Jakarta, CNBC Indonesia - Militer China tiba-tiba membuat "lima pelajaran strategis" dari perang Amerika Serikat (AS)-Israel ke Iran. Ini terlihat di akun media sosial X, @ChinaMilBugle, yang merupakan akun media resmi militer China.
Pasukan Presiden China Xi Jinping menguraikan hal-hal yang dapat dipetik dari serangan tersebut. Di mana tentara China memperingatkan "takdir perdamaian yang buta" dan "ketergantungan berlebihan pada kekuatan luar".
"Lima pelajaran dari serangan AS-Israel ke Iran," tulis akun tersebut dikutip Kamis (5/3/2026).
"Satu, ancaman mematikan adalah pengkhianatan internal. Dua, kesalahan perhitungan yang paling mahal adalah kepercayaan buta pada perdamaian," muatnya dalam bahasa Inggris dan Mandarin.
"Tiga, kekuatan senjata yang unggul adalah seringkali menentukan hasil. Empat paradok kejam adalah ilusi kemenangan. Lima pertahanan terakhir adalah kemandirian."
Sebelumnya, AS-Israel menyerang Iran sejak 28 Februari. Serangan Sabtu itu menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khamenei.
Presiden AS Donald Trump sempat menyerukan warga Iran agar menggulingkan rezim. Iran sendiri membalas serangan itu dengan merudal Israel dan menggempur pangkalan militer AS di negara-negara Timur Tengah, seperti Qatar, Kuwait, Bahrain, UEA dan Arab Saudi.
China sendiri sudah mengeluarkan pernyataan mengutuk serangan AS-Israel sebagai hal "yang tidak dapat diterima". China juga mengecam apa yang digambarkannya sebagai "pembunuhan terang-terangan terhadap seorang pemimpin yang berdaulat dan hasutan untuk perubahan rezim".
Beijing juga menyerukan penghentian segera operasi militer dan kembalinya diplomasi dengan cepat. Menteri Luar Negeri China Wang Yi juga menyampaikan kekhawatirannya kepada Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, dengan mengatakan kepadanya selama panggilan telepon bahwa negosiator Iran dan AS telah mencapai "kemajuan signifikan" dalam pembicaraan nuklir, tapi kini telah gagal.
Sementara itu, China juga menyerukan kepada semua pihak untuk menjaga Selat Hormuz yang strategis tetap terbuka. Perairan tersebut penting bagi 20% minyak global dan 25% gas dunia.
Diketahui, beberapa kapal tanker minyak di daerah tersebut telah terkena serangan, dan lalu lintas maritim telah anjlok sekitar 70%. China sendiri membeli lebih dari 80% total produksi minyak Iran, menurut berbagai perkiraan.
(sef/sef)
Addsource on Google

















































