Meski Dibuka, Petaka Hormuz Belum Usai: Dunia Kacau Balau Lebih Lama

3 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Penutupan efektif Selat Hormuz tidak hanya menghentikan arus minyak dan gas, tetapi juga berpotensi meninggalkan dampak jangka panjang terhadap rantai pasok global dan pola perdagangan internasional meski pembukaan segera dilakukan.

Para pelaku industri pelayaran dan perdagangan memperingatkan bahwa pembukaan kembali jalur tersebut tidak otomatis mengembalikan kondisi normal. Dampak logistik diperkirakan akan terasa lama setelah kapal-kapal kembali melintas.

"Ketika perang secara resmi berakhir, dan pengeboman dihentikan, itu tidak berarti perang telah berakhir bagi logistik, karena saat itulah pekerjaan sebenarnya dimulai," kata Nils Haupt, direktur senior komunikasi korporat di perusahaan pelayaran Jerman Hapag-Lloyd, dikutip dari Al Jazeera, Rabu (1/4/2026).

Ia memperkirakan akan terjadi lonjakan besar kapal yang ingin masuk ke pelabuhan utama di Teluk Persia. "Banyak kontainer masuk ke wilayah itu, dan kita akan melihat gangguan rantai pasok ke dan dari Teluk Persia," ujarnya.

Menurut International Maritime Organization, sekitar 2.000 kapal saat ini tertahan di kawasan tersebut akibat blokade parsial oleh Iran, yang hanya mengizinkan sejumlah kecil kapal dari negara yang dianggap bersahabat untuk melintas.

Menurut perusahaan intelijen maritim Windward, sekitar 400 kapal lainnya berada di Teluk Oman, menunjukkan bahwa perusahaan pelayaran menunggu momen pembukaan kembali jalur tersebut.

Sebagian kapal lain dialihkan ke Terusan Suez atau mengambil rute jauh mengelilingi Tanjung Harapan untuk mengirimkan barang ke Asia dan Eropa. Pengiriman minyak dari Arab Saudi bahkan dialihkan melalui Laut Merah guna menghindari selat tersebut.

Svein Ringbakken dari Norwegian Shipowners' Mutual War Risks Association mengatakan penumpukan minyak, gas, dan barang lain akan sulit dibereskan cepat meskipun fasilitas logistik beroperasi penuh.

"Jawaban singkatnya adalah akan memakan waktu berbulan-bulan untuk mengembalikan rantai pasok pelayaran ke kondisi normal karena penumpukan tersebut," katanya.

Ia menambahkan bahwa banyak lini produksi harus dihentikan karena keterbatasan kapasitas penyimpanan.

"Lini produksi harus dihentikan untuk banyak produk karena kurangnya kapasitas penyimpanan," ujarnya. "Tambahkan kerusakan pada fasilitas produksi dan infrastruktur pelabuhan. Semua ini menambah inefisiensi ketika selat dibuka."

Menurut International Energy Agency, lebih dari 40 aset energi di kawasan tersebut mengalami kerusakan berat. Perusahaan energi seperti QatarEnergy, Kuwait Petroleum Company, dan Bapco Energies bahkan menyatakan force majeure akibat gangguan produksi.

Adapun penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran, sebagai balasan atas serangan Amerika Serikat dan Israel sejak 28 Februari, telah mengganggu sekitar 20% pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia. Hal ini turut mendorong kenaikan harga energi global.

Selain itu, ekspor petrokimia, pupuk, serta bahan baku plastik juga ikut terhambat.

SV Anchan dari Safesea mengatakan gangguan ini memunculkan pertanyaan jangka panjang tentang cara perusahaan pelayaran mengelola risiko.

"Dari sudut pandang industri, masalahnya melampaui sekadar akses. Munculnya ancaman asimetris, termasuk kemampuan serangan tanpa awak, telah secara fundamental mengubah lingkungan risiko," ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pemulihan memerlukan stabilitas jangka panjang. "Bahkan jika dibuka sepenuhnya, kembali ke kondisi normal akan membutuhkan periode stabilitas yang berkelanjutan."

Marco Forgione dari Chartered Institute of Export & International Trade menilai kepercayaan industri pelayaran akan sulit pulih.

"Membangun kembali kepercayaan pengirim terhadap keamanan selat akan membutuhkan jaminan keamanan yang signifikan, yang bisa memakan waktu bertahun-tahun," katanya.

Ia juga menyoroti lonjakan premi asuransi hingga 300%. "Perusahaan pelayaran hanya dapat menyerap kenaikan ini untuk waktu terbatas," ujarnya.

Oscar Seikaly dari NSI Insurance Group mengatakan tarif asuransi perang baru bisa kembali normal jika keamanan benar-benar terjamin. "Resolusi harus benar-benar permanen dan keamanan dijamin 100%, bukan sebagian atau 90%."

Data dari Lloyd's List menunjukkan hanya segelintir kapal yang melintas setelah mendapat izin Teheran. Bahkan satu kapal dilaporkan membayar US$2 juta untuk melintas. Legislator Iran juga menyetujui aturan biaya transit, menurut Fars News Agency.

Nick Marro dari Economist Intelligence Unit mengatakan pengalaman serangan di Laut Merah menunjukkan pemulihan kepercayaan tidak mudah.

"Masih ada banyak kekhawatiran mengenai ketahanan gencatan senjata atau deeskalasi konflik," katanya.

Marro memperkirakan perusahaan akan mendiversifikasi rute perdagangan seperti yang terjadi saat pandemi Covid-19.

"Saya pikir, mengingat ketidakpastian geopolitik saat ini, ini kemungkinan akan menjadi fitur permanen manajemen risiko, bukan sekadar respons sementara terhadap perang Iran," ujarnya.

(luc/luc)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |