Vale Punya 3 Megaproyek Hilirisasi Rp147 Triliun, Ini Kabar Terbarunya

2 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Vale Indonesia Tbk (INCO) membeberkan perkembangan dari tiga proyek jumbo hilirisasi nikel yang sedang digarap perusahaan. Saat ini INCO tengah mengebut pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) berteknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) bersama sejumlah mitra global untuk mendukung ekosistem baterai kendaraan listrik.

Direktur Utama INCO Bernardus Irmanto menjelaskan bahwa ketiga proyek tersebut tersebar di tiga provinsi, yakni Sulawesi Tenggara (Pomalaa), Sulawesi Tengah (Morowali), dan Sulawesi Selatan (Sorowako). Saat ini, progres konstruksi di lapangan secara umum berjalan positif dan sesuai dengan lini masa yang ditetapkan perusahaan untuk mengejar target operasional.

"Seperti yang tadi saya sampaikan bahwa progresnya sudah sangat baik tambangnya sudah siap, bahkan kemudian dalam pembangunan HPAL-nya juga progressing dengan sangat baik," ungkap Bernadus dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR RI, Jakarta, Senin (19/1/2026).

Ketiga proyek smelter baru tersebut ditargetkan beroperasi pada 2026/2027. Ketiga proyek hilirisasi itu antara lain Indonesia Growth Project (IGP) Sorowako Limonite, IGP Morowali, dan IGP Pomalaa. Adapun total kebutuhan investasi ketiga proyek tersebut diperkirakan memakan US$ 8,7 miliar atau sekitar Rp 147 triliun (asumsi kurs Rp 16.935 per US$).

Berikut adalah rincian progres terbaru dari ketiga proyek hilirisasi Vale per Desember 2025:

  • Proyek Indonesia Growth Project (IGP) HPAL Pomalaa (Sulawesi Tenggara)

Proyek dengan nilai investasi US$ 4,5 miliar atau setara Rp 76,37 triliun tersebut merupakan proyek integrasi tambang nikel beserta smelternya. Proyek yang akan menghasilkan produk nikel Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) tersebut digarap INCO bersama Huayou (China) dan Ford Motor (AS).

Nantinya produksi tambang nikel Pomalaa ditargetkan mencapai 7 juta WMT bijih nikel kadar tinggi (saprolite) dan 21 juta WMT bijih nikel kadar rendah (limonite). Proses konstruksi tambang nikel Pomalaa per Desember 2025 mencapai 60% dan ditargetkan bisa mulai operasi tahun 2026 ini, dengan serapan tenaga kerja mencapai 2.133 orang.

Sedangkan smelter HPAL-nya, saat ini konstruksi sudah mencapai 50% dengan target kapasitas mencapai 120 ktpa. Target penyelesaian mekanis (mechanical completion) dipatok pada Agustus 2026. Pabrik ini membutuhkan suplai 21 juta ton bijih limonit per tahun.

"Artinya bahwa di bulan Agustus 2026 itu bijih untuk masukan HPAL sudah harus siap. Jadi kami sudah harus memulai kegiatan penambangan di tahun ini kemudian di bulan Agustus itu paling tidak sudah ada sekitar stockpile untuk masukan tiga bulan," katanya.

Bernadus menambahkan bahwa khusus untuk Proyek Pomalaa, terdapat kesepakatan ketat dengan Ford terkait aspek keberlanjutan (sustainability). Raksasa otomotif AS tersebut mensyaratkan bahwa pabrik HPAL hanya boleh menerima pasokan bijih nikel dari tambang milik Vale yang telah lolos audit lingkungan ketat.

"Di dalam kesepakatan yang kami sudah tanda tangani sebelumnya, pabrik HPAL ini dari sisi Ford dan Huayou mereka tidak memperbolehkan mendapatkan suplai bijih selain dari pertambangan PT Vale. Kenapa kesepakatan itu diambil karena memang Ford sebagai perusahaan otomotif sangat concern dalam hal sustainability," katanya.

  • Proyek IGP Morowali (Sulawesi Tengah)

Proyek dengan nilai investasi US$ 2 miliar atau setara Rp 33,94 triliun tersebut merupakan proyek integrasi tambang nikel beserta smelternya. Proyek yang akan menghasilkan produk nikel Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) tersebut digarap INCO bersama GEM (China) dan EcoPro (Korea).

Sejatinya, aktivitas penambangan untuk menyuplai proyek ini bahkan sudah dimulai sejak 2025. Nantinya produksi tambang nikel Morowali ditargetkan mencapai 5,5 juta WMT Saprolite dan 10,4 juta WMT Limonite. Proses konstruksi tambang nikel Bahodopi Morowali fase 1 per Desember 2025 mencapai 99% dengan serapan tenaga kerja mencapai 1.979 orang.

Sedangkan smelter HPAL-nya, saat ini konstruksi sudah mencapai 22% dengan target kapasitas mencapai 66 ktpa. Target penyelesaian mekanis (mechanical completion) dipatok pada kuartal IV 2026. Adapun, target tenaga kerja operasional smelternya sebanyak 1.600 orang.

"Jadi perkiraannya juga di quarter empat tahun 2026 mechanical completion-nya sudah bisa dicapai. Mudah-mudahan semua hal terkait perizinan bisa cepat kami peroleh," paparnya.

  • Proyek IGP HPAL Sorowako Limonite (Sulawesi Selatan)

Proyek dengan nilai investasi US$ 2,2 miliar atau setara Rp 37,34 triliun tersebut merupakan proyek integrasi tambang nikel beserta smelternya. Proyek yang akan menghasilkan produk nikel Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) tersebut digarap INCO bersama Huayou.

Nantinya produksi tambang nikel Sorowako ditargetkan mencapai 11,5 juta WMT Limonite. Proses konstruksi tambang nikel Sorowako per Desember 2025 mencapai 37% dengan serapan tenaga kerja mencapai 400 orang.

Sedangkan smelter HPAL-nya, saat ini konstruksi sudah mencapai 17% dengan target kapasitas mencapai 60 ktpa. Target operasi smelter tersebut pada tahun 2027 mendatang.

Proyek yang dibangun di Malili tersebut saat ini sedang dalam tahap pembersihan lahan (land clearing) untuk Feed Preparation Plant (FPP) dan konstruksi autoclave yang dijadwalkan dikirim pada pertengahan 2026.

"Ini secara progres ini yang paling terlambat dibandingkan dengan Pomalaa dan Bahodopi. Akan dibangun juga HPAL di Malili sekitar 60 KM dari Sorowako dan nanti limonit dari tambang yang kami operasikan di Sorowako akan disuplai ke pabrik yang akan dibangun di Malili ini," tandasnya.

(wia)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |