Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan simulasi risiko alias stress test yang telah dilakukan secara detail oleh Kementeiran Keuangan, terkait tekanan harga minyak mentah dunia yang bisa mempengaruhi pelebaran defisit APBN 2026.
Purbaya mengatakan, dari hasil perhitungan saat ini, tekanan harga minyak yang berpotensi memperlebar defisit APBN adalah senilai US$ 92 per barel, dari harga normal yang diperhitungkan dalam APBN sekitar US$ 60 per barel.
"Kita sudah exercise kalau harga minyak setahun rata-rata US$ 92 maka defisitnya 3,6% PDB, itu kita akan lakukan langkah-langkah supaya tidak terjadi di situ," kata Purbaya saat ditemui di kantornya, Jakarta, Jumat (6/2/2026).
"Tapi let say asumsinya naik yang jeleknya itu minyaknya sampai US$ 72 masih aman defisitnya, masih bisa dikendalikan. Terburuk yang US$ 92 tadi," tegas Purbaya.
Meski begitu, Purbaya memastikan, pemerintah sudah berpengalaman dalam menghadapi tekanan harga minyak sampai di atas US$ 100 per barel. Bahkan, saat harga minyak dunia di level US$ 150 per barel, ekonomi RI masih berdaya tahan.
"Kita pernah lewati keadaan harga minyak sampai US$ 150 per barel, jatuh enggak ekonominya? angkanya melamabat tapi enggak jatuh, jadi kita punya pengalaman," tutur Purbaya.
Lagi pula, ia menekankan, saat harga minyak tumbuh tinggi, negara-negara produsen utama tidak akan membiarkan harganya bertahan di level atas sebab tidak ada satupun negara yang mampu membeli, hingga berpotensi menjatuhkan perekonomian global.
"Karena AS sudah bolehkan eksplorasi di Alaska, yang lain-lain juga sama, nanti Venezuela mulai kirim ke pasar akan turun juga, jadi naiknya kenceng sekarang tapi enggak gila-gilaan kan," kata Purbaya.
"Karena kalau harga minyak terlalu tinggi masyarakat dunia enggak bisa bayar, demand melambat, ekonomi melambat, demand minyak turun, harga turun lagi," tegasnya.
(arj/mij)
Addsource on Google

















































