Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi ini, Kamis (5/3/2026).
Merujuk data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan penguatan 0,24% atau terapresiasi ke posisi Rp16.840/US$. Pergerakan ini membalikkan posisi rupiah pada penutupan perdagangan sebelumnya, Rabu (4/3/2026), ketika rupiah berada di zona merah dengan pelemahan 0,18% ke level Rp16.880/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) per pukul 09.00 WIB terpantau melemah 0,09% di level 98,693. Pelemahan ini melanjutkan tren sehari sebelumnya, ketika DXY ditutup terdepresiasi 0,29% di level 98,769.
Dinamika dolar AS masih diperkirakan menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini. Dolar AS tercatat mulai tertahan setelah reli kuat sebelumnya, seiring pelaku pasar yang berasumsi bahwa perang di Timur Tengah tidak akan berlangsung selama yang dikhawatirkan.
Pelaku pasar juga merespons sentimen yang sempat muncul terkait sinyal keterbukaan pembicaraan untuk mengakhiri konflik, meski kemudian dibantah oleh Teheran. Kondisi ini mencerminkan sentimen pasar yang masih rapuh, namun cukup untuk memberi ruang koreksi pada dolar AS. Pada gilirannya, pelemahan dolar membuka peluang penguatan pada mata uang lain, termasuk rupiah.
Dari dalam negeri, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan Bank Indonesia akan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan meredam dampak meluasnya konflik di Timur Tengah.
Destry mengatakan intervensi yang tegas dan konsisten akan terus dilakukan BI, baik melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, maupun pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
(evw/evw)
Addsource on Google

















































