Trump Mau "Venezuelakan" Iran, Ngotot Terlibat Pemilihan Pemimpin Baru

4 hours ago 4
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan keinginannya untuk terlibat langsung dalam proses pemilihan pemimpin tertinggi Iran berikutnya setelah tewasnya Ayatollah Ali Khamenei. Pernyataan tersebut memicu sorotan luas karena pemilihan pemimpin tertinggi Iran secara resmi merupakan urusan internal negara tersebut.

Dalam wawancara dengan Axios, Trump secara terbuka menentang kemungkinan putra Khamenei, Mojtaba Khamenei, menggantikan posisi ayahnya. Ia bahkan menyebut kandidat tersebut tidak layak memimpin Iran.

"Mereka hanya membuang-buang waktu. Putra Khamenei itu sosok yang lemah. Saya harus terlibat dalam penunjukan itu," kata Trump dalam wawancara tersebut, sebagaimana dikutip Al Jazeera, Jumat (6/3/2026).

Trump juga menegaskan bahwa dirinya tidak akan menerima pemimpin baru Iran yang melanjutkan kebijakan keras Khamenei. Menurutnya, kepemimpinan seperti itu berpotensi memicu konflik baru dengan AS di masa depan.

"Putra Khamenei tidak dapat diterima bagi saya. Kami menginginkan seseorang yang akan membawa harmoni dan perdamaian bagi Iran," ujar Trump.

Trump Ingin Model "Venezuela" Terulang di Iran

Dalam sejumlah pernyataannya, Trump mengaitkan rencananya dengan pengalaman Amerika Serikat dalam perubahan kepemimpinan di Venezuela. Ia menyebut dirinya lebih menyukai model seperti yang terjadi setelah penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan AS pada Januari lalu.

Setelah operasi tersebut, posisi kepemimpinan Venezuela diambil alih oleh Delcy Rodriguez, yang sebelumnya menjabat sebagai wakil presiden.

Trump memuji perkembangan tersebut dan menyebutnya sebagai contoh yang berhasil.

"Venezuela itu luar biasa karena kami melakukan serangan, tetapi pemerintah tetap utuh. Dan kami memiliki Delcy, yang sangat baik," kata Trump awal pekan ini.

Rodriguez, meskipun sebelumnya bagian dari pemerintahan Maduro, kemudian mengambil sejumlah kebijakan yang lebih sejalan dengan kepentingan Washington. Ia mengizinkan AS menjual minyak Venezuela dan memutus pasokan minyak ke Kuba di tengah ancaman serangan lanjutan dari AS.

Trump mengatakan ia ingin menemukan figur serupa di Iran, yang bersedia bekerja sama dengan AS.

Perbedaan Besar Iran dan Venezuela

Meski Trump mengutip contoh Venezuela, situasi Iran jauh lebih kompleks. Operasi militer yang berujung pada penangkapan Maduro berlangsung cepat dan terbatas. Sebaliknya, Iran saat ini tengah terlibat dalam perang yang semakin meluas melawan AS dan Israel.

Selain itu, jabatan pemimpin tertinggi Iran memiliki syarat khusus. Pemimpin tersebut harus merupakan ulama Syiah yang memiliki kualifikasi keagamaan tertentu.

Di sisi lain, pemerintah Iran sendiri telah membantah adanya negosiasi dengan AS di tengah konflik yang sedang berlangsung. Para pejabat pemerintahan Trump bahkan sebelumnya menyatakan bahwa Washington sedang menghujani Iran dengan "kematian dan kehancuran".

Karena itu, masih belum jelas bagaimana Trump dapat benar-benar terlibat dalam proses pemilihan pemimpin baru Iran di tengah permusuhan yang sedang berlangsung.

Penguasaan Politik

Analis hubungan internasional Trita Parsi dari Quincy Institute menilai pernyataan Trump menunjukkan bahwa presiden AS tersebut menginginkan Iran menyerah secara politik.

"Dia tidak keberatan jika hanya ada figur simbolis yang mengambil alih Iran, selama orang itu menjalankan preferensi kebijakan Trump, seperti yang dilakukan Delcy," kata Parsi.

Ia juga menilai Trump tidak ingin ada pemimpin Iran baru yang menolak tuntutan kebijakan Amerika Serikat.

"Sepertinya dia tidak akan menemukan orang seperti itu dari dalam sistem Iran yang ada sekarang," tambahnya.

Penekanan Trump pada model Venezuela juga dinilai berbeda dari pernyataan awalnya yang menyerukan "kebebasan" bagi rakyat Iran. Sebelumnya, Trump bahkan mendorong masyarakat Iran untuk bangkit melawan pemerintah mereka sendiri.

Selain itu, Trump juga belum menutup kemungkinan pengerahan pasukan AS di darat di wilayah Iran.

Sebelumnya, ia mengatakan telah memiliki beberapa kandidat yang dipertimbangkan untuk menggantikan Khamenei. Namun, menurut Trump, orang-orang tersebut telah tewas dalam serangan awal Amerika Serikat dan Israel.

(luc/luc)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |