Anak Buah Trump Tembak 2 Warga di Portland, AS Makin Kacau

18 hours ago 6

Jakarta, CNBC Indonesia - Insiden penembakan yang melibatkan agen federal kembali terulang memicu kemarahan publik di Amerika Serikat. Dua orang ditembak di luar sebuah rumah sakit di Portland pada Kamis (8/1/2026), hanya sehari setelah seorang petugas imigrasi federal menembak mati seorang perempuan di Minneapolis.

Hal ini menambah rangkaian kejadian yang memperdalam ketegangan seputar penegakan imigrasi dan penggunaan kekuatan oleh aparat federal.

Biro Kepolisian Portland (Portland Police Bureau/PPB) dalam pernyataannya mengatakan dua orang dirawat di rumah sakit setelah penembakan yang melibatkan agen federal. Polisi menyebut kondisi kedua korban belum diketahui.

Menurut keterangan PPB, petugas awalnya merespons laporan adanya penembakan di luar kompleks Rumah Sakit Adventist di wilayah timur Portland. Namun kemudian polisi mendapat informasi bahwa "seorang pria yang tertembak menelepon dan meminta bantuan" sekitar 3 mil atau sekitar 5 kilometer dari lokasi awal.

"Petugas mendatangi lokasi dan menemukan seorang pria dan seorang perempuan dengan luka tembak yang tampak jelas. Petugas memasang torniket dan memanggil tenaga medis darurat. Kedua pasien kemudian dibawa ke rumah sakit," kata polisi, dilansir The Guardian.

"Petugas telah memastikan bahwa kedua orang tersebut terluka dalam penembakan yang melibatkan agen federal."

Pihak berwenang belum mengonfirmasi kondisi terkini para korban. Namun sumber kepolisian mengatakan kepada Oregonian bahwa satu orang tertembak di bagian kaki dan satu lainnya di bagian dada.

Juru bicara Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS), Tricia McLaughlin, menyatakan bahwa agen patroli perbatasan AS menghentikan sebuah kendaraan untuk mencari seorang pria yang mereka curigai sebagai imigran tidak berdokumen dan terkait dengan geng Venezuela.

Menurut keterangan para agen, mereka melepaskan tembakan ketika pengemudi kendaraan tersebut berusaha menabrak mereka.

"Karena takut terhadap nyawanya dan keselamatannya, seorang agen melepaskan tembakan defensif. Pengemudi kemudian melarikan diri bersama penumpangnya, meninggalkan lokasi," kata McLaughlin.

Wali Kota Portland, Keith Wilson, menyampaikan keraguannya terhadap versi pemerintah federal dalam konferensi pers.

"Kami tahu apa yang dikatakan pemerintah federal tentang apa yang terjadi di sini. Ada masa ketika kami bisa menerima penjelasan mereka begitu saja. Masa itu sudah lama berlalu," ujarnya.

Kepala Kepolisian Portland, Bob Day, menegaskan bahwa kasus ini berada di bawah kewenangan federal. "Ini adalah penyelidikan federal. Penyelidikan dipimpin oleh FBI," katanya.

Penembakan di Portland ini terjadi sehari setelah seorang petugas imigrasi federal menembak mati Renee Nicole Good, 37 tahun, di Minneapolis. Rangkaian peristiwa tersebut memicu kecaman keras dan meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi ketegangan di Portland, kota yang sebelumnya telah diguncang gelombang protes menentang penegakan imigrasi pada akhir tahun lalu.

Maxine Dexter, anggota DPR AS dari Partai Demokrat yang mewakili daerah pemilihan tempat insiden terjadi dan juga seorang dokter, mengatakan bahwa kedua korban penembakan di Portland "masih hidup, tetapi kami tidak mengetahui sejauh mana luka yang mereka alami".

Dexter juga mendesak agar Badan Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) menghentikan operasinya di kota tersebut.

"ICE tidak melakukan apapun selain menyuntikkan teror, kekacauan, dan kekejaman ke dalam komunitas kami," kata Dexter. "Mesin imigrasi Trump menggunakan kekerasan untuk mengendalikan komunitas kami, langsung dari buku pedoman otoritarian. ICE harus segera mengakhiri semua operasi aktif di Portland."

Selain itu, Dexter menuntut adanya penyelidikan oleh kepolisian setempat. "Kita harus membiarkan penegak hukum lokal melakukan tugasnya," ujarnya. "Harus ada penyelidikan menyeluruh tanpa campur tangan Trump."

