Perang AS-Israel-Iran Makan Korban, Negara Ini Teriak 'Hampir Darurat'

2 hours ago 9

Jakarta, CNBC Indonesia - Mesir dilaporkan tengah berada dalam kondisi "hampir darurat" secara ekonomi akibat eskalasi perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Presiden Abdel Fattah al-Sisi.

Sisi memperingatkan konflik regional berpotensi memicu lonjakan inflasi dan mengguncang stabilitas ekonomi negara berpenduduk terbesar di dunia Arab tersebut. Ia menyebut krisis geopolitik yang sedang berlangsung dapat berdampak langsung pada harga barang di dalam negeri.

"Krisis saat ini mungkin akan berdampak pada harga," kata Sisi dalam sebuah acara di akademi militer, Kamis (5/3/2026), seperti dikutip AFP. Ia memperingatkan para pedagang agar tidak melakukan manipulasi harga.

"Siapa pun yang melakukan praktik penipuan harga dapat diadili di pengadilan militer," tambahnya, sebagaimana dikutip dari pernyataan juru bicaranya.

Meski Mesir belum terdampak langsung secara fisik oleh konflik tersebut, gejolak perang telah menekan sektor ekonomi dan pasar keuangan negara itu.

Pada penutupan perdagangan Kamis, pound Mesir tercatat melemah ke level terendah dalam delapan bulan terhadap dolar AS, diperdagangkan di kisaran 50,2 pound per dolar di tengah laporan arus keluar investasi jangka pendek.

Ekonomi Mesir diketahui sangat bergantung pada impor, sehingga fluktuasi nilai tukar memiliki dampak besar terhadap harga barang. Sejak 2022, mata uang negara itu bahkan telah kehilangan sekitar dua pertiga nilainya terhadap dolar AS.

Selain itu, pemerintah juga mewaspadai potensi gangguan pada jalur perdagangan global. Sebelumnya, Sisi telah memperingatkan konflik dapat memengaruhi aktivitas di Terusan Suez, salah satu sumber utama devisa bagi Mesir selain jalur energi di Selat Hormuz.

Sejumlah perusahaan pelayaran global dilaporkan mulai mengalihkan rute kapal mereka menjauhi kawasan tersebut dengan memutar melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan, yang dapat meningkatkan biaya logistik global.

Di tengah meningkatnya ketegangan, Sisi mengatakan Kairo terus berupaya mendorong diplomasi untuk menghentikan konflik.

"Mesir melakukan upaya mediasi yang tulus dan jujur untuk menghentikan perang, karena kelanjutannya akan menimbulkan kerugian besar," ujar Sisi.

Mesir sebelumnya pernah menjadi tuan rumah pembicaraan nuklir antara Iran dan Badan Energi Atom Internasional serta berperan sebagai penjamin kesepakatan gencatan senjata Gaza yang dimediasi AS antara Israel dan Hamas.

Namun, pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa Teheran saat ini tidak mencari jalur gencatan senjata. Araghchi mengatakan "Iran tidak meminta gencatan senjata atau negosiasi dengan Amerika Serikat."

Pernyataan tersebut menunjukkan konflik masih berpotensi berlanjut dan meningkatkan risiko tekanan ekonomi lebih lanjut bagi negara-negara di kawasan, termasuk Mesir.

(tfa/tfa)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |