juli naik menjadi 2,9% YoY, tertinggi dalam lima bulan, sementara PCE utama tetap stabil di 2,6%.

Meskipun pembacaan inti yang lebih kuat mempersulit debat kebijakan, pasar semakin berfokus pada pasar tenaga kerja, di mana tanda-tanda melambatnya momentum perekrutan dan pertumbuhan upah yang lebih rendah menunjukkan risiko yang lebih besar bagi perekonomian daripada tekanan inflasi yang berkepanjangan.

Sementara itu, permintaan industri khususnya dari sektor panel surya dan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) atau kendaraan listrik terus menjadi penopang fundamental perak.

Seiring agenda transisi energi dunia, kebutuhan perak diperkirakan akan tetap tinggi.

Di lain sisi, kekhawatiran atas independensi The Fed semakin meningkat setelah Presiden AS Donald Trump memberhentikan Gubernur The Fed Lisa Cook atas tuduhan penipuan hipotek.

Cook telah menanggapi dengan gugatan yang meminta perintah pengadilan untuk memblokir keputusan tersebut, menandai tantangan hukum yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap otonomi bank sentral.

Peristiwa ini telah mengguncang kepercayaan terhadap kebijakan moneter AS dan semakin menekan dolar AS, memperkuat aliran dana safe haven ke perak.

Meski begitu, beberapa analis memperingatkan potensi aksi ambil untung, apalagi setelah reli yang cukup konsisten sejak awal Agustus.

Ke depan, pelaku pasar akan menanti data ekonomi global, termasuk rilis PMI dan arah kebijakan bank sentral AS. Jika dolar AS kembali menguat, perak bisa mendapat tekanan.

Namun sebaliknya, jika sinyal pemangkasan suku bunga makin jelas, logam mulia ini berpeluang melanjutkan tren positifnya.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(chd/chd)

Read Entire Article
Photo View |