Wali Kota Wilson menggemakan seruan tersebut dan meminta penghentian sementara penegakan imigrasi di Portland. "Kami tidak bisa tinggal diam ketika perlindungan konstitusional terkikis dan pertumpahan darah meningkat," katanya.

"Portland bukan 'lapangan latihan' bagi agen yang dimiliterisasi, dan 'kekuatan penuh' yang diancamkan oleh pemerintahan ini memiliki konsekuensi mematikan. Sebagai wali kota, saya menyerukan agar ICE menghentikan semua operasi di Portland sampai penyelidikan penuh dapat diselesaikan."

Kayse Jama, senator negara bagian Oregon yang tinggal di lingkungan tempat penembakan terjadi, mengatakan dalam konferensi pers malam hari bahwa kota "ramah" yang ia masuki sebagai pengungsi dari Somalia beberapa dekade lalu tidak membutuhkan penegakan imigrasi federal yang agresif. Menyasar para agen federal, ia berkata,

"Ini Oregon. Kami tidak membutuhkan kalian, kalian tidak diterima, dan kalian harus segera angkat kaki dari komunitas kami."

Zakir Khan, seorang aktivis hak sipil di Portland, menyerukan agar pihak rumah sakit, yang merupakan bagian dari Oregon Health and Science University, segera merilis rekaman kamera keamanan terkait insiden tersebut "sesegera mungkin."

Seorang pria yang berada di gedung medis itu mengatakan kepada Oregonian bahwa ia melihat petugas federal mengikuti sebuah truk Toyota ke area parkir gedung perkantoran dan mencoba menjebaknya.

Salah satu petugas memukul jendela kendaraan, katanya. Pengemudi kemudian mundur dan maju setidaknya beberapa kali, menabrak sebuah mobil di belakangnya, sebelum berbelok dan melaju kencang meninggalkan lokasi.

Adapun Portland pada tahun lalu mengalami berbulan-bulan aksi protes yang berpusat di sebuah fasilitas penahanan ICE di pusat kota. Presiden Donald Trump sempat mencoba mengerahkan anggota Garda Nasional ke kota tersebut sebagai respons, namun upaya itu tertahan oleh proses hukum di pengadilan.

Jeff Merkley, salah satu dari dua senator Demokrat asal Oregon, meminta para demonstran untuk tetap tenang menyusul penembakan ini. "Trump ingin memicu kerusuhan," tulisnya dalam unggahan di platform X. "Jangan terpancing."

Kepala Kepolisian Portland juga menyampaikan seruan serupa. "Kami memahami meningkatnya emosi dan ketegangan yang dirasakan banyak orang setelah penembakan di Minneapolis, tetapi saya meminta komunitas untuk tetap tenang sementara kami berupaya mengetahui lebih banyak," katanya.

Sebuah banner di bagian atas situs web pemerintah Kota Portland mengimbau warga, "Merespons dengan tenang dan penuh tujuan."

Pada awal malam, sekitar seratus demonstran berkumpul di luar balai kota Portland untuk meneriakkan, "Abolish ICE!" Sejumlah kecil demonstran lainnya kembali mendatangi fasilitas ICE di selatan Portland, banyak di antaranya mengenakan kostum hewan, atribut yang dalam beberapa bulan terakhir disebut membantu meredakan ketegangan.

Ketegangan juga meningkat di sejumlah kota besar AS menyusul penembakan Renee Nicole Good di Minneapolis. Pada Kamis, FBI mengambil alih penyelidikan atas kasus tersebut, dan Biro Penangkapan Kriminal Minnesota (BCA) mengatakan akses mereka terhadap materi kasus, saksi, dan barang bukti telah dicabut.

Dalam konferensi pers pada Kamis, Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem membantah bahwa BCA disingkirkan dari penyelidikan dan menyebut hal itu sebagai persoalan yurisdiksi. Namun Gubernur Minnesota, Tim Walz, menegaskan bahwa negara bagian "harus menjadi bagian dari penyelidikan ini".

Sementara itu, pemerintahan Trump terus membenarkan penembakan mematikan terhadap Good dengan menuduhnya melakukan "tindakan terorisme domestik" dan menyatakan bahwa agen ICE yang menembaknya bertindak untuk "membela diri". Narasi tersebut bertentangan dengan rekaman video insiden yang telah beredar luas secara daring.

(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |