Jalan Hidup Trump vs Xi Jinping, Si Kaya vs Pernah Tinggal di Gua

2 hours ago 6

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

15 May 2026 18:45

Jakarta, CNBC Indonesia- Nama Donald Trump dan Xi Jinping kembali berada di pusat perhatian dunia setelah hubungan Amerika Serikat dan China memasuki fase paling tegang dalam satu dekade terakhir. Tarif, Taiwan, teknologi, rantai pasok, hingga perebutan pengaruh global membuat dua pemimpin ini terus berhadapan di meja diplomasi sekaligus arena ekonomi.

Namun sebelum perang tarif dan adu kekuatan terjadi, ada satu hal kontras yang sering luput dibahas masa lalu keduanya sangat berbeda. Jarak pengalaman hidup Trump dan Xi bahkan terasa seperti lahir dari dua planet politik yang berbeda.

Trump lahir pada 1946 di Queens, New York, dari keluarga pengembang properti kaya raya. Ayahnya, Fred Trump, sudah membangun kerajaan real estate sebelum Donald masuk usia dewasa. Lingkungan hidup Trump sejak kecil dekat dengan sekolah privat, bisnis keluarga, apartemen elite, dan jaringan pengusaha Manhattan. Saat memulai karier, ia disebut menerima pinjaman awal sekitar US$1 juta dari ayahnya, meski para kritikus meyakini nilainya jauh lebih besar.

Donald TrumpFoto: CNBC Internasional

Xi Jinping lahir pada 1953 di Beijing sebagai anak keluarga elite Partai Komunis China. Ayahnya, Xi Zhongxun, merupakan tokoh revolusioner penting dalam pembentukan Republik Rakyat China. Masa kecil Xi awalnya berjalan nyaman. Situasi berubah drastis ketika Revolusi Kebudayaan Mao Zedong menghantam keluarganya. Ayah Xi dipenjara dan disingkirkan dari kekuasaan. Keluarga mereka ikut terkena stigma politik.

Di usia sekitar 15 tahun, Xi dikirim ke desa miskin Liangjiahe di Provinsi Shaanxi dalam program "sent-down youth", kebijakan Mao yang memaksa jutaan remaja kota menjalani kerja kasar di pedesaan.

Di tempat itu, Xi tinggal di rumah gua dari tanah loess tanpa fasilitas modern. NPR dalam laporan "For China's Rising Leader, A Cave Was Once Home" menggambarkan Xi muda tidur di ranjang jerami dalam gua penuh kutu, membawa beban berat, berjalan di lereng gunung, dan hidup dengan jatah makanan terbatas.

 cnn.comFoto: cnn.com

Pengalaman hidup ini kemudian menjadi bagian penting dalam citra politik Xi. Ia kerap membangun narasi bahwa dirinya pernah "makan kepahitan" bersama rakyat miskin China. Di Liangjiahe, Xi juga mulai aktif di organisasi partai desa dan perlahan membangun jalur politiknya dari bawah.

Perbedaan itu terlihat jelas ketika membandingkan masa muda keduanya. Saat Xi hidup di desa miskin Shaanxi pada akhir 1960-an, Trump sedang membangun jejaring bisnis di New York. TIME dalam tulisan Jane Perlez menggambarkan Trump muda berkeliling Manhattan dengan Cadillac sopir pribadi sambil mengembangkan proyek properti dan tampil sebagai sosialita kota besar.

Latar pendidikan keduanya juga bertolak belakang. Trump menempuh pendidikan di Fordham University sebelum pindah ke Wharton School, University of Pennsylvania, dan lulus pada 1968. Jalur hidupnya langsung tersambung ke bisnis keluarga.

Xi sempat kehilangan akses pendidikan tinggi akibat Revolusi Kebudayaan. Ia baru masuk Universitas Tsinghua setelah situasi politik mulai berubah. Xi mengambil jurusan teknik kimia dan kemudian menyelesaikan studi doktoral terkait teori Marxisme dan hukum. Sebagian akademisi Barat mempertanyakan bobot akademik gelar tersebut karena dianggap sangat politis.

Perbedaan paling besar muncul dalam perjalanan menuju kekuasaan. Trump datang dari dunia bisnis dan hiburan. Ia membangun hotel, kasino, lapangan golf, hingga merek dagang global. Kariernya penuh risiko tinggi. Enam bisnisnya pernah bangkrut secara korporasi. Popularitas Trump kemudian melejit lewat acara televisi The Apprentice sebelum akhirnya masuk politik dan memenangkan pemilu presiden AS pada 2016 tanpa pengalaman pemerintahan maupun militer.

Xi menempuh jalur yang jauh lebih panjang dan senyap. Ia menghabiskan puluhan tahun naik melalui struktur Partai Komunis China. Mulai dari sekretaris desa, pejabat daerah Hebei, Fujian, Zhejiang, hingga Shanghai. Setelah lebih dari 30 tahun di birokrasi partai, Xi menjadi Sekretaris Jenderal Partai Komunis China pada 2012.

TIME menilai Xi berkembang menjadi pemimpin China paling kuat sejak Mao Zedong. Konsolidasi kekuasaan dilakukan melalui penguatan kontrol partai, restrukturisasi militer, pengawasan digital, serta kampanye antikorupsi yang menjatuhkan banyak elite politik dan jenderal senior.

Meski latar hidup mereka berbeda sangat jauh, ada satu titik yang membuat Trump dan Xi sering dibandingkan, keduanya sama-sama menyukai model kepemimpinan yang sangat personal. Trump mendominasi Partai Republik lewat pengaruh individu dan loyalitas politik. Xi melakukan hal serupa di tubuh Partai Komunis China dengan kontrol yang jauh lebih besar karena sistem politik China bersifat satu partai.

Hubungan keduanya juga sering berubah cepat. Kadang terlihat akrab di depan kamera, lalu kembali memanas akibat tarif dagang atau isu geopolitik. Jane Perlez dalam TIME menyebut hubungan Trump dan Xi seperti "capo vs capo", pertarungan dua figur besar yang sama-sama ingin mendefinisikan ulang keseimbangan kekuatan global.

Taiwan kini menjadi ujian terbesar. Beijing terus menekan klaim atas pulau tersebut, sementara posisi Trump terhadap komitmen pertahanan AS terhadap Taiwan beberapa kali dianggap berubah-ubah. Situasi ini membuat banyak analis melihat hubungan Trump-Xi akan menjadi faktor utama arah geopolitik dunia beberapa tahun ke depan.

Namun jika menelusuri akar cerita mereka, benturan dua tokoh ini sebenarnya dimulai jauh sebelum perang dagang. Satu tumbuh dari dunia properti Manhattan. Satu lagi dibentuk oleh Revolusi Kebudayaan China dan kehidupan desa miskin dalam rumah gua di Shaanxi.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Photo View |