Jakarta, CNBC Indonesia - China dilaporkan memiliki segudang senjata berbasis AI dengan berbagai alat yang disiapkan. Dari temuan penelitian Universitas Georgetown, kemungkinan Beijing tengah menguji AI pada berbagai bidang militer.
Para peneliti melakukan analisa ribuan permintaan pengadaan Tentara Pembebasan Rakyat China. Dokumen itu berisi eksperimen AI yang dilakukan China pada AI militer.
AI digunakan China dalam modernisasi militernya. Ini dilakukan dengan tiga fase yang saling terhubung yakni mekanisasi, jaringan digital platform dan sensor, dengan dua fase sudah dilakukan dan tengah mendorong pada bagian ketiga.
Dokumen-dokumen itu juga mengungkapkan militer China yang mengembangkan kawanan drone. Pengembangan tersebut untuk melakukan identifikasi, pelacakan, dan koordinasi serangan pada target.
China juga menyediakan robot anjing dan humanoid. Adapula algoritma peperangan satelit dan robot kecil untuk menempel pada satelit musuh dan menonaktifkannya, dikutip dari Decoder, Kamis (5/3/2026).
Tak hanya itu, China juga menyiapkan kendaraan otonom dan jaringan sensor yang bertujuan melacak kapal selam Amerika Serikat (AS) di seluruh dunia. Adapula sistem pengambilan keputusan berbasis AI.
Sejumlah dokumen pengadaan menuliskan permintaan teknologi deepfake. Menurut militer, gambar, video dan audio berbasis AI jadi alat efektif membentuk opini publik dan melakukan manipulasi cara musuh menanggapi situasi dan membuat keputusan selama konflik.
Para peneliti mengatakan China tidak menunggu adanya terobosan teknologi. Mereka melakukan eksperimen dengan yang ada dan melakukan peningkatan bertahap.
Dokumen-dokumen yang ditinjau itu menuliskan jangka waktu pengembangan alat tersebut. Waktu yang diminta cukup singkat termasuk untuk melakukan pengujian cepat dan relatif murah.
China menyiapkan subsidi, insentif pajak dan manfaat lain untuk mendorong perusahaan teknologi sipil dapat mengubah fungsi produk menjadi penggunaan militer.
Sebelumnya, tentara Amerika Serikat dilaporkan menggunakan teknologi AI dalam serangan militer ke Iran. Laporan The Wall Street Journal dan Axios menyebutkan Claude AI buatan Anthropic digunakan dalam operasi pengeboman gabungan AS-Israel yang dimulai Sabtu (28/2).
Teknologi AI itu dimanfaatkan untuk kepentingan intelijen, membantu pemilihan target, serta menjalankan simulasi pertempuran di medan perang.
Penggunaan 'senjata' canggih ini menegaskan betapa sulitnya militer AS melepaskan diri dari sistem AI yang telah terintegrasi dalam berbagai operasi strategis, meski secara politik telah diputuskan untuk menghentikan kerja sama.
(dem/dem)
Addsource on Google
















































