Perang Arab Makin Mengerikan, Ikuti Cara Nabi Muhammad agar Selamat

4 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang selalu menjadi bagian dari sejarah manusia, termasuk pada masa hidup Nabi Muhammad SAW. Dalam beberapa fase kehidupannya, beliau bukan hanya menjadi saksi, tetapi juga terlibat langsung dalam konflik berdarah. Namun, keterlibatan itu tidak menjadikannya sebagai sosok yang mencintai peperangan.

Sebaliknya, Nabi Muhammad dikenal sebagai figur yang menjadikan perdamaian sebagai prinsip hidup. Karena itu, di tengah konflik bersenjata yang terus merebak dan membuka peluang terjadi Perang Dunia, umat manusia memiliki banyak hal yang bisa dipelajari dari cara beliau menghadapi konflik.

Sebagai wawasan, Nabi hidup di realitas jazirah Arab yang keras. Kekerasan, perang antarsuku, dan balas dendam merupakan bagian dari budaya sosial yang dianggap wajar. Ketika beliau diangkat sebagai nabi dan mulai menyebarkan Islam, penolakan keras datang dari lingkungan terdekatnya sendiri, terutama dari Suku Quraisy.

Namun, alih-alih merespons tekanan dengan kekerasan, Nabi memilih menahan diri. Dia bersabar, tidak reaktif, dan menunggu waktu yang tepat untuk menawarkan jalan damai. Bagi Nabi, perdamaian bukan sekadar strategi politik atau taktik bertahan hidup, melainkan nilai moral yang mendasar.

Beliau pernah bersabda:

"Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih utama daripada puasa, salat, dan sedekah? Yaitu: memperbaiki hubungan (sesama manusia). Karena rusaknya hubungan adalah pencukur (agama)," (HR. Abu Dawud)

Dalam pandangan Nabi Muhammad, perang adalah pilihan terakhir ketika semua pintu damai telah tertutup. Hal ini tercermin dalam peristiwa Perang Badar (624 M) dan Perang Uhud (625 M), yang terjadi setelah tekanan dan ancaman terus-menerus terhadap umat Islam. Bahkan dalam situasi terdesak sekalipun, beliau tetap mengutamakan jalur perdamaian sebagai prinsip utama.

Komitmen tersebut juga terlihat dalam berbagai perjanjian yang beliau bangun, seperti Piagam Madinah dan Perjanjian Hudaibiyah. Kesepakatan-kesepakatan ini menjadi fondasi penyelesaian konflik secara damai di tengah masyarakat yang plural.

Namun, menurut tim riset gabungan dari Balochistan University dan University of Karachi dalam penelitian "Conflict Resolution and the Strategies of the Prophet Muhammad" (2021), perdamaian ala Nabi Muhammad tidak hanya bertumpu pada strategi, tetapi juga pada karakter.

Karakter pertama adalah kesabaran. Dengan kesabaran, seseorang mampu tetap tenang dan tidak reaktif dalam situasi genting. Kesabaran ini berkaitan erat dengan kelembutan sikap. Nabi selalu menurunkan ego dan bersikap lembut, bahkan kepada mereka yang memusuhinya.

Selain itu, Nabi Muhammad juga dikenal sebagai sosok pemaaf.

"Sifat pemaaf Nabi Muhammad merupakan faktor penting dalam membangun kedamaian dan rekonsiliasi di antara manusia," tulis tim riset tersebut.

Dari sini terlihat bahwa strategi Nabi Muhammad dalam menghadapi konflik tidak bertumpu pada kekuatan senjata atau dominasi, melainkan pada keberanian moral untuk memilih jalan damai. Perdamaian lahir dari karakter yang terlatih, seperti pemaaf, rendah hati, sabar, dan mampu menekan ego. Di tengah konflik, kekuatan moral justru menjadi benteng paling kokoh.

(mfa/wur)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Photo View |