Serangan Balasan Iran Menggila, 200 Tentara AS Jadi Korban di 7 Negara

2 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Pertempuran di Timur Tengah memakan banyak korban di pihak Amerika Serikat (AS). Hal ini setidaknya dijelaskan juru bicara militer AS Senin waktu setempat.

Kapten Tim Hawkins, juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM), mengatakan bahwa sekitar 200 personel militer AS telah terluka di tujuh negara di seluruh Timur Tengah sejak dimulainya perang. "Sebagian besar dari cedera ini bersifat ringan, dan lebih dari 180 tentara telah kembali bertugas sementara 10 orang dikategorikan sebagai luka serius," ujar Hawkins, dikutip AFP, Selasa (17/3/2026).

Pihak militer juga mengonfirmasi bahwa penyebaran korban luka tersebut terjadi di berbagai negara yang selama ini menjadi basis pertahanan Amerika di kawasan strategis tersebut. Hawkins menambahkan bahwa cedera tersebut terjadi di tujuh negara di seluruh wilayah yakni Bahrain, Irak, Israel, Yordania, Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA).

Angka terbaru ini menunjukkan lonjakan signifikan dibandingkan dengan data resmi yang dirilis oleh Departemen Pertahanan AS beberapa hari sebelumnya. Pentagon sebelumnya telah menempatkan jumlah korban luka sekitar 140 orang pada 10 Maret, sementara 13 tentara AS telah tewas yang terdiri dari tujuh orang dalam serangan dan enam orang dalam kecelakaan pesawat di Irak.

Ketegangan mematikan ini bermula ketika pasukan gabungan Amerika Serikat dan Israel meluncurkan kampanye udara besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Serangan udara masif ini menyasar berbagai titik strategis di wilayah kedaulatan Iran yang memicu amarah besar dari pemerintah dan militer Teheran.

Teheran segera merespons agresi tersebut dengan meluncurkan gelombang rudal dan drone yang menargetkan negara-negara di kawasan yang menampung pasukan atau pangkalan militer Amerika Serikat. Serangan balasan ini merupakan bagian dari upaya Iran untuk memberikan efek jera terhadap dominasi militer AS dan Israel yang semakin agresif.

Perang antara blok AS-Israel melawan Iran ini dipicu oleh kegagalan diplomasi nuklir dan meningkatnya dukungan militer Iran terhadap kelompok-kelompok proksi yang berbenturan dengan kepentingan keamanan Israel. Washington dan Tel Aviv berdalih bahwa operasi militer ini dilakukan untuk melumpuhkan kapabilitas serangan jarak jauh Iran yang dianggap mengancam stabilitas dunia.

Hingga saat ini, konflik masih terus membara dengan aksi saling serang yang melibatkan teknologi militer canggih dari kedua belah pihak. Situasi di kawasan semakin tidak menentu seiring dengan ancaman Iran yang akan terus memperluas jangkauan serangan balas dendam mereka jika pasukan AS dan Israel tidak segera menghentikan operasi militernya.

(tps/sef)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |