Deretan Emiten Kena Dampak Tarif Trump, Ada Perusahaan Punya Kaesang!

17 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia — Serangan tarif balas dendam Trump menyasar sekitar 160 negara, tak terkecuali Indonesia yang terkena tarif resiprokal sebesar 32%.

Kebijakan kali ini mencatat sejarah sebagai langkah paling agresif yang pernah diambil negeri Paman Sam dalam era perang dagang 2025.

Meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih libur, tetapi kita patut mengantisipasi dampaknya. Pasalnya, AS merupakan salah satu mitra dagang terbesar RI setelah China.

Sepanjang Januari-Maret tahun ini, AS bahkan menyumbang surplus neraca dagang sebesar US$ 3,14 miliar, naik dibanding periode yang sama pada tahun lalu sebesar US$ 2,65 miliar.

Tim Riset Bahana Sekuritas memprediksi surplus neraca dagang RI bisa susut jadi US$ 900 juta atau bahkan US$ 700 juta gara-gara kenaikan tarif bea impor ini.

"Menurut perhitungan kami, serangkaian tarif tersebut dapat menyusutkan surplus perdagangan bulanan Indonesia menjadi USD700-900 juta dari sekitar USD3 miliar saat ini. Akibatnya, hal ini dapat meningkatkan defisit transaksi berjalan tahun fiskal 2025 menjadi 0,9% dari PDB (bias atas dari kisaran target BI sebesar 0,5-1,3%)" tulis Tim Riset Bahana Sekuritas Satria Sambijantoro dan Purbiantoro Lintang, Rabu (03/05/2025).

Lebih lanjut, Ia menjelaskan tarif impor bagi produk Indonesia kan memberikan dampak yang signifikan pada neraca pembayaran, yakni pada perdagangan dan investasi.

Sementara itu, jika dilihat dari perdagangan AS, neraca perdagangan Paman Sam dengan Indonesia saat ini negatif (defisit), artinya nilai impor AS dari RI lebih besar daripada nilai ekspor AS ke RI. Dari data Gedung Putih, nilainya minus US$ 18 miliar.

Berikut grafis-nya mengutip Reuters, Kamis (3/4/2025):

Trading AS. (Reuters/US Cencus Bureau/P. Thai Larsen)Foto: Trading AS. (Reuters/US Cencus Bureau/P. Thai Larsen)
Trading AS. (Reuters/US Cencus Bureau/P. Thai Larsen)

Selain itu, dari data tarif resiprokal yang diumumkan Trump, terlihat bahwa RI menerapkan tarif impor 64% ke barang AS. Namun ini juga termasuk "manipulasi mata uang" dan apa yang disebut Trump "trade barrier".

Secara keseluruhan kenaikan tarif impor AS itu akan berdampak negatif pada barang-barang ekspor RI. Hal itu tentunya akan berdampak ke emiten yang memiliki eksposur tinggi penjualan ke luar negeri.

Di sini kami mengurutkan beberapa emiten yang bakal kena dampaknya :

1. WOOD

Emiten yang bergerak di bidang furniture kayu, PT Integra Indocabinet Tbk (WOOD) akan menjadi salah satu perusahaan yang kena dampak paling signifikan dari kebijakan tarif Trump.

Menurut data laporan keuangan sampai akhir tahun lalu, WOOD mencatat penjualan ekspor ke AS mencapai Rp2,52 triliun, setara 90,27% dari total penjualan yang senilai Rp2,79 triliun.

Bisa dibilang penjualan ke benua Amerika menjadi bisnis utama-nya saat ini. Dengan tarif yang naik, maka beban perusahaan akan membengkak. Tahun lalu saja beban pokok pendapatan sudah melambung ke atas 38% secara tahunan (yoy), sementara total beban usaha naik 2,26%.

2. PMMP

Berikutnya, ada perusahaan yang menjual udang beku, PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP) juga terpantau akan kena dampak cukup besar dari kenaikan tarif ke AS.

Perusahaan yang masih terafiliasi dengan Kaesang ini punya bisnis utama ekspor udang beku ke beberapa negara, dan Amerika menjadi tujuan utama penjualan mereka.

Sampai September 2024 lalu, kontribusi penjualan ke AS ini mencapai US$ 42,33 juta, setara 66,80% dari total penjualan yang senilai US$ 63,37 juta.

Dengan kondisi seperti ini, tantangan PMMP untuk mencetak laba semakin sulit. Pasalnya, sampai akhir kuartal ketiga tahun lalu perusahaan ini masih menelan pil pahit kerugian sebesar US$15,26 juta atau Rp240,07 miliar (kurs Rp15.732 per dolar AS).

3. SMSM

Berikutnya ada perusahaan PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM) yang juga akan ikut terdampak dari kenaikan tarif impor AS.

Perusahaan yang punya bisnis otomotif dan mesin industri ini melakukan penjualan ekspor ke negeri Paman Sam pada akhir 2024 lalu mencpai Rp818,73 miliar, setara 15,85% dari total penjualan senilai Rp5,16 triliun.

Meskipun ekspor ke AS bukan penyumbang utama pendapatan, tetapi dengan adanya tarif itu potensi penyusutan ekspor kesana potensi berkurang atau bisa meningkatkan beban yang mana ini bisa menekan laba ke depannya.

4. TKIM dan INKP

Berikutnya ada dua perusahaan kertas yang masih satu naungan grup Sinarmas, yakni PT PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) dan PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM).

Dua perusahaan itu punya penjualan ekspor lebih dari 50%, dan salah satu negara yang dituju adalah Amerika Serikat (AS).

Sampai akhir 2024 lalu, INKP mencatat porsi penjualan ke AS sebanyak 4,30%, sementara TKIM sebanyak 3,32%. Meskipun tidak banyak, tetapi ini perlu diantisipasi karena bisa meningkatkan beban atau bisa meningkatkan porsi penjualan yang mana bisa menggerus pangsa pasar dua perusahaan itu di pasar global.

5. ICBP dan INDF

Berikutnya ada perusahaan consumer good yang jualan mie instant dan bumbu-bumbu dapur masakan andalan Tanah Air, yakni PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dan induk usahanya, PT. Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).

Berbagai produk dengan merk Indofood atau mie instant dengan merk Indomie kerap ditemukan di berbagai wilayah di penjuru dunia, termasuk AS.

Meskipun secara porsi tidak banyak, dalam laporan keuangan 2024, ICBP dan INDF sama-sama mencatatkan penjualan ekspor ke negara lain-lain, masing-masing mencapai 4,29% dan 2,85%.

CNBC INDONESIA RESEARCH

(tsn/tsn)

Read Entire Article
Photo View |