Asia Bisa Duluan Terkena Krisis Energi, Kilang Minyak Berebut Pasokan

4 hours ago 8

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

09 March 2026 14:16

Jakarta, CNBC Indonesia- Perang yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel membuka kerentanan utama sistem energi Asia. Kawasan ini mengimpor sekitar 60% minyak mentah dan bahan baku petrokimia dari Timur Tengah, menjadikannya wilayah dengan ketergantungan terbesar terhadap pasokan energi dari kawasan tersebut.

Ketika konflik memicu gangguan distribusi, negara-negara Asia mulai mencari sumber alternatif. Namun pilihan yang tersedia sangat terbatas.

Menurut Reuters, perang yang pecah setelah serangan Israel dan Amerika Serikat ke Iran langsung mendorong lonjakan harga energi global dan meningkatkan risiko inflasi di banyak negara Asia.

Gangguan pasokan dari Timur Tengah membuat kilang minyak di berbagai negara, dari China hingga Asia Tenggara, mulai mencari pasokan dari wilayah lain meskipun biaya dan waktu pengiriman jauh lebih mahal.

Beberapa negara bahkan mengambil langkah darurat untuk menjaga pasokan domestik. China dan Thailand menghentikan ekspor produk minyak sementara, sedangkan Vietnam menghentikan ekspor minyak mentah yang biasanya dikirim ke Australia. Langkah tersebut mencerminkan tekanan pada rantai pasokan energi regional.

Masalah utama muncul pada sisi logistik. Minyak dari Afrika Barat atau benua Amerika membutuhkan waktu 1,5 hingga 2 bulan untuk mencapai China. Kontrak pembelian bahkan harus dibuat sekitar tiga bulan sebelum pengiriman. Sebagai perbandingan, minyak dari Timur Tengah yang melewati Selat Hormuz biasanya tiba di China dalam waktu sekitar 25 hari. Perbedaan jarak ini langsung berdampak pada biaya transportasi dan fleksibilitas pasokan.

Kendala lain muncul dari karakteristik minyak mentah. Kilang di Asia selama puluhan tahun dirancang untuk memproses minyak jenis medium-sour dari Timur Tengah.

Ketika jenis minyak diganti, pengaturan operasi kilang harus diubah, termasuk titik pemisahan fraksi minyak serta komposisi campuran bensin. Direktur konsultan energi Surrey Clean Energy, Adi Imsirovic, mengatakan perubahan tersebut membutuhkan penyesuaian teknis yang kompleks di dalam kilang.

Ketergantungan struktural juga terlihat pada kontrak jangka panjang. Analis Energy Aspects Richard Jones menjelaskan sebagian besar kilang di Asia terikat kontrak pasokan tetap dengan produsen Timur Tengah. Menggantikan bahkan sebagian kecil dari sekitar 16 juta barel per hari minyak Timur Tengah yang masuk ke Asia dengan pasokan dari wilayah Atlantik hampir tidak mungkin dilakukan dalam waktu dekat.

Kondisi setiap negara pun berbeda. Jepang memperoleh sekitar 95% minyaknya dari Timur Tengah sejak menghentikan hampir seluruh impor minyak Rusia setelah invasi ke Ukraina. Kilang di negara tersebut sebagian besar berusia tua dan dirancang khusus untuk minyak Timur Tengah.

Menurut analis Kpler Muyu Xu, operator kilang Jepang dapat mencampur minyak ringan seperti WTI atau minyak Afrika Barat dengan minyak berat dari Amerika untuk mendekati karakter minyak Timur Tengah, meski operasi tersebut memiliki risiko teknis dan logistik.

Di sisi lain, China memiliki profil pemasok yang lebih beragam. Sekitar setengah impor minyaknya berasal dari Timur Tengah, termasuk Iran yang selama ini menjadi salah satu pemasok utama. China juga membeli minyak dari Rusia meskipun negara Barat menjatuhkan sanksi. Cadangan strategisnya diperkirakan cukup untuk sekitar 78 hari konsumsi.

India berada dalam posisi lebih rentan. Cadangan minyak negara ini hanya sekitar 25 hari, sementara 55% impor minyaknya berasal dari Timur Tengah. Dalam situasi konflik saat ini, India mulai mencari alternatif pasokan setelah pemerintah Amerika Serikat memberi kelonggaran satu bulan untuk melanjutkan pembelian minyak Rusia.

Gangguan pasokan juga menjalar ke pasar gas alam cair (LNG). Qatar, produsen LNG terbesar kedua dunia, menghentikan produksi akibat konflik. Dampaknya terasa cepat di Asia. India mulai membatasi pasokan gas untuk pelanggan industri karena keterbatasan pasokan.

Peneliti energi dari Oxford Institute for Energy Studies, Michal Meidan, menilai situasi ini dapat mendorong perubahan bauran energi dalam jangka panjang. Negara-negara Asia Selatan kemungkinan akan mengurangi porsi gas dalam sistem energi dan memperbesar penggunaan batu bara serta energi terbarukan, mengikuti strategi yang telah dijalankan China.

Jika gangguan pasokan berlangsung lama, arah kebijakan energi Asia dapat berubah secara mendasar. Tim Zhang dari Edge Research menyebut peningkatan penggunaan energi non-fosil seperti energi terbarukan dan nuklir akan semakin dipertimbangkan.

Tekanan geopolitik pada pasokan minyak Timur Tengah memaksa negara-negara Asia menilai ulang struktur ketergantungan energi yang selama ini menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi kawasan.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Photo View |