Harga Emas Turun, Impor Perhiasan RI dari Australia Meroket 469%

2 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan signifikan impor logam mulai atau emas dan perhiasan pada tiga bulan pertama pada 2026 dari Australia.

Kondisi ini terjadi saat harga emas dunia tengah mengalami penurunan. Nilainya menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS) dari data Commodity Markets per April 2026 sebesar US$ 4.719,28 per troy ounce, terus merosot dari bulan-bulan sebelumnya, yang pada Februari 2026 masih sebesar US$ 5.019,97 per troy ounce.

"Terkait dengan harga emas di pasar internasional kembali mengalami penurunan dibanding bulan Maret yang lalu di tahun 2026," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono saat konferensi pers di Jakarta, Senin (4/5/2026).

Komoditas emas dan perhiasan yang masuk ke Indonesia tercatat sebagai bagian dari impor golongan bahan baku atau penolong yang senilai US$ 43,17 miliar pada periode Januari-Maret 2026, naik 6,89% dari catatan periode yang sama tahun lalu US$ 40,38 miliar.

"Impor bahan baku penolong yang naik cukup besar yaitu mesin perlengkapan elektrik dan bagiannya, logam mulai dan perhiasan atau permata, serta berbagai produk kimia," kata Ateng.

Pada periode Januari-Maret 2026, impor logam mulai dan perhiasan atau permata ini paling besar berasal dari Australia dengan nilai US$ 1,19 miliar dan kontribusinya 37,92%. Pertumbuhannya mencapai 469,05%.

Australia pun menempati posisi kedua terbesar negara asal impor non migas Indonesia pada periode Januari-Maret 2026 dengan porsi 5,94% dari total impor periode itu senilai US$ 61,30 miliar.

Selain logam mulia dan perhiasan atau permata, impor Indonesia dari Australia yang terbesar ialah Serealia US$ 394,55 juta, dengan pertumbuhan 38,30%, dan bahan bakar mineral US$ 301,22 juta yang terkontraksi 21,52% dibanding periode yang sama tahun lalu.

(arj/haa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |