Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Shinta Widjaja Kamdani mengatakan, relokasi pabrik ke daerah dengan upah minimum lebih murah bukanlah solusi jangka panjang bagi dunia usaha. Menurutnya, keputusan relokasi maupun investasi tidak bisa hanya didasarkan pada faktor upah, melainkan harus melihat ekosistem usaha secara menyeluruh.
"Relokasi ke tempat yang lebih murah, ya betul, bukan solusi untuk jangka panjang. Karena kan kita nggak bisa lihat.. kan gini loh, orang kalau investasi baru, itu kan butuh investasi yang tidak sedikit gitu," kata Shinta saat ditemui di Menara Kadin Indonesia, Jakarta, Senin (2/2/2026).
Ia menjelaskan, investor selalu mempertimbangkan keberlanjutan usaha dalam jangka panjang. Karena itu, keputusan relokasi pabrik tidak bisa dilakukan secara instan hanya karena perbedaan biaya upah antarwilayah.
"Jadi dia harus melihat jangka panjang. Nggak bisa, 'oh karena ini yang lebih murah, kita pindah ke sini'. Nanti ke depannya gimana? Jadi memang ini harus dilihat secara keseluruhan," ujarnya.
Shinta menegaskan, besaran UMP hanyalah satu dari sekian banyak faktor yang menjadi pertimbangan investasi. Faktor lain seperti kebijakan pemerintah daerah, hubungan dunia usaha dengan Pemda, hingga kepastian berusaha dinilai sama pentingnya.
"Nggak bisa asal pindah, karena sekarang ini lebih murah di sebelah sini. Jadi itu ekosistem yang nggak cuma melihat dari satu sisi UMP saja, banyak faktor. Kebijakan pemerintah daerahnya, semua hubungan dengan pemerintah daerah, itu kan juga sangat penting," tutur dia.
Karena itu, ia menilai setiap daerah harus mampu menciptakan iklim usaha yang ramah bagi investor. Upah murah saja, menurutnya, tidak cukup untuk menarik investasi baru.
"Jadi makanya masing-masing daerah ini mesti jadi investor friendly juga. Bukan hanya karena upah murah, tapi bagaimana dia bisa menarik lebih banyak investor. Tapi kalau perubahan relokasi, itu pasti akan membutuhkan biaya yang tidak sedikit," kata Shinta.
Di sisi lain, Shinta menjelaskan kondisi investasi di sektor tekstil dan garmen Indonesia saat ini tengah memasuki fase konsolidasi. Menurutnya, tidak semua pelaku usaha akan mampu bertahan di tengah tekanan global.
"Sekarang kalau saya lihat konsolidasi ya. Jadi mungkin yang kecil-kecil nggak akan bisa survive (bertahan). Jadi yang survive yang gede-gede," ujarnya.
Ia menyebut, konsolidasi tersebut membuat pelaku industri harus menilai kembali apakah usahanya masih bisa bertahan atau justru harus berhenti. Namun, untuk perusahaan besar, aktivitas produksi dinilai masih bisa berjalan.
"Dan kita juga mesti melihat banyak sekali konsolidasi tadi. Apakah mungkin bisa ini bertahan, atau ada yang mesti berhenti. Tapi kalau yang besar-besar sih tetap bisa jalan," tutur Shinta.
Menurutnya, faktor pasar menjadi kunci utama keberlanjutan industri tekstil nasional. APINDO saat ini mendorong penguatan pasar ekspor, khususnya ke Amerika Serikat dan Eropa yang masih menjadi tujuan utama produk tekstil Indonesia.
"Yang paling penting sekarang pasar. Kita lagi godok pasar ekspor. Makanya yang Amerika itu juga penting. Karena itu kan ekspor yang termasuk paling besar. Jadi pasar Eropa, Amerika, tetap sangat besar," ujarnya.
Meski persaingan global semakin ketat, Indonesia dinilai masih memiliki keunggulan di mata merek-merek besar dunia. Kualitas produksi dan penerapan ESG (Environmental, Social, and Governance/Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola) menjadi salah satu daya tarik utama.
