AS Buat Operasi Rahasia Lemahkan Pemerintah RI, tapi Digagalkan TNI

19 hours ago 7
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu.

Jakarta, CNBC Indonesia - Keberhasilan operasi militer Amerika Serikat (AS) melalui badan intelijen CIA di Venezuela pada Sabtu (3/1/2026) nyaris pernah terjadi di Indonesia. Namun, rencana itu gagal setelah prajurit TNI menembak jatuh pesawat tempur yang dipiloti mata-mata CIA dan menangkapnya.

Peristiwa ini terjadi pada 1958 saat gerakan Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta) meletus di Sulawesi. Gerakan tersebut berawal dari kekecewaan daerah terhadap pemerintah pusat yang dianggap terlalu sentralistis. Sayang, Jakarta memandang Permesta sebagai pemberontakan dan meresponsnya dengan operasi militer besar-besaran.

Di tengah konflik, keterlibatan asing mulai terendus. Sejak April 1958, sejumlah wilayah di Ambon dilaporkan dibom dari udara. TNI pun meningkatkan kewaspadaan terhadap setiap pesawat tempur yang melintas.

Kecurigaan memuncak ketika pesawat B-26 terlihat menukik dan menyerang wilayah perairan Ambon. Kapal-kapal TNI Angkatan Laut langsung membalas tembakan dan berhasil mengenai pesawat tersebut. Versi lain juga mengungkap pesawat itu juga ditembaki oleh pesawat milik TNI AU.

Apapun versinya, B-26 itu terkena tembakan dan sempat terbang menjauh sebelum akhirnya terbakar di udara. Dua awak pesawat melompat dengan parasut dan selamat. Salah satunya kemudian ditangkap. Dari pemeriksaan, terungkap salah satu awak pesawat adalah warga negara AS bernama Allen Lawrence Pope.

Audrey Kahin dan George Kahin dalam buku Subversi sebagai Politik Luar Negeri: Menyingkap Keterlibatan CIA di Indonesia (1997, hlm. 232) mencatat, di saku Pope ditemukan buku catatan misi serta kartu identitas militer Amerika Serikat.

Penangkapan Pope memicu kemarahan Presiden Soekarno. Dalam autobiografinya Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (1965), Soekarno menegaskan keyakinannya bahwa Pope adalah agen CIA.

"Aku 99,9% yakin bahwa Pope seorang agen CIA. [...] Di setiap negara yang baru berkembang orang akan melihat agen-agen Amerika banyak berkeliaran," ujar Soekarno.

Penyelidikan mengungkap Pope merupakan veteran militer AS yang menerbangkan pesawat dari pangkalan Amerika di dekat Filipina. Dia bukan satu-satunya pilot bayaran CIA yang dikerahkan, tetapi menjadi satu-satunya yang tertangkap hidup-hidup.

Pemerintah AS sempat membantah keterlibatan mereka. Namun, Pope tetap diadili dan dijatuhi hukuman mati, meski kemudian mendapat pengampunan.

Puluhan tahun kemudian arsip rahasia CIA yang dibuka ke publik membuktikan AS memang merancang operasi tersebut. Dokumen CIA bertajuk "The Power Position of Indonesia's President Soekarno" (7 Februari 1964) mengungkap alasannya karena Washington memandang Soekarno semakin condong ke komunisme. CIA melihat pergolakan di Sulawesi dan Sumatra sebagai peluang strategis untuk melemahkan kekuasaan Soekarno.

"Meski pemberontakan ini mencerminkan kekecewaan lama daerah-daerah luar terhadap dominasi Jawa, sasaran utamanya juga tertuju pada Presiden Soekarno," tulis CIA dalam dokumen Indonesian Operation: Original Concept of Operation tertanggal 15 Mei 1958.

CIA bahkan secara eksplisit menyebut gejolak daerah sebagai alat tekanan politik terhadap pusat kekuasaan di Jawa dan bisa menjadi momentum tepat untuk melemahkan kekuasaan. 

"Memanfaatkan pengaruh atau daya tekan apa pun yang tersedia dan dapat dibangun oleh kekuatan anti-Komunis di pulau-pulau luar untuk melanjutkan upaya kita dalam menyatukan dan mendorong untuk bertindak bersama-sama unsur-unsur non-Komunis dan anti-Komunis di Jawa melawan kaum komunis," tulis CIA dalam salah satu poin perintahnya di dokumen yang sama.

Atas dasar ini, AS membantu gerakan Permesta lewat pengiriman pesawat B-26 yang untungnya berhasil digagalkan TNI. Penangkapan Allen Pope menjadi bukti Indonesia pernah hampir menjadi medan operasi rahasia CIA. Jauh sebelum isu intervensi asing kembali mengemuka hari ini.

Meski begitu, sesuai namanya, operasi rahasia berjalan senyap. Publik tidak mengetahui lebih lanjut apakah ada operasi rahasia lanjutan yang berhasil atau tidak, sebelum dokumen-dokumen CIA yang sebelumnya tertutup berubah status jadi terbuka ke publik. 

(mfa/luc)

Read Entire Article
Photo View |