Murid Sekolah Islam di Kanada Meledak, Benarkah Karena Islamofobia?

5 hours ago 5

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

24 March 2026 16:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Sekolah Islam di Kanada kian menjamur seiring naiknya kekhawatiran orang tua Muslim soal identitas, Islamofobia, dan arah pendidikan anak mereka.

Kepala sekolah Edmonton Islamic Academy (EIA) Abraham Abougouche menegaskan bahwa dirinya, para guru, dan para murid di sekolahnya siap membela Kanada sepenuhnya. Pernyataan itu menunjukkan bahwa meski bersekolah di institusi Islam, mereka tetap melihat diri sebagai bagian dari Kanada dilansir dari The Economist.

Abraham juga menjelaskan bahwa identitas seperti itu memang tidak selalu sederhana. Menurutnya, ada dua sisi yang harus dijaga sekaligus, yakni sebagai Muslim dan sebagai warga Kanada.

Bagi Abougouche, menjaga keseimbangan itu tidak mudah. Ia menilai asimilasi bisa berbahaya jika dilakukan secara membabi buta, karena seseorang bisa kehilangan identitas pribadinya sekaligus hubungan dengan leluhur dan asal-usulnya.

Kekhawatiran seperti itu juga dirasakan banyak orang tua Muslim di Kanada. Mereka khawatir sistem sekolah negeri di negara itu, yang pada umumnya memisahkan agama dari pendidikan dan membiarkan sekolah agama beroperasi secara swasta, justru dapat menjauhkan anak-anak mereka dari nilai-nilai Islam atau membuat mereka terpapar Islamofobia.

Sebagian besar murid Muslim memang masih bersekolah di dalam sistem negeri. Namun data dari Islamic Schools Association of Canada menunjukkan jumlah murid di sekolah Islam swasta terus meningkat. Daftar tunggu di sekolah-sekolah yang sudah ada pun semakin panjang, sementara sekolah-sekolah baru juga bermunculan dengan cepat.

Edmonton Islamic Academy menjadi inspirasi bagi banyak sekolah baru tersebut. Sekolah ini didirikan pada 1987 dan kini memiliki 1.400 murid. Aula utamanya yang besar juga dirancang agar bisa berfungsi sebagai masjid. Saat ini, sekolah tersebut sedang membangun ekspansi senilai C$80 juta atau sekitar US$60 juta untuk menampung daftar tunggu yang jumlahnya sudah melebihi 1.500 orang.

Meski begitu, EIA juga akan menghadapi persaingan. Omar Ibn Al Khattab Centre, sebuah masjid di bagian selatan kota Edmonton di Kanada, juga sedang membangun sekolah Islam seluas 40 acre.

Kekhawatiran terhadap Islamofobia menjadi salah satu pendorong ekspansi ini. Laporan kejahatan kebencian terhadap Muslim di Kanada dalam beberapa tahun terakhir terus meningkat. Mohamed Abdallah, ketua dewan N.L. Islamic School di St. John's, sebuah jaringan home schooling di provinsi Newfoundland dan Labrador yang berharap segera mendirikan sekolah, mengaku mengetahui adanya guru sekolah negeri setempat yang mengatakan kepada anak-anak Muslim agar "kembali ke negara mereka".

Ia berharap keberadaan sekolah Islam di wilayah itu bisa membantu membuat orang tua Muslim tetap tinggal di provinsi tersebut.

Sekolah negeri sendiri mulai merespons kritik ini. Dewan sekolah di Ontario, Manitoba, dan British Columbia telah mengadopsi kebijakan anti Islamofobia. Beberapa bahkan melangkah lebih jauh. Dewan Sekolah Distrik Wilayah Waterloo di Ontario dilaporkan pernah mempromosikan "Islamic Apparel Store", yang menjual barang-barang dengan slogan seperti "One Ummah, One Love". Kata ummah dalam bahasa Arab berarti bangsa atau komunitas.

Kanada mewajibkan sekolah swasta mengikuti kurikulum yang ditetapkan provinsi masing-masing. Aturan ini dimaksudkan untuk menjaga standar pelajaran seperti matematika, sains, dan ilmu sosial. Namun Abougouche mengatakan sekolah Islam tetap harus sedikit kreatif agar bisa memasukkan pelajaran bernuansa Islam.

