Harga Emas Turun Lagi, Minyak-Dolar AS Tekan Pasar

13 hours ago 9

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

15 May 2026 06:30

Jakarta, CNBC Indonesia- Dalam beberapa hari terakhir, emas dunia mulai kehilangan ritme setelah sempat mencetak kenaikan tajam sejak April. Pasar bergerak lebih hati-hati seiring lonjakan harga minyak dan menguatnya dolar AS yang kembali mengubah arah ekspektasi suku bunga Amerika Serikat.

Menurut data Refinitiv, harga emas dunia pada Jumat (15/5/2026) pukul 6:08 WIB tercatat di level US$4.661,17 per troy ons. Posisi ini masih berada dekat area tertinggi sepanjang sejarah, meski mulai bergerak turun dibanding awal pekan yang sempat mencapai US$4.734 per troy ons.

Reuters melaporkan harga spot gold turun 0,4% ke US$4.669,48 per troy ons pada penutupan Kamis waktu AS. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni juga melemah 0,4% ke US$4.685,30 per troy ons.

Pasar fokus terhadap konflik geopolitik Timur Tengah dan arah kebijakan suku bunga AS. Keduanya saling berkaitan lewat jalur energi dan inflasi.

Harga minyak naik setelah muncul laporan kapal kargo India tenggelam dan satu kapal lain disita di dekat perairan Uni Emirat Arab menuju wilayah Iran. Ketegangan di sekitar Selat Hormuz kembali masuk radar pasar global karena jalur tersebut menjadi salah satu urat nadi perdagangan minyak dunia.

Kenaikan minyak langsung mengubah pembacaan investor terhadap inflasi AS. Energi yang lebih mahal membuat pelaku pasar mulai mengurangi harapan pemangkasan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.

Vice President sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals, Peter Grant, mengatakan kenaikan minyak dan data inflasi AS yang masih panas membuat dolar AS kembali menguat. Kondisi itu memberi tekanan pada emas karena logam mulia menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.

Indeks dolar AS dilaporkan naik sekitar 0,3% pada perdagangan Kamis. Penguatan dolar biasanya membuat permintaan emas global melambat, terutama dari investor non-AS.

Data inflasi AS memang sedang menjadi perhatian utama. Kenaikan harga produsen dan konsumen sepanjang April memperkuat pandangan bahwa The Fed belum punya ruang cukup untuk memangkas suku bunga agresif tahun ini.

Pasar sebelumnya sempat berharap penurunan suku bunga bisa dimulai lebih cepat setelah perlambatan ekonomi AS mulai terlihat pada kuartal pertama. Namun reli minyak dan inflasi energi membuat proyeksi itu berubah cepat hanya dalam beberapa hari.

Bagi emas, situasi ini cukup rumit. Secara historis, emas sering diburu ketika inflasi naik atau ketidakpastian geopolitik membesar. Namun di sisi lain, suku bunga tinggi membuat instrumen berbunga seperti obligasi AS kembali menarik sehingga arus dana keluar dari emas mulai terlihat.

Bart Melek, Global Head of Commodity Strategy TD Securities, mengatakan risiko koreksi emas masih terbuka jika konflik Timur Tengah terus mendorong biaya energi lebih tinggi. Harga energi yang naik membuat inflasi bertahan lama dan menjaga suku bunga tetap tinggi.

Dari sisi geopolitik, pasar juga menunggu hasil pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing. Dalam pertemuan tersebut, Xi menyebut negosiasi dagang berjalan positif. Namun isu Taiwan masih menjadi titik sensitif hubungan kedua negara.

Pasar keuangan global saat ini bergerak sangat sensitif terhadap perkembangan diplomatik AS-China karena hubungan kedua negara mempengaruhi perdagangan global, manufaktur, hingga rantai pasok energi dan logam.

Sentimen tambahan datang dari India. Pemerintah India mengumumkan pembatasan impor emas maksimal 100 kilogram dalam skema advance authorization. Kebijakan ini berpotensi mempengaruhi permintaan fisik emas dari salah satu konsumen terbesar dunia.

Di pasar logam lainnya, tekanan jual terlihat jauh lebih besar dibanding emas. Harga perak anjlok 4,1% ke US$84,36 per troy ons. Platinum turun 3,3% ke US$2.066,75 dan palladium melemah 3,5% ke US$1.447,73.

Meski emas masih bertahan di level historis tinggi, arah pergerakan jangka pendek kini sangat dipengaruhi oleh dolar AS, harga energi, dan ekspektasi suku bunga The Fed. Selama inflasi AS belum melandai dan konflik Timur Tengah masih memanaskan pasar minyak, ruang kenaikan emas terlihat mulai terbatas.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Photo View |