Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com
Indonesia memiliki semua modal untuk menjadi pemain utama dalam bioetanol. Bioetanol pada dasarnya adalah etanol (C2H5OH) atau senyawa alkohol yang diperoleh melalui proses fermentasi biomassa dengan bantuan mikroorganisme.
Bahan baku bioetanol yang paling banyak digunakan di dunia adalah tebu dan jagung. Tebu tumbuh subur di berbagai wilayah, jagung dan singkong juga melimpah, sementara lahan pertanian masih tersedia secara luas.
Pemerintah bahkan telah meluncurkan program bioetanol pada 4 November 2022 dan memperkuatnya dengan Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2023 tentang Percepatan Swasembada Gas Nasional dan Penyediaan Bioetanol sebagai Biofuel. Namun di balik semua optimisme itu, realitas di lapangan berbicara lain.
Saat ini, baru tersedia 40 juta liter bioetanol per tahun. Jumlah ini sangat jauh dari kebutuhan untuk implementasi tahap awal di Jawa Timur dan Jakarta saja yang mencapai 696 juta liter. Dengan kata lain, pasokan yang ada baru memenuhi 5,7 % dari kebutuhan dua provinsi tersebut. Di luar Jakarta dan Jawa Timur, nyaris belum ada pasokan bioetanol. Padahal, program ini seharusnya berskala nasional.
Dari Target ke Realitas
Roadmap alias peta jalan dari Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM menargetkan E5 (bioetanol 5%) pada periode 2024-2028 dan E10 pada periode 2029-2035. Target ini patut diapresiasi, tetapi menjadi pertanyaan besar: bagaimana mungkin mencapai E5 jika kebutuhan dasar untuk dua provinsi saja baru terpenuhi 5,7 persen?
Target E5 dan E10 adalah langkah yang tepat secara konsep. Tidak ada yang salah dengan ambisi. Yang salah adalah ketika ambisi tidak diikuti dengan perhitungan yang matang tentang kesiapan rantai pasok, kapasitas produksi, dan kesiapan industri. Menetapkan target tanpa memastikan kesiapan di lapangan hanya akan menghasilkan dokumen yang indah tetapi tidak pernah tercapai.
Lebih baik memiliki target yang lebih rendah tetapi tercapai sepenuhnya, daripada target tinggi yang terus-menerus gagal tahun demi tahun. Pemerintah perlu berani menyesuaikan timeline berdasarkan realitas produksi.
Hanya Dua Produsen yang Siap
Saat ini tersedia 13 produsen etanol. Namun, hanya dua produsen yang mampu memenuhi kriteria fuel grade ethanol (FGE) dengan kemurnian minimal 99,5%. Sisanya (11 produsen) masih menghasilkan etanol dengan kadar 90-94% untuk industri kosmetik, atau 94-99,5% untuk campuran minuman keras.
Persoalannya bukan pada teknologi, karena teknologi untuk menghasilkan etanol fuel grade sudah tersedia dan proven di banyak negara. Persoalannya ada pada ekosistem yang belum terbangun.
Jika ditelaah, ada tiga akar masalah. Pertama, tidak ada kepastian pasar. Produsen etanol tidak yakin apakah bioetanol yang mereka hasilkan akan dibeli atau tidak. Kedua, belum ada insentif yang cukup untuk mendorong produsen meningkatkan kualitas dari grade industri atau minuman ke grade bahan bakar.
Ketiga, rantai pasok dari petani ke pabrik/industri masih lemah. Petani tebu seringkali tidak mendapat harga yang layak, sehingga mereka enggan meningkatkan produktivitas. Selain itu, ekosistem bioetanol belum terbentuk dengan baik.
Yang Perlu Dilakukan
Pemerintah perlu fokus pada penguatan rantai pasok sebelum memperluas target. Prioritaskan peningkatan kapasitas 2 produsen yang sudah memenuhi standar FGE. Berikan mereka dukungan penuh, termasuk kepastian pembelian bioetanolnya. Untuk 11 produsen lainnya, berikan pendampingan intensif dan insentif fiskal bagi mereka yang berkomitmen meningkatkan kualitas ke level fuel grade.
Sedangkan untuk pembangunan industri bioetanol yang baru perlu diintegrasikan dengan perkebunan tebu dan juga industri gula. Jangan lupa, petani tebu juga harus mendapat perhatian. Bantu mereka dengan bibit unggul, pupuk bersubsidi, dan kepastian harga. Mulailah dari hal yang kecil tetapi nyata. Pastikan target E5 tercapai dan setelah berhasil, baru diperluas ke provinsi lain.
Potensi Tak Akan Jadi Nyata Tanpa Eksekusi
Bioetanol adalah energi masa depan yang potensinya luar biasa. Tapi potensi tidak akan pernah menjadi kenyataan tanpa eksekusi yang serius dan konsisten. Pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia bisa mengembangkan bioetanol. Jawabannya jelas: bisa. Pertanyaannya adalah apakah kita mau serius mewujudkannya, atau hanya sekadar membuat rencana yang indah di atas kertas.
(miq/miq)
Addsource on Google
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5501953/original/051963100_1770963638-collage-1770963016593.png)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5504391/original/040889300_1771234034-WhatsApp_Image_2026-02-16_at_16.07.54__1_.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5503685/original/018522300_1771207869-IMG_5126_1_.jpeg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5496238/original/049857200_1770516142-SnapInsta.to_628251077_18560930053012162_3184567118963434244_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5503831/original/023595600_1771213974-collage-1771213135093.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5517799/original/038484000_1772439698-IMG_5502_1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5504902/original/070313200_1771311556-collage-1771310149668.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5509795/original/044438600_1771758038-SnapInsta.to_639517660_18514687228077855_7982472988900909272_n.jpg)

