- Pasar keuangan Tanah Air kompak menguat baik IHGS hingga rupiah berakhir di zona hijauIHGS hingga rupiah berakhir di zona hijau
- Wall Street naik di tengah optimisme berakhirnya perang
- Neraca dagang hingga klaim penurunan AS akan menjadi fokus pasar hari ini
Jakarta, CNBC IndonesiaCNBC Indonesia - Pasar keuangan RI berhasil menutup kompak perdagangan kemarin, Rabu (1/4/2026) di zona hijau. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah berhasil IHSG) dan rupiah berhasil rebound hingga obligasi pemerintah yang jadi buruan investor.
Pasar keuangan Indonesia diharapkan mampu melanjutkan tren positifnya pada perdagangan hari ini, Kamis (2/4/2026) yang sekaligus menjadi hari terakhir perdagangan pasar keuangan Tanah Air di pekan ini.
Selengkapnya mengenai sentimen dan proyeksi pasar hari ini dapat dibaca pada halaman3 pada artikel ini. Dan para investor juga dapat mengintip agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini baik dalam negeri dan luar negeri pada halaman 4.
IHSG pada perdagangan kemarin, Rabu (1///4/2026) mampu ditutup menguat tajam dengan naik nyaris 2% atau 136,22 poin ke level 7.184,44.IHSG pada perdagangan kemarin, Rabu (1///4/2026) mampu ditutup menguat tajam dengan naik nyaris 2% atau 136,22 poin ke level 7.184,44.
Nilai transaksi pun tercatat mencapai Rp16,44 triliun, dengan melibatkan 29,99 miliar saham dalam 1,99 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun terdongkrak naik menjadi Rp12.650 triliun.
Sebanyak 494 saham naik, 224 turun, dan 240 tidak bergerak. Meski begitu, Investor asing tercatat masih melakukan aksi jual dengan total net outflow mencapai Rp165,5 miliar.
Mengutip data statistik Bursa Efek Indonesia (BEI), hampir seluruh sektor saham berada di zona hijau.BEI), hampir seluruh sektor saham berada di zona hijau.
Sektor industri memimpin penguatan dengan kenaikan 6,11%, mensusul sektor konsumen siklikal yang naik 5,22% dan sektor bahan baku yang menguat 3,55%. Sedangkan sektor kesehatan menjadi satu-satunya sektor yang terkoreksi, dengan penurunan 0,20%.mensusul sektor konsumen siklikal yang naik 5,22% dan sektor bahan baku yang menguat 3,55%. Sedangkan sektor kesehatan menjadi satu-satunya sektor yang terkoreksi, dengan penurunan 0,20%.
Dari sisi emiten, sejumlah saham konglomerasi menjadi penopang utama IHSG. PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) yang melesat 21,6% menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi 12,27 poin indeks.IHSG. PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) yang melesat 21,6% menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi 12,27 poin indeks.
Setelah itu ada PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) yang menguat 9,4 poin, serta saham milik Prajogo Pangestu, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), yang menguat 4,76% dan menyumbangkan 9,22 poin.Tbk (TLKM) yang menyumbang 9,4 poin, serta saham milik Prajogo Pangestu, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), yang menguat 4,76% dan menyumbang 9,22 poin.
Selain itu, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang naik 3,83% turut menopang IHSG dengan kontribusi 8,91 poin indeks. Sementara dari grup emiten Bakrie, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) masing-masing melonjak 10,19% dan 6,85%.Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang naik 3,83% turut menopang IHSG dengan kontribusi 8,91 poin indeks. Sementara dari grup emiten Bakrie, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) masing-masing melonjak 10,19% dan 6,85%.
Beralih ke pergerakan nilai tukar rupiah rupiah yang pada perdagangan kemarin Rabu berhasil membekukan keadaan dan ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Melansir data RefinitivRefinitiv Refinitiv Refinitiv, mata uang Garuda mengakhiri perdagangan kemarin di zona hijau dengan apresiasi 0,09% ke level Rp16.975/US$. Padahal, pada perdagangan intraday rupiah sempat menembus level psikologis Rp17.000/US$. Bahkan, rupiah sempat menyentuh Rp17.026/US$, yang menjadi level terlemah sepanjang sejarah secara intraday.intraday rupiah sempat menembus level psikologis Rp17.000/US$. Bahkan, rupiah sempat menyentuh Rp17.026/US$, yang menjadi level terlemah sepanjang sejarah secara intraday. intraday rupiah sempat menembus level psikologis Rp17.000/US$. Bahkan, rupiah sempat menyentuh Rp17.026/US$, yang menjadi level terlemah sepanjang sejarah secara intraday.intraday rupiah sempat menembus level psikologis Rp17.000/US$. Bahkan, rupiah sempat menyentuh Rp17.026/US$, yang menjadi level terlemah sepanjang sejarah secara intraday.
Ini menjadi pertama kalinya rupiah menembus level krusial tersebut di pasar spot. Namun, setelah sempat tertekan pada awal perdagangan, rupiah mampu berbalik arah dan kembali tertutup di bawah level psikologisnya. psikologisnya. psikologisnya. psikologisnya.
Pergerakan rupiah yang cukup fluktuatif kemarin mempengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan domestik.
Ekonom Pasar Global Maybank Indonesia Myrdal Gunarto mengatakan tekanan terhadap rupiah masih berkaitan erat dengan sikap investor global yang cenderung Maybank Indonesia Myrdal Gunarto mengatakan tekanan terhadap rupiah masih berkaitan erat dengan sikap investor global yang cenderung risk averse terhadap aset pasar negara berkembang seperti Indonesia di tengah perang di Timur Tengah dan harga minyak mentah yang masih bertahan tinggi. Maybank Indonesia Myrdal Gunarto mengatakan tekanan terhadap rupiah masih berkaitan erat dengan sikap investor global yang cenderungMaybank Indonesia Myrdal Gunarto mengatakan tekanan terhadap rupiah masih berkaitan erat dengan sikap investor global yang cenderung
Kondisi tersebut membuat aliran modal asing ke pasar domestik tertahan, bahkan aksi hitam-putih jual dan ambil keuntungan.
Di saat yang sama, dari dalam negeri tekanan juga datang dari meningkatnya permintaan valas untuk kebutuhan impor, terutama impor BBM, belanja rutin awal bulan, musim dividen, serta pergeseran pembayaran utang luar negeri setelah libur Lebaran.BBM, belanja rutin awal bulan, musim dividen, serta pergeseran pembayaran utang luar negeri setelah libur Lebaran. BBM, belanja rutin awal bulan, musim dividen, serta pengiriman pembayaran utang luar negeri setelah libur Lebaran.BBM, belanja rutin awal bulan, musim dividen, serta pergeseran pembayaran utang luar negeri setelah libur Lebaran.
“Untuk pergerakan nilai tukar rupiah, rasa saya ini masih erat dengan perkembangan dari sisi perilaku investor global yang masih melakukan aksi risk averse untuk berinvestasi di emerging market seperti Indonesia,” ujar Myrdal kepada CNBC Indonesia, Rabu (1/4/2026).Myrdal kepada CNBC Indonesia, Rabu (1/4/2026). Myrdal kepada CNBC Indonesia, Rabu (1/4/2026).Myrdal kepada CNBC Indonesia, Rabu (1/4/2026).
Beralih ke pasar obligasi, imbal hasil obligasi RI dengan tenor 10 tahun terpantau mengalami penurunan tajam hingga 3,07% menjadi 6,673% pada penutupan perdagangan kemarin.
Sebagai informasi, imbal hasil obligasi yang turun menandakan bahwa para pelaku pasar sedang melakukan aksi beli pada surat berharga negara (SBN).SBN). SBN).SBN).
Addsource on Google

















































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5452570/original/017450600_1766406793-IMG_2730_1_.jpeg)