Elite Iran Berguguran, Ini 10 Tokoh Kunci yang Kini Pegang Kendali

3 hours ago 6

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

24 March 2026 18:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Meski sejumlah tokoh pemimpin Iran tewas, kekuasaan di negara itu belum sepenuhnya lumpuh. Sistem yang berlapis membuat Iran tetap bisa berjalan, berkat peran Garda Revolusi yang kini makin terlihat jelas.

Hal ini tidak lepas dari struktur Republik Islam Iran yang sejak awal memang dibangun dengan lapisan kekuasaan yang kompleks. Sistem yang lahir dari Revolusi Iran pada 1979 itu tidak hanya bergantung pada satu atau dua tokoh, melainkan ditopang oleh lembaga-lembaga yang saling menopang dan sama-sama memiliki kepentingan untuk menjaga kelangsungan rezim teokratis tersebut.

Dalam sistem resmi Iran, pemimpin tertinggi atau Supreme Leader tetap menjadi pusat kekuasaan.

Ayatollah Ali Khamenei, yang menjabat sejak 1989, sebelumnya memiliki otoritas penuh dan kata akhir atas isu-isu besar negara. Setelah ia tewas dalam salah satu serangan awal perang, posisinya diwarisi oleh putranya, Mojtaba Khamenei. Namun berbeda dengan ayahnya, Mojtaba disebut belum memiliki wibawa otomatis yang sama besar di dalam sistem.

Kondisinya juga memunculkan tanda tanya. Mojtaba dilaporkan terluka dalam serangan tersebut dan di televisi pemerintah Iran disebut sebagai janbaz atau veteran terluka dari konflik yang sedang berlangsung. Lebih dari tiga minggu setelah pengangkatannya, warga Iran belum melihat foto maupun video terbaru dirinya.

Ia juga baru mengeluarkan dua pernyataan tertulis, sehingga memunculkan pertanyaan soal kondisinya dan seberapa besar kendali yang benar-benar ia miliki.

Meski militer kini sangat dominan, kepemimpinan politik Iran tidak sepenuhnya hilang. Sistem politik Iran memang memadukan pemerintahan ulama dengan presiden dan parlemen yang dipilih melalui pemilu. Semua unsur ini tetap punya peran dalam menjalankan negara, meski ruang geraknya kini semakin dipengaruhi kekuatan Garda Revolusi.

Garda Revolusi Kini Makin Dominan

Di tengah situasi itu, Korps Garda Revolusi Islam atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) justru semakin sentral. Dalam beberapa dekade terakhir, pengaruh Garda Revolusi memang terus membesar. Kini, setelah kematian Ali Khamenei dan naiknya Mojtaba Khamenei, posisi mereka dalam pengambilan keputusan strategis menjadi semakin penting.

Salah satu kekuatan utama Garda Revolusi adalah struktur organisasinya yang memang disiapkan untuk menghadapi situasi ketika pimpinan tertinggi mereka diserang atau dibunuh.

Mereka memiliki pola organisasi seperti mosaik, di mana setiap komandan sudah memiliki pengganti yang ditetapkan, dan tiap unit dapat tetap bergerak sendiri sesuai rencana yang telah disusun. Karena itu, meski banyak komandan senior tewas di awal perang, mereka tetap bisa segera digantikan oleh tokoh lain yang berpengalaman.

Ketahanan ini mencerminkan kedalaman komando Garda Revolusi. Korps ini pernah menjadi ujung tombak dalam perang Iran-Irak pada 1980 sampai 1988, dan selama puluhan tahun juga telah memimpin keterlibatan dekat Iran dengan berbagai kelompok bersenjata di banyak konflik di Timur Tengah.

Dengan kata lain, saat sejumlah figur penting hilang, Garda Revolusi masih punya cukup banyak lapisan kepemimpinan untuk menjaga mesin perang tetap berjalan.

Siapa Saja Nama-Nama yang Kini Tersisa?

Di antara nama-nama besar yang masih tersisa, salah satu yang paling penting adalah Ahmad Vahidi.

Ia kini memimpin Garda Revolusi setelah dua pendahulunya tewas. Vahidi bukan nama baru. Ia sudah lama berpengaruh di tubuh Garda Revolusi, pernah bertempur dalam perang Iran-Irak, pernah memimpin Pasukan Qods, menjabat sebagai menteri pertahanan, dan terlibat dalam penindasan terhadap perlawanan di dalam negeri.

Nama penting lain adalah Esmail Qaani, kepala Pasukan Qods Garda Revolusi. Ia dikenal sebagai figur tertutup, tetapi sejak 2020 memegang peran penting dalam mengelola hubungan Iran dengan kelompok-kelompok proksi dan sekutunya di kawasan, setelah Qassem Soleimani tewas dalam serangan drone AS.

Selain itu ada Alireza Tangsiri, kepala angkatan laut Garda Revolusi. Ia disebut memainkan peran penting dalam penutupan Selat Hormuz, langkah yang kini menjadi salah satu sumber tekanan terbesar terhadap pasar energi global.

Dari jalur politik sipil, Mohammad Baqer Qalibaf menjadi salah satu figur paling berat yang masih hidup.

Mantan komandan Garda Revolusi, mantan wali kota Teheran, dan mantan calon presiden itu kini menjabat sebagai ketua parlemen.

Dalam beberapa pekan terakhir, ia semakin vokal menyampaikan posisi Iran seiring perang berkembang. Ia juga disebut terlibat dalam pembicaraan dengan AS dalam beberapa hari terakhir, meski posisi ini masih sensitif dan diperdebatkan.

Tokoh lain yang juga penting adalah Ketua Lembaga Peradilan Ayatollah Gholamhossein Mohseni-Ejei. Ia merupakan mantan kepala intelijen dan dikenal luas sebagai tokoh garis keras. Ia juga pernah dikenai sanksi terkait perannya dalam penindasan mematikan terhadap protes besar pada 2009.

Sementara itu, Presiden Masoud Pezeshkian tetap menjadi pejabat tertinggi yang dipilih langsung oleh rakyat.

Meski jabatan presiden di Iran sekarang tidak sekuat dulu, statusnya sebagai tokoh elektoral tertinggi tetap membuat suaranya penting. Namun batas pengaruhnya terlihat jelas bulan ini, ketika ia membuat Garda Revolusi marah karena meminta maaf kepada negara-negara Teluk atas serangan Iran di wilayah mereka, lalu akhirnya harus menarik sebagian ucapannya.

Selain itu, ada pula Saeed Jalili, mantan kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, veteran perang Iran-Irak yang terluka, sekaligus salah satu tokoh paling keras dalam politik Iran. Ia kalah dalam pemilihan presiden 2024, tetapi tetap menjadi nama penting karena sikapnya yang sangat keras dan pengalamannya sebagai mantan negosiator nuklir.

Dari kalangan ulama, Ayatollah Alireza Arafi juga masuk daftar figur penting. Ia adalah anggota senior Guardian Council, lembaga yang berwenang menentukan kandidat mana yang boleh atau tidak boleh ikut pemilu. Ia juga dinilai sangat dipercaya hingga dipilih masuk ke dalam dewan sementara beranggotakan tiga orang yang menjalankan Iran setelah kematian Khamenei.

Di ranah diplomasi, Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi tetap menjadi salah satu tokoh yang sangat berpengaruh. Ia adalah diplomat senior yang selama bertahun-tahun terlibat dalam negosiasi penting dengan negara-negara Barat, juga dengan Rusia, China, serta negara-negara Arab yang menjadi tetangga sekaligus rival Iran. Di tengah kosongnya banyak figur senior, Araqchi kini tampil sebagai salah satu wajah utama Iran di hadapan dunia luar.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Photo View |