Siapa Eyal Zamir? Otak "Kebrutalan"dan Panglima Tertinggi Militer Israel

4 hours ago 5

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

01 April 2026 20:30

Jakarta, CNBC Indonesia - Di balik agresivitas militer Israel di Timur Tengah, ada sosok jenderal yang memegang kendali di level komando tertinggi.

Dalam sistem Israel, keputusan besar soal militer lebih dulu diambil oleh pemerintah dan kabinet keamanan yang dipimpin perdana menteri. Secara struktur, militer Israel atau Israel Defense Forces (IDF) berada di bawah otoritas pemerintah, sementara Menteri Pertahanan menjadi pejabat sipil yang membawahi militer.

Dari situlah komando kemudian turun ke pimpinan militer tertinggi Israel, yakni Chief of the General Staff atau Kepala Staf Umum IDF. Jabatan ini saat ini dipegang oleh Letnan Jenderal Eyal Zamir.

Dengan kata lain, ketika pemerintah menetapkan arah operasi militer, Eyal Zamir adalah sosok yang bertugas menerjemahkannya menjadi strategi, rencana perang, hingga pelaksanaan operasi di lapangan.

Itu berarti, dalam posisi sebagai Kepala Staf Umum IDF, Zamir juga berada di level komando tertinggi yang memimpin Operation Roaring Lion, yakni operasi serangan Israel ke Iran yang mulai dijalankan pada 28 Februari 2026.

Karena itu, posisi Zamir sangat penting. Dia bukan hanya jenderal senior, tetapi juga figur utama yang menghubungkan keputusan politik dengan pelaksanaan perang.

Zamir sendiri bukan nama baru di militer Israel. Sebelum menjadi pimpinan tertinggi IDF, dia meniti karier panjang dari korps lapis baja, memegang berbagai posisi komando tempur, hingga masuk ke lingkar strategis dekat perdana menteri dan Kementerian Pertahanan.

Pengalaman itulah yang membuatnya dikenal bukan cuma sebagai komandan lapangan, tetapi juga sebagai sosok yang paham strategi perang dan cara kerja pengambilan keputusan di level negara.

Tumbuh dari Korps Lapis Baja

Eyal Zamir lahir di Eilat, Israel, pada 1966. Dia memulai dinas militernya pada 1984 setelah lulus dari sekolah persiapan komando junior IDF, lalu masuk ke Armored Corps atau Korps Lapis Baja.

Dari sinilah karier militernya dibentuk. Pada awalnya, dia pernah menjadi komandan peleton tank, komandan kompi, perwira operasi divisi, hingga komandan batalion.

Kariernya kemudian terus menanjak. Pada awal 2000-an, Zamir memegang sejumlah posisi penting di lingkungan pasukan darat, termasuk memimpin brigade cadangan dan pusat pelatihan taktis.

Saat Operation Defensive Shield, dia memimpin brigade cadangan Bnei Reshef dalam pertempuran di wilayah Jenin. Sesudah itu, dia juga pernah memimpin beberapa divisi, termasuk Saar Megolan Division, Etgar reserve division, dan Gaash Division. Rangkaian jabatan ini menunjukkan bahwa Zamir dibentuk melalui pengalaman komando yang panjang sebelum naik ke pucuk pimpinan militer Israel.

Pernah Bertugas Dekat Pusat Kekuasaan

Selain dikenal sebagai komandan tempur, Zamir juga sempat menempati posisi yang sangat dekat dengan pusat kekuasaan Israel. Pada 2012-2015, dia menjabat sebagai military secretary untuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Setelah itu, dia dipercaya memimpin Southern Command pada 2015-2018, salah satu komando paling sensitif di Israel karena bersinggungan langsung dengan Gaza.

Dalam masa itu, dia terlibat dalam upaya menghadapi terowongan-terowongan dari Gaza dan mengelola ketegangan di wilayah perbatasan. Kariernya lalu berlanjut sebagai Deputy Chief of Staff pada 2018-2021 di bawah Letnan Jenderal Aviv Kochavi. Dalam kapasitas itu, dia ikut mengoordinasikan implementasi rencana multi-tahun militer Israel dan terlibat dalam pengelolaan bantuan militer ke sektor sipil saat pandemi Covid-19.

Pada 2023, Zamir masuk lebih jauh ke jantung birokrasi pertahanan ketika ditunjuk sebagai Director General of the Israel Ministry of Defense.

Naik ke Puncak Komando Israel

Nama Eyal Zamir sebenarnya sudah beberapa kali muncul dalam bursa calon Kepala Staf Umum IDF.

Namun, dia baru benar-benar dipilih untuk posisi itu pada awal 2025. Pemilihannya diumumkan pada 1 Februari 2025, lalu dia resmi menggantikan Lt. Gen. Herzi Halevi pada 5 Maret 2025. Halevi mundur setelah harus menerima tanggung jawab atas kegagalan militer Israel dalam mencegah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 silam.

Pergantian ini membuat Zamir datang ke pucuk komando pada salah satu fase paling sensitif dalam sejarah Israel.

Dia mengambil alih militer ketika bayang-bayang serangan 7 Oktober masih sangat kuat, perang belum benar-benar usai, dan Israel masih menghadapi ancaman dari berbagai front.

Tak lama setelah menjabat, Zamir juga langsung mengambil sejumlah langkah penting, termasuk meninjau ulang penyelidikan internal terkait kegagalan 7 Oktober.

Pada November 2025, dia bahkan mengumumkan serangkaian tindakan disipliner terhadap sejumlah perwira senior terkait kegagalan pada hari serangan tersebut.

Punya Pandangan Keras soal Iran dan Perang

Secara akademik, Zamir memiliki latar pendidikan yang kuat. Dia meraih gelar sarjana ilmu politik dari Tel Aviv University, gelar master di bidang national security dan ilmu politik dari Haifa University, serta mengikuti General Management Program di Wharton School.

Bekal pendidikan ini membuat profilnya tampak bukan hanya sebagai komandan lapangan, tetapi juga sebagai sosok yang dibentuk untuk berpikir strategis.

Di luar itu, Zamir juga dikenal memiliki pandangan keras terhadap ancaman yang dihadapi Israel, termasuk soal Iran.

Dalam riwayat biografinya, dia disebut pernah menekankan bahwa Iran tidak boleh dibiarkan memperoleh senjata nuklir, bahkan bila perlu dicegah melalui tindakan militer. Dia juga menaruh perhatian pada pengembangan kecerdasan buatan atau (AI) untuk kepentingan militer.

Nada keras itu juga terlihat setelah dia ditunjuk sebagai Kepala Staf Umum IDF. Pada Februari 2025, Zamir mengatakan bahwa 2025 akan tetap menjadi tahun pertempuran meskipun ada gencatan senjata di beberapa front.

Dia menekankan pentingnya Israel memperkuat kemandirian produksi persenjataan dan menunjukkan kepada musuh-musuhnya bahwa Israel tetap memiliki kekuatan tempur yang besar.

Deretan Tuduhan Pelanggaran & Kebrutalan Israel
Nama Eyal Tamir mencapai puncak bersamaan dengan sederet sorotan tajam ke Israel, terutama di Perang Gaza.

Operasi militer Israel di Gaza sepanjang 2023-2025 menjadi salah satu contoh dari operasi militer Israel yang menuai sorotan tajam dunia internasional. Sejumlah lembaga hak asasi manusia (HAM) hingga badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkap berbagai temuan yang menjadi dasar kritik terhadap dampak perang tersebut, terutama terhadap warga sipil.

Laporan dari berbagai organisasi menunjukkan korban jiwa sipil dalam jumlah besar. Lebih dari 44.000 orang dilaporkan tewas sepanjang 2023-2024, sementara sejumlah studi memperkirakan angka tersebut bisa melampaui 75.000 dalam 16 bulan pertama konflik. Mayoritas korban disebut merupakan perempuan dan anak-anak.

Temuan ini menjadi dasar utama kritik bahwa operasi militer memiliki dampak besar terhadap populasi sipil.

Selain itu, Human Rights Watch menyoroti dugaan serangan yang tidak proporsional dan bersifat indiscriminatif. Organisasi tersebut menyebut adanya indikasi pelanggaran hukum perang dalam sejumlah operasi militer.

Kerusakan infrastruktur sipil juga menjadi perhatian. Rumah, sekolah, hingga fasilitas kesehatan dilaporkan mengalami kehancuran dalam skala besar. Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan bahwa sistem kesehatan di Gaza mengalami kerusakan parah, yang berpotensi melanggar hukum internasional.

Di sisi lain, laporan HAM juga menyinggung dugaan "hukuman kolektif", termasuk pembatasan akses terhadap makanan, air, dan listrik. Bahkan, muncul tuduhan bahwa kelaparan digunakan sebagai bagian dari strategi perang.

Konflik ini juga memicu pengungsian besar-besaran. Ratusan ribu hingga jutaan warga sipil dilaporkan terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka akibat intensitas pertempuran.

Sejumlah investigasi juga menunjukkan tingginya proporsi korban sipil, yang dalam beberapa estimasi mencapai lebih dari 80% dari total korban jiwa.

Tuduhan paling serius datang dari Amnesty International, yang menyebut adanya indikasi genosida serta kehancuran sistematis. Komisi PBB juga mengemukakan kekhawatiran serupa terkait potensi kejahatan terhadap kemanusiaan.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Photo View |