Dampak Perang, Negara Ini Akan Jual Ratusan Ton Emas demi Beli Senjata

3 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Polandia mengagetkan dunia dengan rencana penjualan Cadangan emasnya menjual emasnya. Langkah ini tidak biasa mengingat dalam dua tahun terakhir, mereka selalu menumpuk Cadangan emasnya.

Data World Gold Council (WGC)menunjukkan Bank sentral Polandia menjadi pembeli emas terbesar di antara bank-bank sentral dunia selama dua tahun terakhir.

Mereka juga menjadi salah satu penopang utama reli harga emas selama periode tersebut. Kini, ketika konflik antara Rusia dan Ukraina di perbatasan timurnya memasuki tahun keempat dan aliansi NATO berada dalam kondisi tidak menentu, negara Eropa Timur itu mempertimbangkan langkah yang sebelumnya tak terpikirkan yakni menjual cadangan emasnya. Penjualan ini untuk mendanai peningkatan besar anggaran militer.

Terlebih, kondisi geopolitik juga terus meningkat dengan meletusnya perang Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026.

Gubernur bank sentral Polandia, Adam Glapinski, mengajukan proposal untuk menghimpun dana hingga US$13 miliar atau sekitar Rp 219,7 triliun (US$1=Rp 16.900) dari penjualan cadangan emas negara guna membiayai rencana melipatgandakan anggaran pertahanan. Langkah ini merupakan bagian dari rencana yang didukung oleh presiden.

Glapinski memaparkan rencana itu dalam pertemuan dengan Presiden Karol Nawrocki pada Rabu (4/6/2026). Presiden menyatakan ingin mencari alternatif pendanaan selain program Uni Eropa yang ditentang oleh Amerika Serikat.

Nawrocki dan sejumlah pejabat pemerintahannya menyampaikan kekhawatiran terhadap program pinjaman senilai US$174 miliar dari Uni Eropa untuk pembelian senjata, yang dianggap mahal dan berpotensi merusak hubungan dengan Washington.

Menurut sumber tersebut, Glapinski mengatakan kepada Nawrocki bahwa Bank Nasional Polandia dapat memperoleh keuntungan dengan menjual sebagian dari sekitar 550 ton cadangan emas yang dimilikinya, yang nantinya bisa dibeli kembali. Selain itu, sekitar US$3,25 miliar dapat diperoleh dari sumber pendapatan lain melalui bank sentral, sehingga total tambahan pembiayaan pertahanan tahun ini bisa mencapai US$16 miliar.

Dalam jangka panjang, nilai total rencana tersebut dapat mencapai sekitar US$50 miliar, yang kira-kira setara dengan pinjaman SAFE yang diusulkan Eropa untuk dialokasikan kepada Warsawa, menurut presiden Polandia.

Sumber tersebut juga mengatakan kepada Bloomberg bahwa opsi lain adalah mengubah undang-undang agar bank sentral dapat menilai kembali (revalue) cadangan emas untuk merealisasikan keuntungan dari kenaikan nilainya, sekaligus menyusun undang-undang yang mewajibkan dana tersebut dialokasikan untuk belanja pertahanan.

Glapinski sudah dan mengonfirmasi bahwa ia sedang mengerjakan rencana berbasis cadangan emas tetapi belum mengungkapkan rincian lebih lanjut.

Penjualan cadangan emas akan menjadi perubahan besar dalam kebijakan negara tersebut. Bank sentral Polandia selama beberapa tahun terakhir justru menjadi pembeli emas resmi terbesar di dunia, dengan menambah lebih dari 100 ton emas ke cadangannya pada 2024 dan 2025.

Pada September tahun lalu, Glapinski mengatakan bahwa bank sentral Polandia berencana meningkatkan kepemilikan emas hingga 30% dari total aset cadangan untuk memperkuat keamanan finansial negara.

"Dalam masa-masa sulit dengan gejolak global dan pencarian tatanan keuangan baru, emas adalah satu-satunya investasi aman bagi cadangan negara," kata Gubernur Bank Nasional Polandia Adam Glapinski saat itu, seraya menambahkan bahwa skala dan kecepatan pembelian emas akan bergantung pada kondisi pasar.

Data WGC mencatat cadangan emas Polandia mencapai 550 ton dan berada di peringkat 13 besar dunia.

Seperti diketahui, Amerika Serikat (AS) mendesak negara-negara sekutunya di kawasan Asia-Pasifik, termasuk Jepang, untuk meningkatkan belanja pertahanan hingga 5% dari Produk Domestik Bruto (PDB) mereka.


Saat ini, anggaran pertahanan Polandia mencapai 4,2% dari PDB.

(mae/mae)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Photo View |