Semua Mata ke BI: Mampukah Selamatkan Rupiah dari Guncangan Global?

2 hours ago 4
  • Pasar keuangan Indonesia berakhir beragam, IHSG menguat sementara rupiah melemah
  • Wall Street kompak melemah di tengah kekhawatiran tarif
  • Keputusan BI dan data ekonomi luar negeri menjadi penggerak pasar hari ini

Jakarta,CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia berakhir beragam, Bursa saham menguat sementara rupiah melemah di tengah ketidakpastian global.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih dalam tekanan pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Pada penutupan perdagangan kemarin Selasa (20/1/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup stagnan atau naik kurang dari satu poin ke level 9.314,70. Sebanyak 336 saham naik, 323 turun, dan 143 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 29,57 triliun, melibatkan 72,93 miliar saham dalam 3,93 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar tercatat mencapai Rp 16.590 triliun.

Sepanjang perdagangan kemarin, IHSG bergerak pada rentang 9.120,15-9.174,47. Indeks sempat terpeleset ke zona merah pada menit-menit awal perdagangan sesi pertama dan kedua.

Berdasarkan data pasar, Bumi Resources (BUMI) menjadi saham yang paling banyak diperdagangkan dengan nilai mencapai Rp 8,56 triliun. Total nilai transaksi BUMI jauh dibandingkan dengan emiten-emiten lain. Saham BUMI yang sempat melonjak di sesi satu berakhir terapresiasi tipis.

Mayoritas sektor perdagangan menguat dengan kenaikan tertinggi dicatatkan oleh sektor barang baku dan properti, sedangkan pelemahan paling dalam dicatatkan oleh sektor energi dan infrastruktur.

Saham Bumi Resources Minerals (BRMS), Merdeka Gold Resources (EMAS), Bukit Uluwatu Villa (BUVA), Jaya Sukses Makmur Sentosa (RISE) dan XL SMART Telecom Sejahtera (EXCL) menjadi penopang kinerja IHSG. Masing-masing, secara berurutan menyumbang 11,87 indeks poin, 10,85 indeks poin, 6,05 indeks poin, 5 indeks poin dan 4,06 indeks poin.

Beralih ke pasar nilai tukar, rupiah lagi-lagi masih loyo di hadapan dolar Amerika Serikat (AS), meskipun pelemahan sudah mulai terbatas dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Merujuk Refinitiv, rupiah berakhir di level Rp16.945/US$ atau terdepresiasi 0,06% pada perdagangan kemarin Selasa. Posisi penutupan ini sekaligus menjadi level terlemah rupiah sepanjang masa.

Di saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) justru terkoreksi cukup dalam. Per pukul 15.00 WIB kemarin, DXY tercatat turun 0,54% ke level 98,846. Artinya, rupiah tetap melemah meski dolar AS sedang berada di zona pelemahan di pasar global.

Pelemahan rupiah terjadi seiring dengan fokus pelaku pasar yang tertuju pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang dijadwalkan mengumumkan hasil kebijakan pada Rabu kemarin (21/1/2026).

Pasar memperkirakan BI akan mengambil langkah hati-hati dengan mempertahankan BI Rate di level 4,75%. Meski inflasi domestik relatif terkendali di kisaran 2,92%, ruang pelonggaran suku bunga dinilai masih terbatas mengingat tekanan eksternal yang masih besar, sekaligus kebutuhan menjaga daya tarik aset berdenominasi rupiah di mata investor asing.

Dari eksternal, pelemahan DXY terjadi setelah Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan ancaman tarif terhadap sejumlah negara Eropa terkait isu Greenland, yang memicu aksi jual pada aset-aset AS.

Sentimen ini menghidupkan kembali fenomena "Sell America", ketika investor melepas saham, obligasi pemerintah AS, serta dolar, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap ketidakpastian kebijakan, memburuknya hubungan aliansi, hingga potensi percepatan tren dedolarisasi.

Namun demikian, pelaku pasar masih bersikap hati-hati menjelang dibukanya kembali pasar AS pasca libur Martin Luther King Jr. Day, serta menanti arah kebijakan moneter The Federal Reserve.

Saat ini, kontrak berjangka Fed funds masih mencerminkan probabilitas sekitar 94,5% bahwa The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan FOMC pekan depan, menurut CME Group FedWatch Tool.

Bersamaan dengan rupiah yang masih melemah, pasar obligasi juga masih menunjukkan tekanan jual.

Melansir Refinitiv, yield obligasi acuan RI untuk tenor 10 tahun (ID10Y) masih mengalami kenaikan pada kemarin sebesar 0,31 poin menuju posisi 6,32%.

Perlu dipahami, kenaikan yield berlawanan arah dengan harga, yang berarti kondisi harga obligasi sedang turun mencerminkan tekanan jual dari investor masih berlanjut.

Read Entire Article
Photo View |