Jakarta, CNBC Indonesia - PT PLN (Persero) mengungkapkan peralihan dari kendaraan berbasis Bahan Bakar Minyak (BBM) ke kendaraan listrik menjadi salah satu upaya transisi energi nasional. Penggunaan kendaraan listrik menawarkan efisiensi energi yang lebih tinggi dibandingkan kendaraan konvensional.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo membeberkan data perbandingan antara kedua jenis kendaraan tersebut. Menurut catatannya, mesin listrik efisien dalam mengubah energi menjadi gerak secara maksimal tanpa banyak membuang panas.
"Tapi kalau energi listrik diubah menjadi energi kinetik, itu sangat efisien. Efisiensinya lebih dari 85%. Buktinya apa? Monggo dilihat kipas angin, dilihat dari depan belakang kiri kanan apakah ada knalpotnya? Tidak ada knalpotnya. Itu tandanya konversi energi listrik menjadi energi kinetik itu sangat efisien," ujar Darmawan dalam acara peresmian Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di Kemendag, Jakarta, dikutip Jumat (6/3/2026).
Berdasarkan datanya, kendaraan BBM memiliki tingkat efisiensi hanya berkisar 13% hingga 15%. Sisanya energi terbuang menjadi panas yang keluar melalui knalpot. Sedangkan, konversi energi listrik menjadi energi kinetik mencapai lebih dari 85%.
"Artinya ini adalah pergeseran dari energi mahal menjadi energi murah, energi emisi tinggi menjadi emisi rendah. BBM saat ini sudah banyak yang berbasis pada impor, dan listrik adalah energi yang berbasis pada kekuatan domestik. Artinya shifting dari import-based energy menjadi domestic-based energy," tambahnya.
Darmawan juga merinci penghematan biaya operasional yang bisa dinikmati pengguna kendaraan listrik. Sebagai gambaran, untuk menempuh jarak 10 kilometer menggunakan mobil basis BBM dibutuhkan biaya sekitar Rp 13.000. Sementara dengan mobil listrik, jarak yang sama hanya menghabiskan 1,5 kilowatt hour (kWh) listrik dengan biaya sekitar Rp 2.600.
Selain hemat biaya operasional, peralihan ke kendaraan listrik juga dinilai mampu menekan emisi karbon secara signifikan. Meskipun sumber listriknya masih menggunakan pembangkit batu bara, emisi yang dihasilkan mobil listrik tetap lebih rendah dibandingkan mobil bensin, dan akan semakin bersih seiring beralihnya pembangkit PLN ke energi baru terbarukan.
"Artinya ini adalah pergeseran dari energi mahal menjadi energi murah, energi emisi tinggi menjadi emisi rendah. Dan BBM saat ini sudah banyak yang berbasis pada impor, dan listrik adalah energi yang berbasis pada kekuatan domestik. Artinya shifting dari import-based energy menjadi domestic-based energy," pungkas Darmawan.
(pgr/pgr)
Addsource on Google

















