Di Tarbiyah Elementary School dekat Toronto, misalnya, pelajaran sains tentang siklus air diselingi pembahasan bahwa air adalah berkah dari Allah. Di banyak sekolah Islam, pelajaran matematika juga menyoroti pengaruh para matematikawan Muslim. Sementara di Albushra School di Ottawa, pelajaran ilmu sosial menjanjikan pembahasan tentang "kekayaan peradaban Islam" melalui sastra, puisi, dan cerita.

Abougouche mengatakan pelajaran ilmu sosial di sekolahnya juga mencoba membandingkan nasib masyarakat adat Kanada dengan pengalaman umat Muslim masa kini.

Banyak sekolah Islam juga memperpanjang jam belajar agar murid dapat belajar membaca Al-Qur'an. Dalam banyak kasus, sesi seperti ini tidak bersifat pilihan. Di Ecole Ibn Batouta yang juga berada di Ottawa, murid ditargetkan untuk menghafal setidaknya satu surah Al-Qur'an setiap tahun, bahkan didorong untuk mempelajari lebih banyak lagi.

Ahmed, bukan nama sebenarnya, adalah seorang remaja Ghana berusia 17 tahun yang bersekolah di ICE Islamia School di Toronto. Ia dengan bangga mengenakan kufi putih dan thobe Maroko yang longgar. Menurutnya, ia senang dikenal sebagai seorang Muslim.

Baginya, bersekolah di Islamia membuat lingkaran pertemanannya tetap tertutup. Ia merasa banyak remaja non-Muslim sering terkejut dengan keyakinannya dan membuatnya merasa tersisih. Bersama teman-teman sekolahnya, ia saling menantang untuk menamatkan seluruh Al-Qur'an selama Ramadan.

Namun para pendidik di sekolah negeri dan para sosiolog khawatir bahwa jika kecenderungan berteman hanya dengan sesama Muslim terus diakomodasi, hal itu bisa merusak kohesi sosial.

Kepala sekolah Ahmed, Ali Khan, mengatakan tidak semua murid seperti Ahmed. Ia juga menghadapi anak-anak yang masuk ke sekolah itu karena dipaksa orang tua mereka. Menurutnya, sekolah berusaha semaksimal mungkin menjalankan situasi tersebut. Sebagian murid akhirnya diyakinkan tentang manfaat pendidikan Islam, sementara sebagian lain kembali ke sistem sekolah negeri.

Keinginan orang tua pun tidak selalu dipenuhi sepenuhnya. Di Edmonton, Abougouche mengatakan ia menolak permintaan agar kelas dipisah berdasarkan jenis kelamin. Di beberapa sekolah, orang tua diberi kebebasan menentukan apakah anak perempuan mereka memakai hijab atau tidak. Namun di sekolah lain, hijab justru diwajibkan. Salah satu sekolah di Winnipeg mengharuskan murid perempuan memakai hijab setelah berusia 10 tahun.

Pendidikan soal seks dan gender juga menjadi sumber gesekan. Beberapa kurikulum sekolah negeri di Kanada kini mewajibkan sekolah mengajarkan tentang hubungan sesama jenis dan juga mengenai transgender. Namun banyak sekolah Muslim mengabaikan arahan tersebut.

Meski begitu, pemisahan ini tidak sepenuhnya mutlak. Abougouche mengatakan hubungan dengan sekolah non-Muslim tetap dijaga agar murid-muridnya bisa berinteraksi dengan anak-anak yang berbeda dari mereka. Menurutnya, sekolah memang menciptakan semacam gelembung untuk melindungi murid, tetapi jika mereka sama sekali tidak diizinkan keluar dari gelembung itu, situasinya juga berbahaya.

Di sekolahnya, makan siang yang disajikan adalah poutine, makanan khas Kanada. Para murid kemudian masuk ke masjid untuk salat, dengan anak laki-laki terpisah dari anak perempuan. Abougouche ingin murid-muridnya bisa memiliki keduanya sekaligus, yakni doa dan poutine.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Photo View |