Trump Incar Indonesia: 3.800 Barang RI Tak Bisa Nikmati Tarif 0% Lagi?

17 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menggebrak perdagangan global dengan kebijakan tarif resiprokal. Per 9 April 2025, AS menerapkan tarif dasar 10% untuk semua negara eksportir dan tambahan bea masuk terhadap 60 negara dengan ketidakseimbangan perdagangan tinggi dengan AS, termasuk Indonesia yang terkena tarif 32%. 

Bila melihat data The United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) Trade Analysis Information System (TRAINS), ada banyak barang Indonesia yang menikmati tarif rendah. Sebanyak 3.834 produk RI bahkan menikmati tarif 0% ke AS.

Produk-produk ini tersebar dalam beberapa kategori yang dikelompokkan berdasarkan kode HS 2 digit. Nasib mereka kini terancam karena tarif 0% kemungkinan akan dihapus dan diganti tarif baru. Artinya ribuan barang tersebut akan menjadi lebih mahal di Amerika sehingga daya saingnya akan tergerus.

Berikut beberapa sektor utama yang tetap bebas tarif:

1. HS 84 - Mesin dan Peralatan Mekanik

  • 841221 - Mesin tenaga hidrolik dan motor, aksi linier (silinder)

  • 842121 - Mesin penyaring atau pemurni air

  • 840999 - Suku cadang mesin pembakaran dalam piston

2. HS 29 - Bahan Kimia Organik

  • 290379 - Senyawa kimia organik lainnya

  • 290432 - Amonium perfluorooctane sulphonate

3. HS 85 - Peralatan Listrik

  • 850134 - Motor listrik dan generator DC, output lebih dari 375 kW

  • 850211 - Generator listrik dengan mesin diesel, output ≤ 75 kVA

4. HS 03 - Ikan dan Produk Perikanan

  • 030235 - Tuna sirip biru Atlantik dan Pasifik

  • 030366 - Ikan hake (Merluccius spp.)

  • 030245 - Ikan jack dan horse mackerel

5. HS 72 - Besi dan Baja

  • 720918 - Baja tipis dengan ketebalan

  • 720441 - Limbah dan skrap besi

6. HS 90 - Instrumen Optik dan Medis

  • 901420 - Instrumen navigasi aeronautika dan luar angkasa

  • 902150 - Pacemaker untuk stimulasi jantung

7. HS 52 - Kapas dan Produk Tekstil

  • 520210 - Limbah benang kapas

  • 521151 - Kain tenun kapas

8. HS 73 - Produk Besi dan Baja

  • 730890 - Struktur besi atau baja dan komponennya

  • 730792 - Sambungan pipa besi atau baja berulir

Pengenaan tarif resiprokal 32% terhadap Indonesia berisiko menekan daya saing ekspor RI di pasar AS. Pada 2024, ekspor Indonesia ke AS mencapai US$ 26,4 miliar atau 9,96% dari total ekspor. Sektor manufaktur, tekstil, elektronik, dan pertanian yang menjadi tulang punggung ekspor kini menghadapi hambatan signifikan.

Fluktuasi pasar keuangan juga meningkat akibat kebijakan ini. Ketidakpastian global berpotensi menekan nilai tukar rupiah, mengurangi likuiditas dolar di dalam negeri, serta memicu arus modal keluar.

Untuk mengurangi dampak kebijakan AS, Indonesia perlu menggenjot ekspor ke pasar non-tradisional seperti negara-negara BRICS dan Asia Selatan. Pemerintah juga harus mempercepat negosiasi perdagangan bebas dengan mitra strategis untuk menjaga daya saing produk RI di tengah gelombang proteksionisme global.

Dengan tarif baru ini, eksportir Indonesia harus segera beradaptasi, mencari celah dalam daftar produk bebas tarif, dan merancang strategi diversifikasi pasar untuk tetap bertahan di tengah dinamika ekonomi global yang semakin kompleks.

Bila melihat data The United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) Trade Analysis Information System (TRAINS), rata-rata tarif bea masuk atau impor yang diberlakukan Indonesia terhadap barang-barang AS sebesar 7,75%.

Tarif tersebut lebih tinggi dibandingkan tarif AS kepada produk Indonesia yang hanya 2,19%.

Produk asal di Indonesia yang diimpor ke AS dan dikenakan tarif tertinggi adalah produk tembakau yakni 91%.

Bila melihat tujuh besar kelompok barang yang dikenakan ke produk Indonesia maka terlihat AS ingin melindungi produsen dalam negeri,

Pasalnya, tarif tinggi dikenakan untuk produk yang memang diproduksi banyak di AS dan menjadi andalan pendapatan warga AS, seperti produk susu dan kendaraan.

Nilai ekspor Indonesia ke AS melonjak hampir 48% dalam lima tahun terakhir dari US$ 17,84 miliar pada 2019 menjadi US$ 26,31 miliar pada 2024.

Bagi Indonesia, AS adalah surga ekspor untuk produk tekstil dan rajutan. Selama puluhan tahun, AS menjadi pasar utama produk jersey, rajutan, hingga Sepatu,

Nilai ekspor minyak sawit juga melonjak dalam lima tahun terakhir. Produk lain yang diekspor dalam jumlah besar adalah udang dan ikan serta peralatan elektrik.

Pemerintah Akan Negoisasi

Pemerintah Indonesia akan terus melakukan komunikasi dengan Pemerintah AS dalam berbagai tingkatan, termasuk mengirimkan delegasi tingkat tinggi ke Washington DC untuk melakukan negosiasi langsung dengan Pemerintah AS.

Sebagai bagian dari negosiasi, Pemerintah Indonesia juga telah menyiapkan berbagai langkah untuk menjawab permasalahan yang diangkat oleh Pemerintah AS, terutama yang disampaikan dalam laporan National Trade Estimate (NTE) 2025 yang diterbitkan US Trade Representative.

Negoisasi ini diharapkan bisa memberikan sejumlah keringanan, termasuk perpanjangan tarif 0% bagi 3.800an barang Indonesia.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Read Entire Article
Photo View |