"Brand-brand besar itu kan (melihat) kita produsen yang bagus banget untuk brand-brand besar. Karena kualitas kita bagus, kita punya ESG-nya juga kuat banget. Jadi brand-brand besar tuh suka untuk produksi di Indonesia sebenarnya," kata Shinta.
Namun demikian, ia mengakui persaingan industri tekstil kini tidak hanya datang dari Vietnam, tetapi juga dari Bangladesh, Ethiopia, hingga Kamboja. Karena itu, Indonesia harus mampu menjaga daya saing biaya dan iklim usaha.
"Nah sekarang kita kan competing-nya sama siapa? Sama Vietnam. Tapi sekarang kalau textile garment udah sama Bangladesh, Ethiopia, bahkan Cambodia aja bisa ini textile garment," ujarnya.
Shinta menegaskan, kunci bertahan di tengah persaingan global terletak pada perbaikan cost of doing business, mulai dari biaya tenaga kerja, logistik, hingga faktor pembiayaan.
"Makanya sekarang kita harus menjaga, kita punya investasi sendiri. Cost of doing business, kita harus bisa competing. Labor cost kita harus bisa competing. Ini logistik, segala, ini semua perannya penting," ucap dia.
Ia menambahkan, selain sisi pasokan, permintaan global juga menjadi faktor penentu. "Karena kita berkompetisi dengan negara lain. Jadi kuncinya itu juga ada di demand. Selain di supply, di demand," ujarnya.
Lebih lanjut, Shinta menekankan pentingnya perbaikan iklim usaha di dalam negeri agar investasi terus masuk dan mampu menciptakan lapangan kerja. Ia mengingatkan tingginya sektor informal menjadi sinyal perlunya penciptaan lapangan kerja formal yang lebih besar.
"Karena nomor satu itu kan penciptaan lapangan pekerjaan kan yang utama. Jadi gimana nih caranya supaya bisa menciptakan lapangan pekerjaan? Gimana caranya kita bisa menarik lebih banyak investasi dan penyerapan tenaga kerjanya? Itu yang harus jadi perhatian" pungkasnya.
Foto: Pantauan kondisi kawasan Tekstil Cipadu, Tangerang yang semakin sepi ditinggal pelanggan. (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)
Pantauan kondisi kawasan Tekstil Cipadu, Tangerang yang semakin sepi ditinggal pelanggan. (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)
(dce)
[Gambas:Video CNBC]































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5373084/original/079052200_1759811895-Screen_Shot_2025-10-07_at_11.01.27.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5376485/original/009100400_1760005395-IMG_8656_1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5376259/original/088782800_1759997793-WhatsApp_Image_2025-10-09_at_13.39.14.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5373753/original/006978800_1759829172-photo-grid_-_2025-10-07T162134.318.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5373571/original/006491700_1759824794-IMG_8568.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5371758/original/069731500_1759719887-IMG_8479_1_.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5348010/original/053468700_1757751782-downloadgram.org_545361447_18533357860024000_8296043210043314387_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5372453/original/046832400_1759743186-Screen_Shot_2025-10-06_at_16.24.33.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5384487/original/028827200_1760781909-SnapInsta.to_565338351_18540112639050560_124353004751386866_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5378779/original/022943000_1760324458-IMG_8948_1_.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5373708/original/062291600_1759828385-WhatsApp_Image_2025-10-07_at_15.56.52__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5377522/original/025853400_1760100152-photo-grid_-_2025-10-10T192332.522.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5381881/original/060016500_1760520455-IMG_9139.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5378681/original/061114700_1760279135-IMG_8900_1_.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5372518/original/006247100_1759745296-Screen_Shot_2025-10-06_at_16.43.37.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5371858/original/048503500_1759724542-Sweet_Treats__1_.jpg)