Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas melandai ketika investor khawatir terhadap kenaikan inflasi dan ketatnya likuiditas pasar. Sebagai aset tanpa imbal hasil, emas cenderung kurang diminati saat suku bunga tinggi.
Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Kamis (16/4/2026) ditutup di posisi US$ 4787,78 per troy ons. Harganya melandai 0,05%, Pelemahan ini memperpanjang derita emas dengan melemah 1,09% dalam dua hari terakhir.
Harga emas menguat tipis pada hari ini. Pada Jumat (17/4/2026) pukul 06.22 WIB, harga emas dibanderol US$ 4792,27 per troy ons.
Harapan bahwa AS dan Iran akan mencapai perdamaian jangka panjang dan mengakhiri perang membantu harga emas bangkit kembali. Kedua negara diperkirakan melanjutkan perundingan damai setelah pembicaraan sebelumnya gagal pada akhir pekan lalu.
Presiden AS Donald Trump mengatakan dalam unggahan media sosial bahwa gencatan senjata akan dimulai pukul 17.00 EST (21.00 GMT), dengan tujuan menghentikan konflik antara Israel dan kelompok Lebanon pro-Iran Hezbollah, yang kembali memanas akibat perang AS-Israel melawan Iran.
"Jika kita melihat adanya pelonggaran ketegangan AS-Iran atau berakhirnya perang, maka peluang pemangkasan suku bunga Federal Reserve akan lebih besar ke depan... dan itu dapat menopang kompleks logam mulia," kata David Meger, Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures, kepada Reuters.
Saat ini, pelaku pasar memperkirakan peluang 32% bahwa AS akan memangkas suku bunga tahun ini.
Sementara itu, klaim baru tunjangan pengangguran AS turun pekan lalu, menandakan kondisi pasar tenaga kerja masih stabil, meski perusahaan tetap berhati-hati merekrut pekerja baru karena perang dengan Iran membayangi perekonomian.
Addsource on Google










































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5452570/original/017450600_1766406793-IMG_2730_1_.jpeg)







