Perang Berubah Total: Dunia Berlomba Buat Senjata Canggih dan Cerdas

2 hours ago 5

Amalia Zahira,  CNBC Indonesia

24 April 2026 14:10

Jakarta, CNBC Indonesia - Dunia saat ini tengah mengalami peningkatan belanja militer secara cepat. Dalam satu dekade terakhir, pengeluaran pertahanan global terus meningkat secara riil, dengan lonjakan terbesar terjadi pada 2024 sejak era perang dingin.

Negara-negara Eropa anggota NATO, yang menyadari lemahnya persenjataan mereka pasca invasi Rusia ke Ukraina, diproyeksikan akan menambah belanja hingga €300 miliar per tahun pada akhir dekade ini. Sementara itu, China terus meningkatkan anggaran militernya setiap tahun dalam skala yang setara dengan total anggaran pertahanan Taiwan.

Namun, kekuatan militer tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran, melainkan oleh kemampuan memproduksi senjata yang relevan dengan karakter perang masa depan.

Penggunaan Senjata Ukraina dan Timur Tengah

Konflik di Ukraina dan ketegangan di Timur Tengah memberikan gambaran yang berbeda. Ukraina menunjukkan efektivitas drone murah yang terus diperbarui secara cepat untuk menghadapi kekuatan militer Rusia yang lebih besar.

Sebaliknya, Amerika Serikat dan Israel mengandalkan teknologi tinggi seperti jet tempur siluman dan pembom strategis dalam operasi militernya terhadap Iran.

Meski tampak berbeda, kedua pendekatan ini menegaskan pentingnya kombinasi antara teknologi canggih dan sistem persenjataan yang fleksibel serta adaptif.

Kapasitas Produksi Senjata

Salah satu pelajaran utama adalah kebutuhan akan kapasitas produksi pertahanan yang lebih besar. Dalam waktu 40 hari konflik, Amerika Serikat dilaporkan telah menghabiskan setengah stok amunisi pertahanan udara kelas atasnya.

Hal ini menunjukkan bahwa militer modern membutuhkan keseimbangan antara sistem persenjataan mahal dengan jumlah terbatas dan senjata murah yang dapat diproduksi massal serta mudah diganti.

Selain itu, faktor penentu utama kini bergeser ke perangkat lunak, senjata paling efektif adalah yang didukung algoritma terbaik, data berkualitas tinggi, dan pembaruan yang cepat.

Transformasi Industri Pertahanan AS

Industri pertahanan Amerika Serikat tengah mengalami transformasi besar. Perusahaan seperti Palantir Technologies kini memiliki valuasi yang melampaui RTX Corporation, pemain lama di sektor pertahanan. Bersama SpaceX dan Anduril Industries, mereka membentuk kelompok "neo-primes" yaitu perusahaan berbasis perangkat lunak yang mendefinisikan ulang industri persenjataan.

Perusahaan-perusahaan ini mengadopsi pendekatan manufaktur modern, termasuk teknik dari industri otomotif, serta berinvestasi besar dalam riset dan pengembangan internal.

Perubahan ini juga didukung oleh reformasi dalam sistem pengadaan militer Amerika. Di bawah kepemimpinan Pete Hegseth, Pentagon berupaya mempercepat proses pembelian yang selama ini dikenal kompleks dan birokratis. Selain itu, komando di garis depan diberi peran lebih besar dalam menentukan kebutuhan, serta ada dorongan untuk memanfaatkan teknologi komersial dibandingkan solusi khusus yang mahal.

Langkah ini membuka peluang bagi perusahaan baru untuk bersaing dengan pemain lama, menciptakan ekosistem industri yang lebih beragam dan inovatif.

Eropa Tertinggal dalam Teknologi Pertahanan

Di sisi lain, Eropa masih tertinggal dalam pengembangan industri teknologi pertahanan. Minimnya perusahaan besar baru di sektor ini disebabkan oleh pasar yang terfragmentasi, keterbatasan akses modal ventura, serta rendahnya permintaan dari pemerintah.

Sebagian besar anggaran pertahanan masih dialokasikan untuk peralatan konvensional, seperti yang terlihat pada dana khusus €100 miliar milik Jerman.

Di Inggris, target alokasi 10% untuk teknologi baru bahkan sempat mencakup jet F-35 Lightning II, teknologi yang sebenarnya sudah berusia dua dekade. Hal ini menunjukkan lambatnya adaptasi terhadap inovasi baru.

Meski demikian, Eropa masih memiliki peluang untuk mengejar ketertinggalan. Ekosistem teknologi pertahanan Ukraina yang berkembang pesat sejak 2022 menjadi aset strategis yang dapat dimanfaatkan.

Inggris telah bekerja sama dengan Ukraina dalam pengembangan drone pencegat atau kendaraan udara tanpa awak, sementara Jerman menjalin kesepakatan drone baru. Perusahaan seperti Rheinmetall juga telah membentuk joint venture dengan Destinus untuk memproduksi rudal jarak jauh dengan biaya lebih rendah.

Ukraina bahkan menawarkan data medan perang untuk melatih kecerdasan buatan atau AI, dimana menjadi komponen penting dalam sistem persenjataan generasi berikutnya. Jika dimanfaatkan secara optimal, kolaborasi ini dapat memperkuat industri pertahanan Eropa dan mengurangi ketergantungan pada Amerika Serikat.

(mae/mae)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Photo View |